"Undaaa? Bener udah baik-baik kan iya?"
Prisha sedang membantu Naga mencangklong tas berisi bekalnya makan siang saat anak itu kembali mempertanyakan hal yang sama dengan yang sudah ditanyakannya sejak semalam di sepanjang jalan sepulangnya mereka dari rumah sakit. Pun, sama seperti semalam netra Naga yang mungil dan tampak sedikit berkaca-kaca memancarkan sorot penasaran yang nyata.
Ugh, apakah ketakutan Prisha sungguh terjadi bahwa dia sudah membuat anak itu bersedih? Nur Ami bahkan tadi laporan kalau pagi ini Naga tidak sesemangat biasanya. Walau tidak sampai mengaku enggak ingin pergi sekolah, tapi gerak-geriknya yang seolah melambat telah mengindikasikan jika dia memang enggan meninggalkan rumah hari ini.
Kemudian, kendati Prisha masih berupaya memproses segalanya. Yah, segalanya tentang kenyataan bahwa apa yang dia alami bukanlah mimpi. Bahwa betapa pun dia ingin elakan realitasnya dia toh sungguh-sungguh bukanlah anak kandungnya ibu. Bahwa dia yang sial selama ini adalah wajar, karena dia lahir dari buah pengkhianatan bapak.
Lalu, di luar seluruh kenyataan pahit itu masih ada satu fakta terburuk yaitu ada manusia asing yang senyum tipisnya selama ini begitu terasa tak asing. Oh, ya tentu! Sebab, senyum itu ternyata memang sesekali Prisha temukan di wajahnya sendiri dalam cermin! Serta ya, tak ubahnya bom waktu yang sudah di-setting semua itu mendadak datang hanya untuk meledak juga meluluh lantahkan hidup Prisha yang padahal sudah rata dengan tanah melalui tuduhan sekonyong-konyong ibu yang menuding wanita antah berantah itu sebagai ibu kandungnya!
Makanya, Prisha tahu jika dia lah yang paling bertanggung jawab atas perubahan suasana hati Naga hari ini.
Namun ....
"Undanya enggak akan pergi-pergi kan iya?"
"Yah?"
Prisha yang masih cukup kesulitkan mengumpulkan satu demi satu serpihan fokusnya langsung mendapati sosok Naga yang lesu menunduk. Jarinya terlihat memainkan tali tas yang telah tergendong secara sempurna di punggung kecilnya ketika dengan ragu bocah itu lantas berujar pelan, "Pas itu ... em, Aganya lihat Mama Niya juga nangis kayak Undanya. Mata Mama Niyanya merah-merah. Airnya banyak jatuh-jatuh dari mata. Mama Niya udah ajakin Aganya ikut pergi sama-sama naik pesawat. Tapinya Aganya enggak mauuu. Trusnya, Mama Niya pulang. Tapinya Mama Niya harus bubuk lama-lama dekat Allah. Eung, Undaa ...?"
"Hm?"
Kali ini Naga kembali mendongak, memperlihatkan matanya yang makin lebat berkaca-kaca untuk lantas berkata cepat, "Kalau Undanya ajakin Aganya pergi, Aganya mau ikuuut iyaa? Ke mana-mana aja Aganya boleh ikut iya kan? Jangan tinggal, Undaaa? Aganya enggak akan nakal biar Undanya enggak sedih-sedih lagi. Aganya janji-janji pakai jari iyaaa?"
Prisha tak perlu banyak berpikir saat langsung memupus seluruh jarak demi dapat merangkul bahu Naga.
Anak itu selama ini sudah melihat dan mendengar terlalu banyak hal yang bagi anak seusianya tentu sulit dimengerti. Entah apa yang sudah dibicarakan oleh Paradikta saat semalam pria itu bilang bakal bicara berdua dengan Naga sebelum tidur setelah Prisha bahkan harus menyembunyikan matanya yang bengkak di balik kacamata hitam milik pria itu dalam mobil di sepanjang jalan. Prisha kira Paradikta benar bisa diandalkan. Namun, apa ini? Anaknya bahkan masih sedih!
"Nggak sedih kok," Bukan Naga, tapi Prisha lah yang kemudian mengaku. Dia bahkan tersenyum, berusaha menenangkan anak itu.
"Tapinya, matanya Undanya merah-merah." Padahal, saat Prisha mengaca kondisi matanya sudah jauh lebih mendingan. Dia bahkan telah menutupi sedikit bengkaknya dengan sapuan make up sehingga dia bisa lebih percaya diri untuk tampil di hadapan Naga. "Aganya kalau habis nangis juga gitu matanya, Unda. Trusnya, kata Sus Aminya juga kalau merah-merah berarti mah matanya habis keluar air banyak-banyak karena sedih-sedih nangis gitu. Undanya sedih-sedih nangis iyaaa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Jangan Ada Air Mata
General FictionPrisha nyaris menghabiskan dua windu hidupnya untuk mencintai seorang saja pria. Terjabak friendzone sedari remaja, Prisha tidak pernah menyangka jika patah hatinya gara-gara Paradikta menikah dapat membuatnya hampir mati konyol. Dia baru saja bebas...
