31. The Álvarez

3.6K 345 701
                                        

You're the problem and you can't feel
Trust you is just one defense off a list of others, you don't make sense
Beg me time and time again to take you back now, but you can't win
Yesterday was hell, but today I'm fine without you
Run away this time without you
And all the things you put me through
I'm holding on by letting go of you
🎶 Straightjacket Feeling🎶

—————————————————————

Coba cek lagi chapters sebelumnya, siapa tau ada yang belum di-VOTE.
VOTE dulu sebelum lanjut baca chapter ini, k? Biar fast update, nih.

-🧡💜🧡-

"Ocean?" sapa Ivy begitu membuka pintu dan menemukan Ocean berdiri di teras dengan wajah yang terlihat pucat. "Kamu baik-baik aja?"

Ya, jika tak bisa dibilang kacau, maka penampilan Ocean terlihat tak terurus. Tidak seperti biasanya dimana Ocean rajin berdandan, hari ini Ocean hanya mengenakan flat shoes, jeans, dan oversize hoodie. Tak ada riasan di wajahnya hingga Ivy bisa melihat dengan jelas mata Ocean yang begitu sembab seolah dia sudah menangis sepanjang hari.

Dan tepat seperti dugaan Ivy bahwa ada yang tidak beres, Ocean mengonfirmasinya dengan senyum kecil. Ocean bahkan tak sanggup menyatakan dia baik-baik saja.

"Kak Wifo ada, Kak?" tanya Ocean dengan suara serak.

Ah, kenapa Ivy tak terpikir? Perasaannya jadi tidak enak, terlebih ketika menghubungkan penampilan Ocean hari ini dengan sikap Wifo pada Audrey waktu itu. Ada sesuatu di antara gadis ini dan adiknya.

"Wifo nggak pulang dari beberapa hari kemarin, Ce," jawab Ivy.

Ocean tertegun. Apa yang dilakukan Wifo di luar sana selama Ocean tak ada sampai cowok itu tidak pulang?

Mata Ocean mulai berkaca-kaca ketika bertanya, "Dia... ke mana, Kak?"

"Stay di salah satu condo kita kayaknya."

Ocean menggigit bibir sesaat. "Boleh... minta alamat apartment-nya, Kak?"

Ivy diam sejenak. "Emang tadi Ocean nggak ketemu Wifo di sekolah?"

"Ocean masih demam tadi, Kak. Belum sanggup sekolah. Tapi, Ocean perlu ketemu Kak Wifo, makanya Ocean langsung ke sini," kata Ocean. Ocean pun menggenggam tangan Ivy dengan kedua tangannya. "Boleh, ya, Kak, Ocean temui dia? Please."

"Hmm, bukannya aku nggak mau bantu, Ce. Tapi, nggak enaklah kalo kamu ke sana sendiri. Nggak baik perempuan dan laki-laki berada dalam satu ruangan yang sama," kata Ivy, terlebih melihat bagaimana kacaunya Ocean dan Wifo. Ivy jelas bertanggung-jawab kalau sampai terjadi apa-apa dengan mereka di sana karena Ivy yang memberi izin. Bagaimanapun, Wifo dan Ocean masih remaja.

Kedua tangan Ocean perlahan terlepas dari tangan Ivy dan jatuh lemas di sisi tubuhnya. Dia lupa betapa keluarga Álvarez sangat mengedepankan reputasi. Bisa-bisanya dia selancang itu ingin ke condominium milik keluarga Álvarez, sedangkan selama ini saja dia hanya berani mendatangi kediaman Álvarez jika tak ada orangtua di rumah.

Tak satu pelayan pun berani mengadukan Wifo, sementara Zavy tak ingin orangtuanya memandang buruk Ocean. Ocean yakin itu satu-satunya alasan Zavy membiarkan Ocean menginap di rumah. Tentu tak akan begitu dengan Ivy.

"Ocean bener baik-baik aja?" tanya Ivy cemas melihat bibir Ocean bergetar menahan tangis. "Kamu diapain sama Wifo?"

Setitik air mata jatuh di pipi Ocean.

Guilty PleasureTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang