Paradikta akhirnya buru-buru hengkang dari kebun Prisha untuk menuju Jakarta setelah mendapat satu telepon yang sempat membuatnya menyingkir ke pojokan ladang dekat sumuran demi beberapa kali menyemprotkan lahar berisi umpatan.
Entahlah apa gerangan yang terjadi. Prisha sama sekali tak tertarik mencari tahu mengenai peristiwa yang bahkan telah lewat hampir semingguan lalu.
Yah.
Tepat hari ini maka sudah lebih dari tujuh hari Paradikta hilang bak ditelan bumi. Sama sekali tak ada pernah menghubungi. Namun, bukannya senang karena tak ada yang merusuh atau pun berubah dalam hidupnya, Prisha justru disergap oleh segumul keresahan.
Bagaimana pun mustahil sekali rasanya bagi seorang Raden Paradikta Djati Danendra yang seolah terlahir kembali sebagai manusia yang licik itu sudi membiarkan hidupnya berleha-leha.
Terakhir, pria itu jelas bilang akan membawanya ke suatu tempat. Tak perlu banyak menebak Prisha cukup yakin tempat yang membikin mereka mesti mengabarkan status pernikahan kepada Pak RT adalah Jakarta. Laki-laki itu ingin membuat Prisha menetap di sana. Tepatnya, rumahnya dan Saniya.
Memang baru sekadar prasangkanya. Namun, apa pun itu bisa Prisha pikirkan nanti karena sekarang dia sedang berada di tengah hiruk-pikuk pada halaman belakang rumah Umi Amillah.
Berupaya tetap sibuk di bawah mata-mata yang meliriknya dua kali guna memilah-milah bunga yang akan dirangkainya untuk centerpieces.
Well, Prisha nggak semahir Mona dalam merangkai bunga, tetapi berkat beberapa kali trial bareng di La-Mona dia jadi terbiasa bikin rangkaian biar pun cuma yang simple saja.
Lagi, Umi sendiri tadi nggak ada request khusus sih.
"Umi mah ikut saja gimana bagusnya. Kalau yang bikin Prisha, Umi percaya deh sama seleranya," kata Umi yang padahal belum pernah melihat Prisha merangkai bunga. Entahlah mengapa beliau bisa sepercaya itu.
"Perlu saya mention berapa nama? Umi Amillah yang ingin kamu jadi menantunya?"
Prisha refleks bergeleng-geleng sewaktu gema suara bengis Paradikta tiba-tiba menyahut seumpama ingin mengejeknya dalam kepala.
Umi memang baik. Beliau sering menanyai kabarnya dan memberinya makanan. Namun, bukan hanya Prisha kok. Orang-orang di kampungnya juga beliau perlakukan dengan cara yang sama. Anak Mang Asep bahkan Umi hadiahi sepeda ketika sunatan tahun lalu.
Okay, Paradikta boleh jadi tahu banyak hal berkat kemampuan koneksi juga uangnya. Tetapi, bukan berarti dia selalu benar kan?
Lagi, mau seberapa pun Umi menyukainya kalau Najandra enggak, maka seharusnya tak perlu ada yang Prisha cemaskan—well, Prisha tentu tidak ingin menambah masalah dengan menikah bersama seseorang dari kampungnya, yang mana berpotensi bikin latar belakang kelamnya lagi-lagi terbongkar sebagai konsumsi massa.
Prisha masih betah mengasingkan diri untuk mengguntingi beberapa tangkai mawar yang dia bawa dari kebun saat netranya dia biarkan jauh menjelajah.
Rumah Umi bukan yang paling besar di desa, tapi bisa dibilang salah satu dari yang paling gendongan.
Tak heran meski Umi adalah ibu rumah tangga pada umumnya, tetapi yang sekilas Prisha dengar dari ibu-ibu yang doyan belanja sayur sambil ngegosipin orang lain, suami Umi tuh saat masih hidup lama bekerja di Arab. Itulah mengapa tiga anaknya berhasil lulus dari sekolah ternama. Najandra kini sukses jadi Psikolog. Dua adik perempuannya ada yang bekerja di bank daerah, juga Guru di sekolah.
Selain itu, Umi bahkan sudah pergi berhaji dua kali. Itulah mengapa orang-orang di kampung begitu menghormatinya.
Terbukti dari betapa banyaknya tetangga yang meluangkan waktu untuk datang bantu-bantu hari ini. Di belakang rumah Umi sampai harus didirikan tenda besar yang di dalamnya bisa Prisha lihat ada banyak ibu-ibu yang mulai kumpul masak-masak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jangan Ada Air Mata
Fiksi UmumPrisha nyaris menghabiskan dua windu hidupnya untuk mencintai seorang saja pria. Terjabak friendzone sedari remaja, Prisha tidak pernah menyangka jika patah hatinya gara-gara Paradikta menikah dapat membuatnya hampir mati konyol. Dia baru saja bebas...
