Prisha mengecek sekali lagi alamat yang dibagikan oleh ibu pada kolom room chat.
Sudah benar kok tempat yang dia datangi. Lagipula, bagaimana Prisha bisa salah? Posisinya toh sangat dekat dengan rumah mereka yang tak kunjung laku terjual. Jaraknya bahkan hanya memakan satu belokan.
Entah apa pertimbangan ibu ketika memilih lokasi pertemuan di sebuah area taman terbengkalai. Di mana banyak rumput-rumput liar serta ilalang tumbuh subur, membumbung tinggi ke angkasa hingga seperti mengisolasi kawasan tersebut dari hiruk-pikuknya dunia luar.
Well, sebetulnya ini taman favorit Prisha. Dulu, dia sering nungguin bapak pulang bekerja sambil duduk-duduk di bangku beton taman ini. Lalu, bapak yang kerja naik motor bututnya bakal berhenti di sekitaran trotoar, seraya mengacungkan satu keresek kecil ketika memanggili Prisha. Hm, biasanya isinya gorengan pisang atau ubi sih. Meski berkali-kali dimarahi ibu karena beli jajan yang nggak perlu, bapak toh tetap melakukannya karena beliau tahu itu salah satu makanan kesukaan Prisha, dan ibu amat jarang mau menggorengkannya di rumah.
Prisha ingat betapa hangatnya gorengan pisang juga ubi yang dia gigiti saat dia duduk sembari memeluk tubuh berkeringat bapak melalui satu lengan di jok belakang motor yang sengaja dikendarai secara lambat. Prisha juga berusaha untuk tidak pernah lupa suara deraian tawa renyah milik bapak begitu Prisha berhasil menyantap habis masing-masing dua buah gorengan pisang dan ubi tepat sebelum mereka tiba di rumah seraya menyeletuk puas, "Yeaaay, hari ini Bapak kayaknya nggak bakalan dimarahin lagi sama Ibu! Soalnya aku berhasil abisin semuanya! Makasih ya, Pak, udah beliin gorengan buat Prisha. Gorengannya enak bangeeeet! Prisha jadinya seneng terus kenyang juga deh hehehe."
Semudah itu dulu Prisha bahagia dan tertawa. Mungkin bukan terbatas karena gorengan yang dia santap. Tetapi, karena selalu ada bapak di sisinya. Satu-satunya orang di dunia ini yang tak pernah takut atau pun ragu untuk memihaknya.
Lalu, seperti kenangan Prisha yang makin tahun ternyata makin memudar, taman ini pun nasibnya sama nahasnya.
Prisha refleks menepuk lengannya yang dihinggapi nyamuk sewaktu kepalanya kembali dia bawa untuk celingak-celinguk.
Selain pemandangan langit mendung di atas kepalanya, rerumputan setinggi padi, serakkan daun-daun kering yang mungkin akan langsung mencipta api andai ada yang lalai menjatuhkan puntung rokok di sana, Prisha praktis tak menemukan eksistensi manusia lain lebih-lebih sosok sang ibu.
Apa ibu terlambat?
Padahal, Prisha datang dengat sangat buru-buru setelah tadi sempat kesulitan dapat ojol dari Amera Mind Care. Well, Prisha akhirnya menemui Najandra juga.
Pria itu tadi bahkan sempat terkejut sewaktu menemukannya muncul di lobi rumah sakit. Namun, Najandra akan selalu jadi Najandra. Dia langsung memberi Prisha satu senyuman terhangat, sambil menyambutnya dengan satu baris tanya super-menyejukkan hati berbunyi, "Hei, how's your day lately, Prisha?"
Seolah perasaan Prisha berada di puncak hierarki dari segalanya.
Enggaklah mengherankan sebetulnya. Bersama Najandra rasanya memang tidak ada lah itu yang namanya kurang diperhatikan. Mungkin karena bagaimana pun Prisha masih pasiennya?
Mereka lantas mengobrol tak begitu lama. Mengingat Najandra juga masih harus bekerja—Prisha benar-benar mampir tanpa mengabari apalagi bikin janji—lalu, Prisha sendiri pun sedang ditunggu oleh pertemuan-pertemuan berikutnya. Sebut saja pertemuannya bareng ibu dan Paradikta yang sepertinya betul-betul mustahil dia hindari.
Please, dia tentu tak ingin melewatkan kesempatan bertemu ibu yang telah amat dia tunggu-tunggu. Namun, dia juga tak ingin kehilangan momen untuk dapat segera mencentang Paradikta dari hidupnya. Jadi, memilih membagi waktu untuk bisa hadir ke semua pertemuan, Prisha rasa adalah solusi yang paling tepat. Toh, Paradikta bilang dia harus bikin kesan buruk kan? Maka, datang terlambat di acara makan siang penting suaminya bareng Sekjen Parpol, agaknya bakal bikin pria itu tertawa-tawa puas sih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jangan Ada Air Mata
General FictionPrisha nyaris menghabiskan dua windu hidupnya untuk mencintai seorang saja pria. Terjabak friendzone sedari remaja, Prisha tidak pernah menyangka jika patah hatinya gara-gara Paradikta menikah dapat membuatnya hampir mati konyol. Dia baru saja bebas...
