13. Perfect Boyfriend

5K 442 1.3K
                                        

So, if you think that you're the one, step into my ride
I'm a fine-tuned supersonic speed machine
My engine's ready to explode
Baby, you got the keys
Get you where you wanna go if you know what I mean
🎶 Shut Up and Drive🎶

—————————————————————
Ada yang nungguin? Tinggalin jejak dulu, yuk!

-🖤🖤🖤-

Wifo mengikuti arah pandang Ocean yang melekat pada etalase toko. Paham, Wifo pun menjauhkan ponsel dari telinganya. "Masuk aja," kata Wifo. "Kamu duluan, ntar aku nyusul."

"Siapa?" tanya Ocean sambil menunjuk ponsel Wifo.

"Mom," jawabnya seraya kembali menempelkan ponselnya ke telinga sembari menelengkan kepala sekilas, mengisyaratkan Ocean untuk masuk ke butik selagi Wifo berjalan menjauh.

Yang Ocean harapkan ketika masuk ke toko berkelas tentunya akan disambut oleh pramuniaga, tapi tak satu orang pun menghampirinya hingga Ocean sendirilah yang akhirnya mendatangi pramuniaga.

"Halo, Mbak. Saya bisa lihat fur scarf yang di patung depan?" tanya Ocean.

Nina—si pramuniaga—memandang Ocean dari bawah sampai ke atas. Ocean jelas risih. Dia sudah mengganti seragamnya, tapi kenapa dia masih diperhatikan begini?

Dari lima model seragam sekolah yang berbeda-beda, seragam L'FIS hari ini memang tidak terlalu formal seperti beberapa lainnya yang dipasangkan dengan blazer. Seragam Ocean hari ini cukup hanya dengan kemeja long sleeve putih beserta dasi merah yang motifnya senada dengan rok, kemudian kemeja berkerah itu dilapisi oleh sweter long sleeve hitam dengan bordiran lambang sekolah berwarna emas di sisi kiri atas.

Roknya yang mencolok. Rok pleated mini bermotif plaid yang warnanya sama dengan celana yang dipakai Wifo.

Ocean tidak nyaman mengitari mal dengan seragam semencolok itu, menunjukkan dengan jelas bahwa dia masih anak sekolah dan sejujurnya Ocean tidak terlalu suka tampil sebagai anak remaja, apalagi dengan wajahnya yang kekanak-kanakan dan tubuhnya yang rasa-rasanya tak pernah bertambah tinggi ini. Maka itulah Ocean membawa pakaian ganti.

Kini, seragam Ocean telah berganti dengan crop top yang sedikit menampilkan perut, dipasangkan ripped denim mini skirt yang mempertontonkan pahanya. Socks hitam yang panjangnya melebihi lutut dan boot hitam yang biasa Ocean pakai ke sekolah pun kini telah berganti dengan wedges setinggi 15 cm yang talinya bersilang-silang hingga ke betis.

Dengan penampilan seperti itu, Ocean lebih percaya diri untuk jalan-jalan tanpa dipandang seperti bocah, apalagi dengan gandengannya yang setinggi para model Eropa. Sedikitnya, Ocean terlihat lebih dewasa dari usianya.

Lalu, apa lagi alasan si pramuniaga memandanginya dengan pandangan menilai? Ocean bahkan sudah memakai riasan. Apa dia kira Ocean membolos sekolah?

"Lihat aja dari depan," kata Nina ogah-ogahan seolah tatapannya itu belum cukup buruk.

Ocean mengernyit. "Maksudnya, barangnya langsung yang nggak di patung, Mbak."

"Mau warna apa?" Nina tersenyum enggan. "Itu limited soalnya. Stock nggak banyak."

Ocean nyaris memutar bola mata. Yang ditanya apa, yang dijawab apa. Tapi, meski sedikit jengkel, Ocean tetap mempertahankan sopan santunnya. "Ada warna apa aja, Mbak?"

"Nggak banyak lagi, sih," kata Nina seolah tak berminat menjelaskan lebih lanjut.

Dengan penuh kesabaran, Ocean bertanya, "Yang kayak di patung masih banyak?"

Guilty PleasureTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang