[Telah diterbitkan]
Sepuluh tahun yang lalu, tepat saat Ethan pergi berlayar. Meninggalkan harta karun berharganya, Sang Adik. Ia membuat janji, bersumpah ia akan kembali. Sayang sekali, janji tersebut hanya omong kosong semata. Ethan tak pernah kem...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Double update demi ayang <3
...
Pelabuhan di siang hari itu nampak memanas, tapi sayangnya udara di sekitarnya malah membuat tubuh merinding.
Laksamana angkatan laut baru saja sampai di Romani, beberapa dari mereka datang untuk menyaksikan penobatan raja baru Romani sebagai bentuk formalitas. Acaranya di mulai besok, tentu saja ia harus hadir lebih awal sebagai antisipasi.
"Para bajak laut itu pasti akan datang, banyak dari mereka yang mengetahui isi dari acara itu."
Memang sebagai laksamana dia tegas dan keras dalam mengiring pasukannya, tapi pusat mengirim laksamana yang mengenakan pakaian terbuka ini sebagai perwakilan. Iya, dia adalah seorang wanita. Ambisinya melempar semua penjahat ke dalam sel penjara tidak akan pernah pupus.
Dia menghidupkan rokoknya, "Hah, katanya cuaca Romani belum masuk musim dingin. Makanya aku tidak membawa pakaian tebal. Kenapa tiba-tiba suhunya menjadi rendah?"
"Lapor, Laksamana! Militer Romani bilang ada Jake si bandit yang katanya masih belum tertangkap, kini tengah berkeliaran di sana!"
"Ah, anak nakal itu. Sudah kudengar beberapa kali, tapi namanya belum saja hilang." Wanita berkulit sawo matang itu menyesap batang rokok lalu menghembuskan nikotin beracun itu ke udara. "Kalian bantu saja biar lebih cepat tertangkap," kemudian putung rokok itu dimatikan dan dibuang ke tempat sampah, laksamana itu menatap lurus. "Sementara aku akan mencari tahu dari mana datangnya salju ini."
Hawa yang berada di sekeliling tiga orang itu berubah, lalu tanpa disadari kaki mereka melekat pada kayu dermaga. Jembatan yang mereka pijak menjadi putih dengan serpihan es di bawahnya, tentu saja merambat dari telapak kaki North.
"A-apa ini?!"
Hembusan dingin dari napas North menerpa wajahnya, butiran halus mengitari tangannya. Sebenarnya dia memang tengah menyamar, itu berarti rencana Arienne berhasil. Tapi North tidak menerima perkataan kotor itu keluar dari mulut orang-orang rendah ini. Kasim katanya?
North menatap dingin. Orang itu merasa terintimidasi, sadar laki-laki di hadapannya bukanlah lelaki biasa, mereka berseru panik. Mencoba kabur dari jangkauan North.
Ombak bergelombang, sebelum menghantam North, ombak itu menjadi es.
"Hah! Dia bukan manusia, cepat lari!"
Baru saja orang-orang itu akan berlari, salah satu dari mereka ambruk. Balok sekecil jarum itu berhasil menembus jantungnya dengan mudah. Ayss yang melihatnya melemaskan telinganya, ekornya bergerak tidak nyaman. "Auw..."