59. Mind Games

3.3K 299 297
                                        

You love how you push me to the point of crazy and I love when you're on your knees and begging for me
You got me good with all these mind games
There you go, you got my heart again
Say my name, I wanna hear you call
Hold me close, I wanna feel your heart
I'm in a cold sweat and I want you bad
Now you got me all in my head, like damn
I'mma show you how to love again
🎶Mind🎶
                                       
—————————————————————

Spam comments di chapter ini dan boomvotes di chapters sebelumnya biar fast update, k?

-🖤🖤🖤-

Ocean mendelik. Tanpa pikir panjang, dia pun langsung menghubungi Wifo. Begitu Wifo mengangkat panggilannya, Ocean terisak.

"Jangan, Sayang," kata Ocean pilu. "Please, jangan lakuin itu," isaknya. "Udahlah, Be. Aku nggak bisa liat kamu sama cewek lain. Aku mending mati aja. Mendingan juga kamu tampar aku aja ketimbang kamu main sama cewek lain."

Wifo tertawa remeh. "Apalagi temen lo sendiri, ya, kan?"

Ocean tak bisa berkata apa-apa. Wifo jelas pandai mencari target. Dia tahu benar mana yang paling menyakiti Ocean. Dia tahu titik kelemahan Ocean.

"Lo nggak butuh temen, Cea," sahut Wifo. "Nggak ada mereka yang bisa diandalkan. Lo sibuk nyari-nyari teman di luar sana, find where you fit in, makin jauh sama gue karena lo seneng main dan bebas di luar sana, tapi pada akhirnya apa?" tanya Wifo. "Mereka pergi, kan? Mereka bahkan nggak bisa dukung lo lagi cuma perkara sepele kayak lo unfoll mereka."

Ocean merasa tersedak. Semenyakitkan apa pun kedengarannya ucapan Wifo itu, tapi benar begitulah kenyataannya.

Ocean ingin bebas, sedangkan Wifo mengekangnya. Cowok itu mengaturnya dengan luar biasa ketat. Pakaiannya, cara bicaranya, bahkan pola makannya. Karena itu, Ocean pikir dia butuh teman-teman yang bisa membuatnya merasa bebas agar hidupnya lebih seimbang antara pergaulan dan percintaan. Namun, nyatanya teman-temannya justru menggiringnya ke hal buruk.

Bersama Wifo, Ocean lebih terjaga. Nilai-nilainya di sekolah membaik karena Wifo sering membantunya belajar. Penampilannya menjadi lebih berkelas. Dia bahkan tak perlu pusing tentang berat badan yang bertambah karena tubuhnya selalu langsing, sehat, dan ideal.

Ocean tidak lagi main bebas di luaran sana, tidak menyusup ke pesta senior bersama Vika, atau diam-diam minum alkohol karena belum cukup umur. Bersama Wifo, tak ada yang berani mengganggunya meski hanya sekadar catcalling seperti yang biasa dia dapatkan sebelum pacaran dengan Wifo.

Dan ya... bukankah memang ini yang Ocean inginkan dulu? Wifo yang lebih perhatian padanya? Lantas kenapa setelah mendapatkannya, Ocean malah jadi merasa terkekang? Ocean yang menuntut terlalu banyak atau Wifo saja yang berlebihan? Apa pun itu, apa itu lantas membenarkan Ocean mencari sedikit ruang untuk dirinya sendiri?

Sepertinya Ocean salah. Ucapan Wifo barusan menyadarkannya. Ocean tidak seharusnya sibuk bergaul dan ingin bebas saat dia sudah mendapatkan segala hal baik ketika bersama Wifo.

Nyatanya, mereka yang dikiranya teman itu mencemoohnya saat dia kalah, menggunjingnya, bahkan mengkhianatinya, bukan? Hanya segelintir teman yang masih bertahan di dekatnya. Itu pun Ocean tak tahu apa benar mereka setia atau mereka hanya bertahan karena sesuatu. Tidak ada jaminan mereka tak akan menjatuhkan Ocean di belakang.

Guilty PleasureTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang