78. Roses

4.5K 436 1K
                                        

Don't come back, it won't end well
Our love is six feet under
I can't help but wonder
If our grave was watered by the rain
Could roses bloom
Again?
Retrace my lips, erase your touch
It's all too much for me
Blow away like smoke in air
How can you die carelessly?
They're playing our sound, laying us down tonight
And all of these clouds, crying us back to life
But you're cold as a knife
Help, I lost myself again
🎶Six Feet Under🎶
                                       
—————————————————————

Special Edition Update for April Fool's 😈

P.S. :
Play the song for better experience. Ups, siapin tissue!

-🖤🖤🖤-

Jantung Wifo seolah berhenti berdetak. Bisa dia rasakan kepalanya pusing dan pandangannya mengabur ketika matanya tak bisa teralih dari cipratan darah yang mengucur dari tangan Ocean. Kali ini, baunya tidak membuat Wifo terlena. Wifo terlalu shock melihat darah sebanyak itu keluar dari tangan Ocean sampai-sampai Wifo lebih dulu memucat ketimbang Ocean sendiri yang kehilangan darah.

Wajah Wifo seputih tulang. Kengerian memenuhi matanya. Wifo bahkan terlihat linglung ketika mendekati Ocean. "Cea...," bisiknya lemah.

Kelembutan gadis itu hilang ketika dia terbahak keras. Tawanya begitu lepas hingga Wifo nyaris tak mengenali Ocean. Itu jenis tawa yang berasal dari bagian terdalam jiwa. Tawa yang bahkan terdengar mengganggu, terutama karena ini bukanlah situasi yang tepat untuk tertawa.

Sulit untuk mengabaikan sikap asing Ocean itu, tapi Wifo berusaha keras tidak terkecoh meski ucapannya terdengar kacau saat berkata lagi, "Cea, kita... rumah sakit...."

Wifo sudah akan mencapai Ocean ketika Ocean lebih dulu berteriak, "ENGGAK! JANGAN DEKATIN AKU!" yang terpaksa menahan langkah Wifo.

"Cea...," gumam Wifo, tak tahu harus berbuat apa. Bicaranya mendadak memelan. Volume suaranya turun drastis.

Ocean tertawa keras sebelum tawa itu berubah menjadi isak tangis ketika dia memukul dadanya sendiri. "UDAH, WIFO, UDAH! BERHENTI, AKU MOHON. INI SAKIT BANGET!" jeritnya histeris. "KAMU HANCURIN AKU BANGET! SAKITNYA KELEWATAN, KAMU TAU? AKU NGGAK TAHAN LAGI. TOLONG, UDAHIN!!! SAMPE SINI AJA NYAKITINNYA!"

Ocean mencengkeram bajunya tepat di bagian dada. Dia remas kuat bajunya. "Di sini... sakit," rintihnya. "Sesakit itu," ucapnya mendadak merasa sesak. Suaranya seolah tersedak ketika melanjutkan, "Aku... secinta itu sama kamu, tapi kamu giniin aku banget. Jahat banget, ya, Tuhan. Wifo jahat banget." Ocean menengadah, mengadu pada yang di Atas.

Wifo diam seribu bahasa. Rahangnya mengeras. Berbagai macam emosi yang tak bisa dia kenali berkelebat dalam dirinya.

Di dalam sana, terjadi peperangan. Di dalam sana, begitu kacau dan berisik sampai rasanya Wifo tidak tahu lagi cara menghadapinya. Wifo hanya bisa meracau, "Cea..., kamu berdarah. I need... you... hospital."

"PEDULI SETAN!" bentak Ocean kalut. "KAMU MAU AKU BEGINI! SO, LOOK AT ME!" teriak Ocean sambil merentangkan kedua tangan, memberi akses bagi darah dari lukanya hingga jatuh berceceran ke tanah. "YOU LOVE TO WATCH ME BLEED, RIGHT? JADI, PUASIN LIAT INI! DON'T YOU WANT ME DEAD?"

Wifo menggeleng pelan dengan rahang mengatup kuat, berusaha menahan emosinya.

"No?" Ocean terbahak lagi. "You have tried to kill me over and over again, yet I'm not dead. You want me dead. You just don't want to pull the trigger." Dia maju selangkah pada Wifo. "But because I love you too much, I'll make it easy for you."

Guilty PleasureTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang