🎶Drawbar🎶
—————————————————————
UP next chapter = 70 VOTES buat chapter ini + 5.000 VOTES buat overall chapters.
Boleh bantu tandain kalau ada typo, ya. Boleh kasih kritik & saran juga. Thank you!
-🖤🖤🖤-
Tak butuh waktu lama untuk Ocean menceritakan kronologis kejadian. Awalnya Ocean sempat mengira Riana hanya sakit. Berhubung Ocean jauh dari rumah dan ayahnya tak kunjung mengangkat panggilan, Ocean pun meminta tetangganya untuk memeriksa keadaan Riana.
"Tante Efi bilang mama emang keliatan pucat, tapi anehnya, mama nolak pas tante Efi mau jagain mama sampe aku pulang. Mama bilang mau istirahat sendiri aja," tutur Ocean.
Ya, seharusnya keterangan itu cukup, kalau saja Ocean kurang mengenal ibunya. Riana memang mandiri, tapi bukan berarti akan bersikeras bertahan sendiri saat sedang sakit. Riana tak akan sampai menelepon Ocean jika tak butuh bantuan dalam keadaan darurat, apalagi Riana bukan tipe ibu yang mau merepotkan anak.
Juga, bagaimana mungkin Riana sanggup bangkit dari tempatnya untuk bicara dengan Efi jika Riana bahkan sampai menjerit-jerit di telepon? Belum lagi jeritan Riana yang terdengar mengerikan seolah Riana sedang ketakutan, bukannya sedang sakit. Itu mencurigakan sampai akhirnya Ocean mencoba mengingat-ingat apa yang dia lewatkan.
"Ocean, there's someone.... AAAAAAAKKKHHHH!!!"
Itu dia. Someone. Riana tidak sakit. Ada maling, penyusup, atau seseorang yang membobol rumah.
"Dan bener, Be. Pas aku sampe rumah tuh hawanya udah nggak enak aja. Semua lampu mati, padahal mama selalu hidupin semua lampu kalo udah malem. Pintu rumah juga nggak dikunci, sementara kalo menurut tante Efi, ya, pas mereka bicara aja itu pintu rumah dikait rantai dan mereka cuma bicara lewat celah kecil pintu," tutur Ocean.
"Lebih aneh lagi waktu aku dan mbak Katie masuk," lanjut Ocean. "Satu rumah dipenuhin musik dari radio yang volume-nya keras banget sampe rasanya ngeganggu. Dan kamu tau? Station yang diputar itu station musik klasik. Classical orchestra gitu, Be! Itu bukan jenis musik yang mama suka atau biasa dengerin, lho."
Wifo menekuk bibir di satu sisi, tampak berpikir mendengar penuturan Ocean itu.
"Trus, kan, mbak Katie nyalain lampu ruang tamu. Aku liat ada vas pecah. Ya, aku makin yakin ajalah emang ada yang nggak beres. Aku udah mau hubungin polisi kalo nggak setelah musik dimatiin, aku denger teriakan dari kamar mandi dapur. Kunci kamar mandinya kegantung di pintu. Baru, deh, aku sadar mama dikurung di kamar mandi," kata Ocean dengan wajah sedih.
"Maling?" tanya Wifo.
"Nggak tau, Be, belum sempat ngecek. Soalnya, pas aku nemuin mama tuh mama udah histeris dan ketakutan banget. Mama langsung minta dibawa ke luar. Jadi, ya, aku sama mbak Katie temenin mama di luar sampe tante Efi dan suaminya nyamperin kita. Suaminya bantu ngecek bentar ke sekeliling rumah karena dia juga buru-buru mau antar bayinya vaksin. Nggak nemu orangnya. Bahkan, nggak ada jendela yang pecah. Nggak tau, deh, orangnya kabur dari mana. Tapi, mama masih parno. Sampe nggak mau masuk rumah malah."
Ketika Wifo kembali memandang ke arah teras, Ocean menggenggam tangan Wifo dengan kedua tangannya. "Mama kasian banget, deh, Sayang. Aku nggak tega liatnya ketakutan dan aku nggak bisa nenangin," kata Ocean sedih. "Kita liat mama, yuk?" ajaknya penuh harap.
KAMU SEDANG MEMBACA
Guilty Pleasure
Storie d'amore(18+) Wifo Álvarez adalah segala yang Ocean Vásquez impikan dalam hidupnya. Pesona yang tak bisa ditolak. Racun yang menjerat bagai magnet. Bahaya tanpa tanda peringatan di dalam lingkaran setan. Ocean menginginkan cinta Wifo. Sayangnya, bukan cin...
