'It's a beautiful lie
It's a perfect denial
Hide behind an empty face
A quiet desperation's building higher
I've got to remember this is just a game
🎶 A Beautiful Lie🎶
—————————————————————
Fyi, Ini cerita udah kelar, tinggal publish aja. Mau cepet UP, aturannya mesti tinggalin VOTE/COMMENT. Deal?
-🖤🖤🖤-
"Nyabu," bisik Frans dengan suara yang dapat dipastikan hanya Wifo bisa mendengar.
"Nggak minat," tolak Wifo to the point. "Gue nggak bakal rusak reputasi gue cuma buat begituan."
Frans tertawa. "Ah, ya, citra dan martabat penting banget buat lo, ya. Paham, paham."
Ya, itu adalah tuntutan keluarga Wifo. Citra keluarga Álvarez memang terkenal bagus di kalangan atas. Ayah Wifo adalah sosok yang dikagumi banyak orang. Dia dikenal atas kecerdasan, kecakapan, bahkan karakternya yang berkharisma yang sering mencuri simpati banyak orang. Dalam kehidupan sosialnya, banyak sekali orang-orang yang meminta saran dan pendapat Richard dalam berbagai hal, mulai dari finansial keluarga sampai masalah rumah tangga sekali pun. Suaranya selalu didengarkan. Tidak terkecuali ibu Wifo.
Audrey juga merupakan sosok yang luar biasa mengagumkan karena rajinnya mengikuti acara amal dan membentuk berbagai yayasan, juga sering menjadi pembicara di berbagai kegiatan sosial. Jadi, jangan heran jika kedua orangtua Wifo terus menekan anak-anaknya untuk menjaga reputasi agar tidak menghancurkan citra orangtua yang telah dibangun susah payah hingga anak-anaknya kecipratan dipandang baik dan dikagumi orang-orang. Semua itu berkat label dan status orangtua.
Wifo sudah ditanamkan tentang itu dari kecil. Tentang bagaimana menjaga reputasi. Karena itu, dia cukup kuat dalam memegang prinsipnya, tak peduli seberapa lelahnya pun dia harus terus melakukan berbagai macam pencitraan untuk keluarga tercintanya itu.
"Kalo gitu, coba ini aja," kata Frans sambil mengeluarkan plastik bening kecil dari dalam saku jacket dan meletakkannya di telapak tangan Wifo. Dia langsung menutupkan telapak tangan Wifo seolah tak ingin orang lain melihat apa yang dia berikan kepada Wifo.
Wifo tak berniat membukanya juga. Wifo sudah bisa merasakan dari bentuknya bahwa yang diberikan Frans ini adalah beberapa pil. Itu membuat Wifo melirik Frans dengan tatapan tajam.
"Tenang, itu nggak keras. Aman pokoknya," kata Frans dan ketika melihat keraguan di wajah Wifo, Frans pun berkata lagi, "Beneran cuma bantu lo tidur aja, Fo. Lo langsung stop besok juga oke."
Karena Wifo masih diam saja, Frans pun mencoba lagi, "Lo cobain itu dulu dan kalo rasanya belum cukup, baru lo pertimbangkan buat yang lainnya."
"Lainnya?" tanya Wifo dengan sebelah alis terangkat.
"Dari psikotropika yang paling ringan sampai yang sejenis kokain, obat bius, atau...." Frans berbisik, "obat perangsang."
Ketika Wifo mendengus, Frans pun nyengir. "Your choice. Lo belum mau coba yang lain juga nggak apa-apa, but at least, yang di tangan lo itu bisa bantu lo tidurlah, Bro." Frans merangkul bahu Wifo. "Lo jelas butuh banget tidur."
Wifo hanya diam. Ya, dia sangat, sangat butuh tidur.
Dan untuk beberapa hari ke depan, Wifo memang akhirnya bisa tidur dengan bantuan pil dari Frans itu, tapi bukan berarti perasaannya menjadi lebih baik. Justru setiap hari dia merasa semakin buruk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Guilty Pleasure
Romance(18+) Wifo Álvarez adalah segala yang Ocean Vásquez impikan dalam hidupnya. Pesona yang tak bisa ditolak. Racun yang menjerat bagai magnet. Bahaya tanpa tanda peringatan di dalam lingkaran setan. Ocean menginginkan cinta Wifo. Sayangnya, bukan cin...
