Langkah Prisha berangsur melambat saat di kejauhan dia berhasil menangkap siluet seorang laki-laki yang terbungkuk-bungkuk bertumpu dengan tongkat sedang berdiri membentuk satu lingkaran kecil bersama tiga orang lainnya.
Well, dialah Bendara Raden Mas Gustiraja Mangkualam. Prisha belum pernah bersemuka. Ketika dia di Cévo, pria sepuh itu sudah tidak lagi aktif bekerja. Namun, sesekali dia kerap berkunjung ke lantai dua puluh dengan didampingi oleh Asisten Pribadinya yang kali ini juga setia berdiri di balik punggungnya.
Entah sesungguhnya beliau orang macam apa. Namun, dari curhatan-curhatan Paradikta yang seluruhnya nyaris berisi keluhan. Eyangnya yang lahir dari Selir kelima Keraton Hadiningrat merupakan tipikal manusia keras kepala yang suka sekali mengendalikan sesuatu bahkan meski sesuatu itu sepribadi hidup milik orang lain.
Di kamusnya jelas haram jika menjadi nomor dua. Itulah mengapa Gustiraja amat benci dengan kekalahan.
Tahu bahwa hanya hal itu—maksudnya, rasa rendah diri yang tercipta dari kegagalan sebab ada yang lebih hebat—satu-satunya yang bisa mengguncang Eyang maka, Paradikta sering kali menjadi gemar menantangnya secara sengaja.
Termasuk malam ini. Di saat situasi genting dia justru memilih membawa serta Prisha. Untuk apa?
Apakah karena Prisha sudah dianggapnya sebagai bagian dari keluarga sehingga wajar bila ia dilibatkan di tiap kesempatan?
Bukan. Tentu bukan.
Satu-satunya alasan termasuk akal mengapa Paradikta begitu ngotot membawa Prisha hari ini hingga ia rela malu-maluin diri di hadapan massa di kampungnya adalah karena dia sudah tahu sedari awal bahwa akan ada Gustiraja di sana. Tepatnya, di depan ruang rawat VIP Naga, putranya. Pun, Paradikta terang telah bertekad untuk mulai menunjukan pemberontakannya.
Well, Prisha sudah berkali-kali menyaksikan pertunjukan Paradikta yang sejenis ini. Sebelum bertemu Saniya, setiap bulan dia selalu punya cara-cara baru demi mengusir berderet-deret nama perempuan yang telah disiapkan Eyang untuk dipersuntingnya.
Seluruh watak laki-laki tipe red flag agaknya telah berkali-kali diuji cobanya. Bahkan, kalau diingat lagi Paradikta memang cenderung berkata-kata nyelekit. Bedanya dulu dia lakukan itu guna mengusir perempuan agar ilfil kepadanya, dan bukannya dengan segenap kebencian di mata layaknya yang belakangan dia perbuat terhadap Prisha.
Serta ya, Prisha ... kali ini dia tak ingin menjadi wayang guna menyukseskan niat Paradikta tersebut.
Itulah mengapa sebelum mereka makin dekat dengan kerumunan bersisi Gustiraja, Damaja, dan bahkan ada juga orang tua Saniya, Prisha refleks menghentikan langkahnya.
Bagaimana pun dia yakin kalau Naga yang sedang sakit di dalam ruang perawatan sana tak butuh terjebak di tengah-tengah situasi penuh huru-hara. Dia butuh dikuatkan. Bukannya harus memaklumi orang-orang dewasa di sekitarnya yang terus saja sibuk memikirkan hasrat mereka sendiri macam Paradikta.
Sadar bahwa bakal terjadi pertempuran andai dia nekat terus maju, Prisha lantas memutar tumitnya. Niatnya sih hendak kembali menyongsong lift saat Paradikta yang semula memimpin satu langkah di depannya tahu-tahu mencekal lengannya keras.
Prisha spontan mendongak hanya untuk menemukan kelebat ekspresi yang dikenalnya bertahta di sana. Di wajah kian dewasa Paradikta. Sepasang mata bak pualamnya yang meruncing tajam, bibirnya yang terlipat jadi segaris tipis, juga kerut-kerut samar di dahi. Ekspresi yang menandakan kalau dia ... punya rencana besar.
"Lepas," Prisha menggeram, untuk pertama kalinya.
Namun, sama sekali tak gentar Paradikta justru balas meracau, "Setelah sampai di sini mau kabur? Prisha, kenapa sih kamu suka sekali berlarian? Tahu tidak? Yang paling kencang berlari saat ada masalah itu cuma pengecut."
KAMU SEDANG MEMBACA
Jangan Ada Air Mata
General FictionPrisha nyaris menghabiskan dua windu hidupnya untuk mencintai seorang saja pria. Terjabak friendzone sedari remaja, Prisha tidak pernah menyangka jika patah hatinya gara-gara Paradikta menikah dapat membuatnya hampir mati konyol. Dia baru saja bebas...
