46. Lies Over Lies

4.1K 348 612
                                        

Somethin' happened for the very first time with you
My heart melted to the ground, found somethin' true
Tryin' hard not to hear, but they talk so loud
Their piercing sounds fill my ears, try to fill me with doubt
Yet I know that their goal is to keep me from fallin'
But, nothin's greater than the rush that comes with your embrace and in this world of loneliness, I see your face
Yet everyone around me thinks that I'm goin' crazy
Maybe, but I don't care what they say, I'm in love with you
They try to pull me away, but they don't know the truth
You cut me open and I keep bleedin' love
I'll be wearin' these scars for everyone to see
🎶Bleeding Love🎶

—————————————————————

UP next chapter = 65 VOTES buat chapter ini + 3.830 VOTES buat overall chapters.
Thank you udah tinggalin VOTES di setiap chapters!

-🖤🖤🖤-

Rini dan Lizzy segera bangkit berdiri dan bergeser, memberi Wifo jalan menuju tempat tidur. Ocean sendiri langsung duduk lebih tegak saat melihat Wifo.

"Sayaaaang," kata Ocean merengek dan tepat ketika Wifo berdiri di samping tempat tidurnya, Ocean langsung memeluk pinggang Wifo erat sambil menangis seperti anak kecil.

Rini dan Lizzy saling pandang sebelum bersama-sama menghela napas. Memang benar. Tak ada gunanya bicara dengan orang yang sedang dimabuk cinta. Buang-buang waktu.

Wifo menahan napas sambil menengadah, menolak menatap Ocean. Ingin sekali rasanya dia meremas gadis ini, tapi ternyata dia lebih lemah dari perkiraannya.

"Lo yang bikin salah, mesti gue juga yang nyariin, ya," kata Wifo sambil membelai rambut panjang Ocean.

"Be, bukan gitu," kata Ocean lemah. Dia mengangkat wajah. Matanya tampak merah dan berkaca-kaca ketika menatap Wifo. "Aku beneran demam, Be. Pegang, deh."

Ketika Wifo diam saja, Ocean mulai merengek. "Pegang, Sayaaang. Panas beneran."

Wifo mendengus, tapi akhirnya menyentuh juga kening Ocean yang memang terasa panas. "Udah minum obat?" tanya Wifo.

Ocean menggeleng sambil menyurukkan wajahnya lebih rapat ke tubuh Wifo. Kedua tangannya memeluk pinggang Wifo semakin erat.

"Ocean baru selesai makan, Kak. Baru aja mau dikasih obat," ujar Rini menjelaskan.

Satu tangan Wifo terulur selagi satu tangannya masih membelai rambut Ocean, membuat Rini cepat-cepat meletakkan satu tablet Paracetamol ke tangan Wifo.

Tanpa melepas pelukannya di pinggang Wifo, Ocean menengadah sambil membuka mulutnya. "Aaa," katanya dan Wifo pun meletakkan tablet di lidah gadis itu.

Ketika Wifo kembali mengulurkan tangan, Rini segera memberikan segelas air kepada Wifo.

"Minumnya," kata Wifo, memegangi gelas ketika Ocean menyesap air dari sedotan.

"Katanya cuma nggak enak badan?" tanya Wifo setelah duduk di kursi samping tempat tidur.

"Tadinya iya, tapi habis mandi tuh aku lemes banget, makanya sampe nggak inget nge-chat kamu lagi," ujar Ocean. "Aku nggak ada niatan buat nggak nyelesaiin masalah, Be. Kamu baca, deh, chat aku. Aku udah ngeluh dari jam berapa, tapi aku paksa sekolah buat nemuin kamu. Taunya pingsan."

Agaknya Wifo kurang nyaman mendengar ucapan Ocean, terutama ketika merasakan tatapan yang tengah dihunuskan padanya hingga Wifo menoleh pada tiga pasang mata yang ternyata memang tengah memandanginya dan Ocean. Ketika mendapati tatapan tajam Wifo, barulah tiga orang itu pura-pura bicara, meski sudah pasti diam-diam memasang telinga juga.

Guilty PleasureTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang