Baby, I'm a fighter
Just when you think it may be over
I come back for more and I'm still not through
Please don't push me tonight
'Cause I don't know what I'll do
Are you gonna save yourself when I'm going down?
'Cause when I'm about to blackout, I wanna go another round
Another shot from you is all it takes to drown
But I don't care 'cause I'm used to getting bruised
It's not like I'm trying to suffer
I gotta stay focused
Baby, it's not over
🎶Blackout🎶
—————————————————————
UP next chapter = 55-60 VOTES.
Bisa, dong? 2 chapters sebelumnya juga kalian bisa, ehe.
Thank you buat yang udah apresiasi karya ini dengan meninggalkan jejak!
-🖤🖤🖤-
"Be...." Ocean mulai terisak begitu rasa sesak memenuhi dadanya. "Be, apa, sih, Sayang? Jangan gitu, Sayang," katanya, memohon dengan mata basah.
"Turun."
"Be...," isak Ocean. "Please-lah, Be, aku nggak mau putus dari kamu. Aku sayang banget, Be."
"Gue bilang turun," kata Wifo dingin.
"Sayang...."
"TURUN, ANJING!" bentak Wifo keras. Dia mulai menghantam steering wheel dengan kepalan tangannya. "TURUN LO, SIALAN, TURUN!!!" amuknya penuh amarah.
Wajah Wifo memerah dan ketika Ocean berusaha menyentuhnya, Wifo langsung menghindar. "Jangan pegang gue, Sialan! Lo yang kena nanti," katanya, berusaha mati-matian untuk memukul apa saja selain Ocean.
Untungnya, Ocean langsung menurut dan menjauhkan diri. Tubuh Ocean bisa-bisa remuk jika Wifo memukulnya dalam keadaan Wifo yang semarah ini.
"Turun cepat," kata Wifo dengan suara tertahan dari rahangnya yang mengeras. Matanya menatap Ocean nyalang seakan dia ingin membunuh Ocean, membuat Ocean gemetaran hingga meski tidak mau putus, Ocean cukup pintar untuk turun dulu, setidaknya sampai emosi Wifo mereda.
Wifo masih memukuli steering wheel dan dashboard mobil ketika Ocean akhirnya membuka pintu mobil dan turun. Namun, sebelum menutup pintu, Ocean masih menyempatkan untuk menatap Wifo dengan wajahnya yang basah oleh air mata.
"Be, jangan putusin a...."
Wifo maju dan menarik pintu mobil sebelah Ocean hingga menutup, melenyapkan suara Ocean ke dalam kegelapan malam. Ocean terpejam begitu Wifo sengaja menginjak gas pedal hingga mesin menderu keras di depan Ocean. Ketika mobil itu melesat meninggalkan Ocean, Ocean terjatuh di trotoar dan terisak hebat sampai dia menutupi wajahnya.
Malam semakin dingin, tapi Ocean tidak lagi merasakannya karena seluruh dirinya telah dipenuhi oleh rasa sakit. Sakit dihakimi, dikasari, dimaki, ditinggalkan. Ocean masih terus terisak sampai dia merasakan suara ban berdecit tak jauh darinya.
Begitu Ocean menurunkan tangan dari wajahnya, Ocean mendapati Hummer hitam itu berhenti beberapa meter darinya. Ocean cepat-cepat bangkit berdiri dan menghapus air matanya. Tanpa buang-buang waktu, Ocean segera berlari ke arah mobil itu.
Wifo menurunkan jendela mobil sebelah penumpang, menghadirkan senyuman penuh harap di wajah Ocean. "Jangan tidur malam ini," kata Wifo dingin. "Gue nggak bisa tidur karena tingkah lo. Lo ngerasa bersalah, nggak?"
Ocean mengangguk cepat. "Iya, aku nggak tidur juga, Be, buat nebus kesalahanku." Dia lanjut memastikan, "Tapi, kita balikan, ya, Sayang?"
Seulas senyum tipis yang sebenarnya lebih terkesan seperti seringai sinis tercetak di bibir Wifo. "Masuk rumah," perintah Wifo.
KAMU SEDANG MEMBACA
Guilty Pleasure
Roman d'amour(18+) Wifo Álvarez adalah segala yang Ocean Vásquez impikan dalam hidupnya. Pesona yang tak bisa ditolak. Racun yang menjerat bagai magnet. Bahaya tanpa tanda peringatan di dalam lingkaran setan. Ocean menginginkan cinta Wifo. Sayangnya, bukan cin...
