I'm broken
I'm hurting, but I show no signs
I'm lonely
It's been so long sincе I felt love, smiled, and fеlt strong
I don't understand affection like you do
You say that you'll help me
Tell me I'm worth it, but I don't deserve it
It's easy for you
You know you're perfect
And I need your hand, but I don't want to burn it
I'm begging you to come
And pull me out the fire
'Cause I'm burning up inside
🎶 Broken🎶
—————————————————————
UP next chapter = 10.700 VOTES buat overall chapters + 300 COMMENTS buat chapter ini.
-🧡💜🧡-
Ocean berusaha mengabaikan sarkasme Wifo itu dan memilih cepat-cepat menjelaskan meskipun dengan bahasa yang tak beraturan akibat gugup. Ketika yang didapatinya hanyalah wajah dingin dan tatapan tajam Wifo, terpaksa Ocean mempersiapkan diri untuk mendengar segala macam makian yang akan Wifo lontarkan padanya.
Kepala Ocean sudah tertunduk dan matanya sudah menyipit ketika Wifo rupanya bertanya, "Kapan belajar kelompoknya?"
Hah? Apa Ocean tidak salah dengar?
Pelan-pelan, Ocean mengangkat wajah dan menatap Wifo takut-takut. "Eh?"
Wifo hanya mengangkat sebelah alis, memutuskan itu cukup. Tak perlu diulangi.
"S-sore i-ini, Be. D-di rumah Danish," kata Ocean. "A-aku temenin kamu les dulu. Habis itu... kamu bisa anter aku ke rumah Danish?" tanyanya.
Ketika melihat kerutan di kening Wifo seiring semakin tajamnya sorot mata Wifo, Ocean cepat-cepat menambahkan, "Kamu temenin aja, Be. Ikut masuk, nggak apa-apa, kok."
Tidak menyenangkan memang ada senior yang mengawasi kerja kelompok. Karena itulah setiap ada kerja kelompok, sebisa mungkin Ocean meminta pada teman-temannya untuk belajar di sekolah saja. Di sekolah saja Wifo masih mengawasi dari kejauhan. Tapi, setidaknya rasanya tidak akan secanggung jika di café atau rumah temannya.
Itu pernah terjadi sebelumnya dan suasana mendadak mencekam seperti di kuburan. Bukan saja karena kepribadian dingin Wifo yang membuat Wifo tidak mudah akrab dengan orang-orang selain dari Wifo yang memang agak pemilih dalam bergaul. Fakta bahwa Wifo senior populer juga cukup membuat teman-teman sekelas Ocean segan.
Alhasil, kerja kelompok di rumah yang seharusnya terasa hangat pun menjadi terasa seperti kerja kelompok di kutub utara. Makanya tidak sedikit juga yang malas jika harus satu kelompok dengan Ocean.
Dan kali ini, Ocean belum sempat meminta pada Danish agar mengadakan kerja kelompok di sekolah saja karena dia sudah keburu panik saat Danish menemuinya sendirian. Benar, kan? Nyatanya Wifo sempat memergoki juga.
"Support aja, kenapa?" tanya Wifo malas. "Ambil bagian nge-print atau apalah yang perlu duit. Jadi, nggak usah ikut kerja kelompok."
Ocean meringis. "Nggak ada anak beasiswa di kelompokku, Be. Nggak akan ada yang keberatan soal ngeluarin duit," kata Ocean. "Semuanya mesti ikut kontribusi."
Seringai sinis mewarnai wajah Wifo. Sangat tipis hingga nyaris tak terlihat. "Bilang aja lo emang mau cari kesempatan main ke rumah cowok."
Ini dia. Dimulai lagi.
Ocean menahan napas. "Kamu ikut, Sayang. Kamu bisa liat sendiri aku belajar atau aneh-aneh, nggak, kayak yang kamu pikirin," kata Ocean penuh kesabaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Guilty Pleasure
Romansa(18+) Wifo Álvarez adalah segala yang Ocean Vásquez impikan dalam hidupnya. Pesona yang tak bisa ditolak. Racun yang menjerat bagai magnet. Bahaya tanpa tanda peringatan di dalam lingkaran setan. Ocean menginginkan cinta Wifo. Sayangnya, bukan cin...
