Bukan Akhir Air Mata.

10.1K 599 47
                                        

Memegangi passport-nya erat-erat hingga nyaris meremasnya di tangan Prisha akhirnya tiba di terminal 3 bandara Soekarno-Hatta.

"Passport and ticket please!" Dari area check-in counter seruan tersebut bercampur baur dengan sayup-sayup bunyi bantingan koper, troli yang buru-buru didorong, jejak tubrukan langkah kaki dan lantai, maupun roda yang hilir-mudik diseret.

Suara pengumuman delay dari satu maskapai menggema keras di seantero ruangan bercampur dengan kasak-kusuk obrolan mirip kumur-kumur milik orang-orang. Sekilas Prisha juga dapat melihat segelintir dari orang-orang itu saling berbalas lambaian, berbagi pelukan, juga mungkin kata-kata perpisahan sebelum perlahan-lahan bubar menuju antrean?

Di luar hari sudah gelap. Namun, Prisha tak bisa berhenti untuk menggulirkan matanya demi menerobos barisan mobil-mobil yang men-drop penumpang—berharap dari salah satunya keluar seseorang yang dia tunggu. Actually, tadi, Prisha sudah mengirimkan video berisi pemintaan maafnya untuk Naga ke ponsel Nur Ami. Masih belum dibaca, entah Nur Ami sedang sibuk apa.

Prisha berusaha untuk tidak resah.

Ya, setidaknya tidak di depan ibu yang mungkin juga akan segera sampai diantar menggunakan ambulan khusus dari rumah sakit. Ah, omong-omong soal kondisi ibu, bagaimana pun Prisha sempat khawatir seberapa pun Paradikta menganggap Singapura itu dekat, tapi Prisha bahkan belum pernah sekali pun menginjakkan kakinya di sana. Lebih daripada itu, ibu sedang sakit dan Prisha mungkin hanya akan berdiri dongo andai sesuatu terjadi sebab dia tak tahu apa-apa soal medis. Namun, seolah mengerti kegelisahannya, Sekretaris Paradikta di perjalanan tadi mengatakan kalau mereka nggak hanya akan terbang berdua. Tidak ada nama Paradikta disebut memang, tapi dia mengungkapkan bahwa mereka akan mendapat medical escort.

Ya, meski begitu kalau boleh jujur Prisha tak benar-benar yakin untuk mempercayai niat tulus Paradikta yang mendadak mengirimnya pergi bersama ibu. Oh ya, jelas tidak setelah pria itu sempat tak ingin melepasnya ke mana-mana hingga bahkan mesti mengintilinya ke Bogor—bila diingat Paradikta bahkan tak cuma memintanya sekali seolah berjauhan dengannya akan menimbulkan bahaya. Terlebih, setelah kecelakaan yang dialami oleh pria itu yang nyaris saja bikin Prisha jantungan!

Walau berat untuk mengakuinya jika dia khawatir, tapi apakah sungguh tidak apa-apa meninggalkan Paradikta di situasi ini?

Okay, pria itu tanpa Prisha pun bukan yang sebatang kara juga sih. Dia masih punya Damaja. Dia juga masih memiliki putranya. Pun, tak lupa uang-uangnya yang selalu bisa dia pakai demi membantu memuluskan tiap rencana maupun perjuangannya. Namun, tetap saja mengingat kemarin Gustiraja sampai senekat itu untuk mencelakainya rasanya Prisha sedikit takut buat meninggalkan Paradikta kendati dari sudut pandang Gustiraja mungkin dia justru akan puas. Sebab, sejatinya tujuan utama pria tua itu adalah untuk menyingkirkan Prisha dari hidup sang cucu kan? Maka, kepergian Prisha tanpa dia perlu ada repot berusaha merupakan suatu kabar baik seharusnya.

Ah ya, bicara soal Paradikta setelah mengirimnya pulang guna bersiap-siap sekaligus mungkin juga supaya punya waktu sama Naga—yang sayangnya enggak terlaksana sesuai rencana karena anak itu sedang tak di rumah—dia tak ada mengirim pesan atau kabar apa pun lagi. Apakah dia akan datang ke bandara di tengah sakitnya? Uh, kayaknya enggak mungkin juga sih. Tapi, apakah perpisahaan mereka betul cuma akan begini saja?

Sekretaris Paradikta yang sama kakunya dengan Prisha tak ada mengatakan info apa-apa. Pun, Prisha yang sulit bicara ragu untuk melantangkan tanya hatinya. Jadi, mereka hanya duduk saling berjauhan di kursi sekitaran counter check-in yang antriannya semakin ramai saja sebelum ibu tiba.

Sadar jika waktunya di Jakarta kian menipis Prisha untuk ke sekian kali mengcek ponselnya. Menggulir ruang obrolannya. Tapi, tak ada siapa pun di sana. Bahkan, pesan yang amat dia nanti-nanti responnya, yang dia kirim ke Nur Ami masih sama nasibnya seperti semula—belum terbaca.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 19, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Jangan Ada Air MataCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang