Menyelamatkanmu, Katanya.

7.5K 732 47
                                        

"Sibuk?"

Okay, tentu bukan suatu hal yang langka layaknya keajaiban dunia kok bagi Prisha mendapati telepon masuk dari Paradikta. Hanya saja Paradikta ini biasanya menghubungi ya demi Naga, dan jarang sekali terjadi di tengah jam kerjanya.

Oh, jelas, Prisha bahkan nggak ingat pernah kah di satu bulan ini Paradikta meneleponnya duluan tanpa tendensi buat menanyakan soal Naga?

Lagi pula, di luar debat berisi selisih paham, salah-menyalahkan—tentu kebanyakan Paradikta sih yang menganggap Prisha bersalah dalam banyak hal buruk yang melanda hidupnya—mereka nyaris nggak pernah mengobrol dengan normal kan?

Terus, apa katanya barusan? Sibuk?

Cih, bukannya pria itu tahu pasti kalau aktivitas Prisha sehari-hari ya cuma nungguin Naga atau dirinya pulang kan? Apalagi memang yang tersisa untuk Prisha lakukan?

Perempuan itu nyaris tidak punya kenalan. Bantuannya di dapur pun selalu ditampikan. Mau berkebun di halaman pun sudah ada yang mengerjakan. Lalu, Prisha kini juga cukup yakin kalau segala penolakan yang dia alami belakangan tuh memang ada kaitannya dengan Paradikta sebagai tuan rumah. Kendati dia sempat kecewa atau mungkin malah masih, tapi mengingat apa saja yang telah Paradikta usahakan guna membantunya Prisha yang padahal sering ber-negative thinking mendadak ingin percaya kalau semua pria itu perbuat mungkin ada yang demi kebaikan Prisha.

"Naga mungkin baru akan keluar kelas lima belas menit lagi," ungkap Prisha membagikan informasi yang boleh jadi menjadi tujuan utama dari telepon pria itu—well, seperti normalnya.

Namun, di seberang sana Paradikta justru langsung terdengar mengekeh-ngekeh. "Saya nggak nanyain Naga," tampiknya, sebelum sesaat berikutnya dengan akrab ia lanjut bertanya, "Jadi, kamu lagi di luar?"

Meski dari wujud wajahnya yang terpantul pada spion tengah betul-betul mengindikasikan kalau dia tak mengerti mengenai arah pembicaraan yang Paradikta kehendaki, Prisha toh tetap membalas melalui satu gumaman, "Hm."

"Sedang mau menjemput Naga ke sekolahnya?"

Ya ... memang apalagi kan? Maka, untuk kali kedua Prisha singkat saja membenarkan, "Mm."

Paradikta yang sepertinya juga sedang di luar karena, beberapa kali Prisha seolah mampu mencuri dengar eksistensi dari munculnya bunyi klakson-klakson bersahutan tiba-tiba saja justru menembakkan tanya yang cukup mengagetkan, "Mau jalan?"

Prisha kontan menyipitkan matanya. Mau tidak curiga, tapi ada apa nih dengan Paradikta? Bahkan suaranya ketika membuka pembicaraan barusan tak terdengar seperti sewajarnya pria itu—auh, tahu lah, meski belakangan dia sedikit lebih perhatian, tapi nada bicaranya belum mampu menyamai miliknya dulu yang amat bersahabat, even though nggak sekaku punya Prisha juga sih.

Lalu, Prisha bahkan sama sekali belum bereaksi tat kala Paradikta ujug-ujug kembali menyerobot bicara demi menitah, "Tunggu di situ. Dua puluh menit lagi palingan saya sampai. Pak Anto biar nanti pulang duluan."

"Maksudnya?" Dengan luar biasa cepat Prisha mau tak mau menyerukan kebingungannya.

Sementara di balik sambungan Paradikta sendiri serta merta terdengar menghela napasnya panjang bak orang kelelahan, tapi anehnya detik berselang suaranya tetap tenang sewaktu akhirnya menjelaskan, "My meeting has been postponed. Selain itu, meeting berikutnya baru akan diadakan satu setengah jam lagi. Jadi, daripada balik kantor mending saya ngajak jalan kan? Jarang-jarang saya punya waktu luang."

Meski dibilang jarang-jarang, tapi tetap aneh nggak sih?

Pertama, dia ngapain coba tiba-tiba memberi tahu aktivitasnya dengan sedetail itu pada Prisha?

Jangan Ada Air MataCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang