Daging Buruan.

9.7K 937 64
                                        

Mobil yang dikendarai Paradikta sudah pergi dari hampir satu jam lalu. Tak seperti biasanya di mana dia hanya pergi buru-buru saat sedang dikejar deadline meeting, pagi ini pria itu memutuskan berangkat lebih awal karena mau sekaligus untuk mengantar Naga ke Preschool.

Tumben? Banget!

Tapi, Prisha senang sih terhadap banyaknya kemajuan yang tercipta dalam hubungan Papa dan anak itu sehingga dia tadi sengaja menolak buat ikut bergabung dan hanya menitip pada Nur Ami guna menjaga Naga, ya hitung-hitung supaya Paradikta makin punya banyak waktu berduaan juga bareng sang putra. Well, disamping untuk alasan lainnya pula sih akhirnya Prisha memilih untuk tetap tinggal di rumah.

Alasan yang sebetulnya sempat ingin dia bagikan kepada Paradikta. Namun, melihat betapa mood pria itu pagi ini sangat bagus, mendengar kabar tentang Gustiraja sekaligus intensinya untuk menemui Prisha pastilah akan membuat dia berubah dalam seketika, dan sekali lagi Prisha jelas tak ingin mengecewakan Naga yang jarang-jarang mendapati sisi hangat Papanya.

Duduk sambil mematut dirinya di cermin rias dalam kamar yang padahal saat Prisha baru datang masih banyak perlengkapan make up highend milik Saniya berikut barang-barangnya tertinggal di sana, yang bertahan hingga berminggu-minggu berikutnya sampai dia tak sadar kapan tepatnya meja itu kosong, dan siapa yang mengsongkannya kira-kira saat Paradikta bahkan begitu membatasi akses orang lain ke kamar ini?

Ah, entahlah.

Sekali lagi mengamati kondisi wajah sampai lehernya yang sejujurnya Prisha cukup takut bahwa akan ada hal-hal aneh tampak di sana setelah semalam Prisha merasakan Paradikta sangat lama bermain-main di bahunya. Uh, demi Tuhan, Prisha tak ingin mengingatnya! Bagaimana bisa coba dia dengan sadar membiarkan pria itu bebas menyentuhnya di sana-sini? Oke, mereka memang suami-istri. Oke, Prisha sudah setuju untuk melahirkan anaknya demi ibu. Namun ....

"Ah." Lagi, Prisha mendesah. Dan, syukurnya tak ada tanda-tanda separah yang Prisha cemaskan tertinggal di bagian-bagian terluar tubuhnya. Oh, ayolah, Prisha mungkin belum pernah menjalin suatu hubungan romantis seumur hidupnya, tapi dia tetap wanita dewasa yang tidaklah puritan. Dia tahu lah kalau Paradikta menggigit lehernya pastilah besar kemungkinan itu bisa meninggalkan bekas!

Prisha kembali menghela napasnya berat, sembari tetap mengoles tipis-tipis concealer pada ujung bawah dagunya yang samar-samar memuat noda memerah—jangan bilang Paradikta juga menggigitnya di sana, saking seringnya pria itu memindahkan bibirnya Prisha bahkan tidak bisa lagi menghitung di mana saja sebetulnya Paradikta menjamahi kulitnya—saat pintu kamar terdengar diketuk. Segera berjalan untuk membukanya ada Mbok yang sedang berdiri rikuh sambil lantas melapor melalui intonasi bicara yang kelewat hati-hati, "Ibu di depan ada Asistennya Pak Raden."

Pak Raden yang dimaksudkannya tentulah hanya Raden Mas Gustiraja. Di antara Damaja maupun Paradikta ya memang cuma Eyang lah yang dipanggil dengan nama depannya. Entah untuk alasan khusus apa. Kemudian, Asistennya yang dibilang Mbok jelas adalah yang tadi sempat mengirimkan satu pesan pada Prisha.

Prisha masih menyempatkan diri buat masuk kembali ke kamar demi mencangklong sling bag berisi ponsel dan dompetnya yang ia raih dari nakas meja rias, sebelum menyusul langkah Mbok yang sudah terlebih dulu beranjak untuk menghampiri sang tamu di ruang depan.

Dan, ya di sana tepat di samping satu pot berisi pohon sakura artificial sudah berdiri tegap—tak seala militer Asisten Paradikta sih memang yang beberapa kali pernah Prisha lihat berkunjung untuk laporan ke rumah—sesosok laki-laki yang mungkin hanya beberapa tahun saja lebih tua dari Paradikta. Mengenakan selembar kemeja hitam dan tampak rapi, orang berkepala pelotos itu lalu memperkenalkan dirinya sebagai Sutha.

Mereka tak banyak berbasa-basi. Setelah pamit pada Mbok yang tanpa Prisha jelaskan pun agaknya tahu ke mana tujuan Prisha pergi. Prisha hanya mengatakan akan kembali sebelum Naga pulang. Ya, semoga.

Jangan Ada Air MataCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang