Break all your promises
Tear down this steadfast wall
Restraints are useless here
Nothing hurts my world, just affects the ones around me
When sin's deep in my blood, you'll be the one to fall
I wish I could be the one who won't care at all
Confided in me was your heart
I know it's hurting you, but it's killing me
🎶Unholy Confessions🎶
—————————————————————
40 VOTES, baru aku UP lagi. Deal?
-🖤🖤🖤-
"Fo," panggil semua teman Wifo.
"Oh, come on, Bro!" sambung Reno.
"Man, ayolah!" ajak Bobby.
Nihil. Tak satu pun panggilan mereka Wifo tanggapi. Kepala Wifo terasa berdenyut menahan emosinya yang membara ketika dia berjalan cepat ke mobilnya.
Wifo menghidupkan mesin mobil. Unholy Confessions milik Avenged Sevenfold terputar di audio mobil. Wifo mengeraskan volume hingga cukup kuat untuk menggetarkan gendang telinga dan meredamkan berbagai macam suara di luar mobil.
Begitulah Wifo kemudian berteriak sekeras-kerasnya. Lepas sudah. Apa yang berusaha dia tahan selama beberapa minggu ini.
Dengan tangan gemetaran akibat amarah yang membludak, Wifo ketik semua makian di room chat Ocean, tapi begitu akan menekan send, lagi-lagi Wifo membatalkan niatnya.
Tidak bisa. Tidak bisa Wifo memaki Ocean tanpa menunjukkan dia memperhatikan Ocean. Ocean tidak boleh diperlakukan setinggi itu setelah apa yang dia perbuat. Jadi, Wifo menghapus pesan dan melemparkan ponsel ke bangku sebelahnya.
Wifo menengadah. Dia masih berusaha menenangkan jiwanya di tengah dentuman lagu, tapi ketika dia mendengar sang vokalis melantunkan lirik, "I know it's hurting you, but it's killing me," Wifo tak lagi mampu menahannya.
Segala emosi tumpah ketika Wifo menjatuhkan dahinya di kedua tangannya yang terlipat di atas steer mobil, menutupi wajahnya seiring setetes air mata jatuh ke pipinya. Hanya setetes, tapi untuk itu, Wifo memaki dirinya sendiri karena telah menangis.
Menangis. Sesuatu yang sudah lama sekali tak pernah Wifo lakukan lagi karena seseorang selalu berkata padanya bahwa lelaki tidak boleh menangis. Jadi, alih-alih merasa lebih baik, Wifo justru merasa luar biasa kacau karena telah menangis. Sesuatu yang tidak semestinya dia lakukan. Lalu, begitu saja, semua penghakiman yang pernah terlontar dan diterima otaknya semasa kecil mulai menyerbu pikirannya.
"Lemah! Begitu saja nangis! Laki-laki macam apa kamu? What a pathetic loser! Cengeng! Pengecut! Jangan biarkan perasaan mengendalikanmu! Pakai logikamu! Nangis itu memalukan! Seperti perempuan saja!"
Kepala Wifo pusing bukan main hingga dia mulai memukuli kepalanya, berharap bisa meredam semua ucapan itu ke bagian terdalam dirinya. Wifo tidak berhasil. Tidak sama sekali hingga begitu tiba di rumah, Wifo langsung melemparkan tas ke sofa dan menaiki tangga.
Wifo membuka pintu kaca yang membawanya ke private gym. Wifo menanggalkan long sleeves sweater hitam yang merupakan seragamnya hari itu dan mencampakkan sweater itu ke sofa, meninggalkan kemeja putih lengan panjang di tubuhnya.
Wifo menyetel musik rock dengan volume keras yang semakin membakar emosinya, lalu berjalan ke tengah ruangan sambil melonggarkan dasi dan menggulung lengan kemejanya sampai ke siku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Guilty Pleasure
Romance(18+) Wifo Álvarez adalah segala yang Ocean Vásquez impikan dalam hidupnya. Pesona yang tak bisa ditolak. Racun yang menjerat bagai magnet. Bahaya tanpa tanda peringatan di dalam lingkaran setan. Ocean menginginkan cinta Wifo. Sayangnya, bukan cin...
