Orang Luar.

6K 704 117
                                        

Prisha: Saya sudah sampai rumah.
Prisha: Naga sedang tidur siang.

Prisha: Dia tentu tidur setelah melakukan semua yang kamu suruh kok.

Menyemil buah, menghabiskan satu buku cerita bergambar, menghapal doa-doa pendek, dan entah apa lagi yang tadi sempat Paradikta wanti-wantikan pada anak itu supaya waktunya tetap produktif.

Oh, astaga, padahal kurang produktif apa sih Naga? Dia bahkan telah bersekolah nyaris setengah hari. Namun, mungkin begitulah cara anak-anak dari kelas sosial mereka tumbuh. Semua diawali dari usia belia supaya mereka tidak ketinggalan karena, bila mereka meleng sedikit saja atau berleha-leha maka, mereka jelas bisa dibalap oleh saingan mereka kapan saja. Di dalam dunia yang asing bagi Prisha itu orang-orangnya boleh jadi berani untuk melakukan segalanya demi mempertahankan posisi mereka yang memang menjadi mimpi utama serta buruan dari banyak orang.

Prisha mengetikkan seluruh pesan-pesan itu sambil duduk di stool beberapa menit saja setelah Najandra mengedropnya di depan pagar. Well, kendati hubungan mereka tidak bisa dibilang dekat selama ini, tapi bukan berarti hubungan mereka buruk juga. Najandra adalah orang yang pernah membantunya dan mungkin masih, atau justru malah akan terus begitu. Jadi, membiarkannya langsung pergi setelah perjalanan cukup panjang juga di saat mereka lama tak bertemu rasanya kejam sekali kan? Tetapi, mengundangnya masuk di saat suaminya bahkan tidak sedang di rumah pun rasanya bukanlah satu pilihan bijak. Oleh sebab itu, Prisha hanya membiarkannya pergi seraya berharap di suatu hari nanti hubungan mereka tidak akan lagi sekaku belakangan ini.

Tanpa sadar menggigiti kukunya, Prisha lantas kembali mengetik cepat di keyboard.

Prisha: Najandra sudah pulang.
Prisha: Maksud saya dia langsung pulang.
Prisha: Kamu sudah sampai ke tempat meeting?

Prisha: Mobil hitam yang tadi sudah berhenti mengikuti kan?

Prisha: Kamu bisa hubungi balik kalau memang sudah selesai meeting dan punya waktu luang.

Dan, itu adalah pesan-pesan yang Prisha kirim nyaris di 4 jam lalu. Sementara sekarang hampir jam 7 malam. Naga bahkan telah duduk manis dan bersiap untuk makan malam di meja makan setelah tadi dia pintar sekali belajar sholat maghrib bersama-sama dengan Nur Ami. Namun herannya, pesannya belum juga ada indikasi dibaca oleh Paradikta. Apakah dia memang meeting sampai petang?

Oh, come on! Bukan berarti Pardikta rajin mengiriminya chat, tetapi ini sudah terlalu lama dia tanpa kabar nggak sih? Khususnya, setelah apa yang Prisha ketahui bahwa ada orang yang sengaja membuntuti pergerakan mereka, ditambah kecurigaan Paradikta, serta Gustiraja yang entah merencanakan apa.

Prisha tidak yakin dengan apa yang dirasakannya sekarang. Namun, dari jatungnya yang berdegub kencang hingga mencipta kegugupan maupun pikirannya yang terus liar belarian membentuk bermacam-macam hipotesa acak dari akumulasi negativism yang terus tumbuh subur dalam benaknya, Prisha tahu jika dia merasakan perasaan tak nyaman ini juga tiap kali dia menyadari bahwa ibu mungkin dalam bahaya.

Prisha harusnya menelepon Sekretaris pria itu nggak sih? Tapi, dia bahkan tidak punya kontaknya. Hish!

Atau, dia telepon saja kantor pusat Cévo? Resepsionis setidaknya bisa membantu memberi konfirmasi soal Pardikta ada di sana atau tidak kan?

Atau, ini merupakaan saat yang tepat untuk mencoba menghubungi Damaja? Lalu, menceritakan apa saja yang sudah dilihatnya seharian juga belakangan bahwa Gustiraja sepertinya merencanakan sesuatu untuk mereka. Siapa tahu Damaja punya clue dan bisa membantu kan?

Prisha sedang dilumat resah serta kebingungan ketika telinganya yang sejak tadi seolah mampu mendengar suara lebih keras dari normalnya—mungkin gara-gara efek kegelisahannya—tahu-tahu menjaring suara panggilan lembut Naga yang tentu diucap dari meja makan, tapi anehnya terasa seperti di dekat telinganya, "Undaaa? Maamnya boleh sekarang enggak iya?"

Jangan Ada Air MataCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang