Guyuran hujan mendarati kolam, membuat airnya seolah menari berlompatan. Paradikta masih duduk memerhatikan setiap tetes-tetes air yang deras berluruhan dari atas salah satu sofa living room yang langsung menghadap pool selepas sejam lalu dengan susah payah—sebab, Naga terus meronta-ronta menangis, berteriak-teriak bahwa dia hanya mau tidur kalau yang menemani Bunda—dia berhasil mengantarkan Naga ke kamar tidur.
Lalu, bicara soal Bunda yang terus Naga cari-cari ....
Hujan yang singgah malam ini bukanlah musim favorit Saniya.
Dia bukan tipikal wanita yang mudah mengeluh. Paradikta bahkan masih ingat saat Saniya menumpahkan wine ke kemeja prestisius milik Eyang di pertemuan pertama mereka. Di mana ketika itu untuk pertama kalinya Paradikta berkesempatan melihat Eyang yang kesal tidak bisa marah—dari satu sampai sepuluh, bagi Eyang nilai manner-nya mungkin ada di titik minus, kendati begitu Saniya tetaplah cucu menantu idamannya karena dia terlahir sebagai anak Politisi nge-top negeri ini. Tak heran, Eyang malah hanya senyum-senyum asimetris sewaktu Saniya meminta maaf sambil cengangas-cengenges.
Namun, betapa pun wanita itu tampak pemberiani Saniya langsung berubah ciut tiap kali muncul petir. Dia tidak pernah nyaman tidur di tengah gemuruh guntur yang seolah siap memecah-mecah bumi dan seisinya. Oleh sebab itu, tak jarang dia protes jika kebetulan sedang hujan, tetapi Paradikta ada di tempat yang jauh darinya.
Mungkin begitu pula lah saat ini. Dia mungkin sedang dilanda ketakutan hebat. Terkubur sendirian di tengah hujan besar yang petirnya mengampar-ngampar ini.
Kalau pun memang harus sekali pergi, kenapa dia tidak pergi di musim yang terang? Saat di langit bertaburan bintang-bintang. Saniya ... tentu tak akan terlalu ... menderita.
"Kok masih di sini? Tidak langsung istirahat saja bareng Naga?"
Paradikta tidak butuh repot-repot menoleh. Selain dia dan Naga, beberapa hari belakangan khususnya setelah dia sempat tidak pulang-pulang, ayahnya memang semakin sering menginap. Tak akan mengherankan jika dia berkeliaran di seantero rumah. Lalu, mendadak dapat muncul di sini dan di sana. Toh, tujuannya tinggal selain untuk Naga, tentulah demi memonitor Paradikta.
"Apa istirahat bakal ngebuat semuanya lebih baik?" sahut Paradikta dalam semi gumaman sembari tetap bergeming walau barusan dia jelas-jelas merasakan ada satu selimut yang direntangkan guna menyampir di bahunya.
"Setidaknya kalau tubuh kamu fit, pikiran kamu juga bisa lebih rasional," tegas Damaja.
"Buat apa punya pikiran rasional?" timpal Paradikta gamang.
"Radi, tolong? Kamu tidak perlu dengar apa kata Tante Awi. Dia itu ngaco. Hidup kamu, kamu yang jalani. Tidak ada urusannya sama orang lain terlebih Tante Awi."
"Tapi, Tante Awi ada benarnya loh, Pa." Paradikta mengela hingga dadanya super-membusung lalu mengempis ekstrim seolah dia sudah sangatlah lelah. "Kalau besok Eyang balik juga akan sama aja kok perintahnya," lanjutnya kaku.
"Urusannya dengan Eyang apa? Kamu bukan lagi Paradikta yang dulu."
"Apa bedanya aku yang dulu dan sekarang? Bukannya sama aja? Aku sama-sama nggak lagi punya Saniya."
"Radi ... Papa tahu—"
"Nggak." Paradikta menggelengkan lemah kepalanya tanpa sedikit pun mau mengalihkan matanya dari kolam bak di sana terlukis wajah Saniya yang telah amat dia rindu. "Papa nggak tahu," lirihnya menderita. "Lagipula, selagi aku masih hidup pakai nama ini sekaligus uang Papa. Uangnya Eyang. Di mana letak perbedaannya? Boneka wajar diciptakan untuk dipermainkan Tuannya."
"Radi!!"
Kali ini akhirnya Paradikta menoleh. Melihat sosok ayahnya—pria yang memiliki cetak wajah sempurna menyerupai dirinya dalam versi yang lebih dewasa, kendati telah memasuki usia pertengahan 50-an, Damaja bahkan tak tampak drastis menua, tubuhnya masih bugar, hanya kulit-kulit di sekitaran mata serta dahinya yang mulai mengerut—yang sejak Mamanya dulu meninggal tak menikah lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jangan Ada Air Mata
General FictionPrisha nyaris menghabiskan dua windu hidupnya untuk mencintai seorang saja pria. Terjabak friendzone sedari remaja, Prisha tidak pernah menyangka jika patah hatinya gara-gara Paradikta menikah dapat membuatnya hampir mati konyol. Dia baru saja bebas...
