Before I say another word
Just know that my intentions were pure
But, you can't stand to be in silence
All you can hear is your own voice, fueling delusion in you
And I'm just so sick of backing down that I might just spill it all
And if I do, you won't be coming back without a deep scar in your soul
Are you not sick of playing games, sick of giving blame?
My mind is torn
But, you just keep moving towards me
Why hide the truth?
It's too late, too late
I feel nothing for you
🎶Feel Nothing🎶
—————————————————————
Aturan UP next chapter masih sama dengan minggu lalu. Cek lagi siapa tau ada chapter yang kelupaan di-VOTE, k?
-🖤🖤🖤-
"Ini buat kamu, Be," kata Ocean seraya menyodorkan sebuah kantong begitu mereka duduk di dalam mobil.
Sedikit pun Wifo tidak melirik kantong itu. Penasaran pun Wifo tidak.
Ocean mencoba lagi dengan berkata, "Aku bikinin salmon caviche. Aku sengaja belajar masak ini dan eksperimen berkali-kali untuk dapatin rasa yang pas sesuai selera kamu."
Wifo diam saja. Bahkan beberapa menit telah berlalu tanpa Wifo berniat sedikit pun mengambil bekal itu hingga pelan-pelan, Ocean menurunkan kantong dan meletakkannya di paha. Ocean menunduk dengan jemari yang saling terkait di atas kantong bekal. Sesekali dia meremas tangannya yang basah oleh keringat.
"Ini udah seminggu," kata Ocean pelan.
"Why not make it forever?" tanya Wifo dingin.
Ocean mengangkat wajah dan menatap Wifo sendu. "Jangan gitu, Be," lirihnya. "Maafin aku. Tapi, aku bener-bener nggak tau harus gimana. Aku udah berusaha semampuku buat ngabarin kamu terus, tapi keadaan nggak memungkinkan," tuturnya.
Ketika Wifo masih bergeming dengan tatapan terus menyorot ke depan kaca mobil, Ocean menjelaskan lagi, "Dan soal profil picture itu pun aku nggak ngira kamu bakal semarah itu. Kamu juga hapus profil picture kita. Jadi, aku pikir kamu emang serius mau putus. Aku frustrasi sampe...."
"Lo bisa nggak usah banyak alasan?" sela Wifo. Matanya seketika menatap tajam Ocean, membuat Ocean perlahan menunduk.
Wifo mendengus seraya kembali memandang ke depan. "Kalo salah, ya, salah aja. Nggak usah lo cari-cari alasan pembenar."
"Maaf, Sayang."
Wifo diam sejenak sebelum melirik Ocean dengan mata sedikit menyipit. "Lo tau apa kesalahan lo?" tanya Wifo dan ketika Ocean mengangguk, Wifo berkata, "Coba sebutin."
Ocean menarik napas panjang. "Aku nggak ngabarin kamu. Tapi, itu juga karena...."
"Nggak usah pake alasan, Sialan!" bentak Wifo yang seketika membungkam Ocean. Ocean sampai melipat bibirnya demi menahan rasa sesak mendengar Wifo memakinya. Dia sudah kenyang oleh makian Wifo lewat chat, tapi ternyata itu belum apa-apa dibandingkan dengan makian Wifo langsung di depan wajahnya seperti sekarang. Rasanya sakit sekali.
"Sebutin aja intinya! Lo paham, nggak?" Wifo mengetuk kening Ocean dengan telunjuknya. "Otak lo ini, lo isi sama sesuatu yang berguna. Yang bener! Bukan laki-laki aja yang lo pikirin sampe nggak sadar gue bilang gue nggak mau denger alasan!"
Ocean menggigit bibir bagian dalamnya ketika kepalanya sedikit terguncang saat Wifo melepaskannya, berusaha keras meredam rasa sakit di hatinya, juga luka pada harga dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Guilty Pleasure
Romance(18+) Wifo Álvarez adalah segala yang Ocean Vásquez impikan dalam hidupnya. Pesona yang tak bisa ditolak. Racun yang menjerat bagai magnet. Bahaya tanpa tanda peringatan di dalam lingkaran setan. Ocean menginginkan cinta Wifo. Sayangnya, bukan cin...
