Baik-Baik Saja.

6.4K 684 56
                                        

Prisha mengerutkan dahinya setelah deru mesin mobil yang Paradikta sopiri selama nyaris lebih dari tiga puluh menit akhirnya berhenti tepat di sebidang lahan parkir depan store yang selama ini bisa dibilang selalu menjadi satu-satunya tujuan utama setiap kali dia singgah ke Jakarta.

Melihat Paradikta lekas membuka seat belt-nya, Prisha yang masih mengingat dengan jelas kata-kata sesumbar pria itu soal menyelamatkannya, atau apa lah itu sebelum mereka berangkat pun tak bisa menahan mulutnya untuk bertanya, "Kenapa ke sini?"

Tanpa membalas pandangannya pria itu cepat tanggap menjawab, "Ada yang mau saya temui. Dan, mungkin dia mau ketemu kamu juga?"

Enteng saja mendorong pintu di sisinya lalu keluar, Paradikta terang tak ada intensi untuk memberi tahu langsung mengenai siapa sebenarnya orang yang dia maksudkan.

Tahu bahwa dia tak akan dapatkan apa-apa jika hanya berdiam di kursinya, maka kendati langkahnya berat toh Prisha tetap beranjak demi mengikuti jejak Paradikta.

Kemudian, ketika pintu baru dibuka dari arah satu bangunan yang didominasi oleh dinding-dinding kaca di mana setiap hari tiada henti menebarkan semerbak aroma wangi yang menyegarkan, Mona yang siang ini mengenakan dress kuning bunga-bunga sontak menghambur ke pelukannya dan membuat Prisha yang telat bersiap kontan nyaris terdorong ke belakang.

"Astagaaa, susah banget sih ketemu udah kayak pengen ketemu sama bini Presiden aja! Eh, tapi emang bener sih ya calon Presiden Direktur Cévo kan?" Prisha yang kedua tangannya menggantung di sisi tubuh dapat menangkap Mona yang semula berbisik langsung terkekeh riang.

Well, mereka memang belum pernah ketemu sejak Prisha membenarkan kabar yang Mona dengar bahwa dia sudah menikah dengan Paradikta. Kapan hari Prisha sempat mampir ke La-Mona, cuma Monanya nggak ada.

"Lo sehat kan?" Pelukan itu terurai, serta bikin Prisha sadar bahwa mereka hanya tinggal berdua di halaman. Sementara Paradikta agaknya diam-diam masuk duluan.

"Eh, tahu nggak sih pas lo mampir ke sini kemarin Si Jes langsung deh tuh ngegelar lapak buat ribut gosip sana-sini, mana sambil ngecengcengin gue pula gegara kita nggak bisa ketemu." Mona tampak mencebikan bibirnya yang dipoles gincu oranye sejenak. "Katanya, hadu hadu ntar kalau Mbak Prishnya mendadak diboyong pindah ke luar negeri Mbak Mon nggak bisa ketemu lagi loh. Sungguh kasihan. Terus, ntar Mbak Prish nggak berkebun lagi deh apalagi kalau udah sibuk punya anak. Alamat Mbak Mon nggak bisa dapat mawar-mawar segar lagi. Sungguh double kasihan!" Dia meniru cara bicara Jesika.

"Dih dih dih! Bisa aja bacotnya! Terus, tadi dia juga ada ngomong katanya, lo sama Mas Radi mau datang. Suka heran gue kok dia nih selalu lebih dulu tahu semua hal dari gue yah?" Mona bergeleng-geleng kepala seolah miris, tapi Prisha tahu kok bahwa betapa pun menjengkelkannya terkadang Jesika di matanya, Mona selalu menyayangi semua mitra kerjanya. "Oh iya, kapan hari juga Mang Asep cerita kalau ladang bunga lo keserang hama. Makanya, nggak bisa kirim pasokan kan. Sekarang udah aman?" Dari matanya Prisha melihat kecemasan. Bukan sekadar sebab musibah itu bikin La-Mona praktis juga kesulitan, tetapi juga Prisha bisa merasa kepedulian Mona. Bagaimana pun Mona juga tahu bahwa Prisha menggantungkan hidupnya pada ladang mawar itu.

Prisha pun sontak mengangguk. Melalui info yang terakhir dia peroleh sebetulnya beberapa minggu ke depan mereka bisa kirim bunga potong lagi ke tempat Mona. Hanya saja karena beberapa masalah pribadi menyita perhatiannya belakangan dia jadi belum sempat berdiskusi lebih lanjut dengan Mona. Setelah ini dia pastikan untuk memberi laporan secara rinci pada rekan kerja tersetianya ini.

"Eh, ya udah. Yuk, masuk dulu? Di dalam udah ada yang nungguin lo tahu."

Tunggu, jadi orangnya bukan Mona? Maksudnya orang yang Paradikta bicarakan. Namun, kalau mau dipikir lagi ya memang ada perlu apa coba Paradikta butuh bertemu sama Mona kan? Mereka mungkin bahkan tidaklah terlalu kenal secara pribadi. Cuma, jika memang bukan Mona, kenapa mereka harus bertemu di La-Mona?

Jangan Ada Air MataCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang