Dengan napas yang sedikit patah-patah karena terlalu lama ditahannya, Prisha masih sadar untuk mengelus sejenak debar pada kawasan dadanya yang di sepanjang perjalanan tadi jujur saja jantungnya seakan longsor hingga kaki ketika dengan kelewat buru-buru perempuan itu lantas kelimpungan untuk melongokan kepala ke jok belakang dan melihat Naga sudah menyengir lebar-lebar ke arahnya.
"A-ga ...." Sayangnya, cara bernapas Prisha membuat suara yang dikeluarnya justru bak cicitan tikus sehingga samar dia kembali menarik napasnya dalam-dalam guna lanjut bertanya melalui nada yang sedikit lebih terukur, "... tidak apa-apa?"
Kendati dari apa yang dilihatnya anak itu tampak tak terganggu dengan perjalanan yang baru mereka tempuh, tetapi tetap saja Prisha rasanya khawatir!
Dan, kekhawatiran itu perlahan-lahan mencair kala Naga mengangguk-angguk sambil balas berseru kegirangan yang sungguh di luar dugaan, "Aganya baik-baik kok, Unda. Seneng malahnya. Kalau sama-sama Pak Adrinya naik mobilnya mah enggak pernahnya gini-gini kayak Papanya wush wush wush wush hehehe. Undanya baik-baik juga iyaaa?"
Prisha hendak mengangguk—meski, nyatanya tentu nggak sebaik itu sampai-sampai telapak kakinya bahkan berkeringat di dalam sepatu—saat seseorang yang selama perjalanan duduk persis di samping jok berisi car seat milik Naga tiba-tiba mendorong pintu mobil dengan sangat grasa-grusu seolah sedang diburu sesuatu. Wanita itu bahkan keluar dengan menutupi mulutnya rapat-rapat dengan dua telapak tangan hingga tak lama terdengarlah bunyi seseorang yang seperti sedang muntah-muntah di luar sana.
Hish!
Tahu pasti siapa yang harus bertanggung jawab atas itu, Prisha melirik kursi di balik kemudi di mana kini Paradikta juga tampak tengah balik memandanginya dengan tampangnya yang sok nggak berdosa. Bah!
"Kamu sengaja?" Prisha jarang sekali main tuduh begitu saja. Tentu! Pada dasarnya ya karena dia tahu sendirilah betapa dituduh-tuduh itu nggak enak sekali. Namun, apa yang dilakukan Paradikta sejak mereka bertemu di pelataran La-Mona florist memang sungguh seperti sedang sengaja bikin orang-orang di sekitaranya nggak nyaman meski entah untuk alasan apa.
Pun, detik berselang dengan kelewat percaya dirinya pria itu benar-benar mengaku, "Of course."
Walaupun sudah menduganya, Prisha toh tetap terkesiap, serta kemudian dengan sengaja membisikan sahutannya, sebab ada Naga yang bisa saja bakal mendengarnya dari jok belakang, "Itu berbahaya. Ada Naga. Bagaimana kalau celaka?"
"Nyatanya nggak celaka kan?" Pria itu dengan kepala yang dia dekatkan ke arah Prisha melirik Naga melalui ekor mata saat sambung melirih persis di tepian telinga Prisha yang tertutupi rambut, "Dan, seperti yang kita lihat Naga bahagia-bahagia saja tuh?"
"Paradikta ..." Intonasinya getir dan makin terdengar suram sewaktu Prisha lamat-lamat menyambung kaku, "... hari buruk siapa yang tahu?"
Benar. Deg-degan yang Prisha rasa di sepanjang jalan bukan karena dia takut mati, tapi dia takut bahwa keberadaannya lagi-lagi akan membuat orang lain celaka juga menderita.
Yah.
Sama seperti halnya hari yang menjadi hari terakhirnya ketemu bapak. Andai Prisha tahu bahwa bapak akan jatuh dari ruko empat lantai hari itu, Prisha jelas nggak akan keras kepala untuk menyetujui ajakan teman sebangkunya supaya mereka mendaftar les Bahasa Inggris di sana. Hanya perkara diskon sepuluh persen yang amat berharga bagi orang-orang dari golongannya, Prisha bela-belain pergi di hari hujan itu. Coba saja dia nggak usah beri tahu lokasinya pada bapak, mungkin bapak nggak akan ke sana untuk menjemputnya. Atau, kalau boleh lebih mengeluh, Prisha sangat menyesal tidak langsung pulang di saat pihak bimbel berjanji akan memperpanjang durasi promo, dan membuat anak-anak yang semula antri sembari lesehan mulai berduyun-duyun angkat kaki menembus hujan sebelum terjebak malam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jangan Ada Air Mata
Fiksi UmumPrisha nyaris menghabiskan dua windu hidupnya untuk mencintai seorang saja pria. Terjabak friendzone sedari remaja, Prisha tidak pernah menyangka jika patah hatinya gara-gara Paradikta menikah dapat membuatnya hampir mati konyol. Dia baru saja bebas...
