Luka Kecil.

9.9K 823 61
                                        

Mereka mungkin telah jadi bahan tontonan orang.

Duh, sekarang mata mana sih yang kira-kira tak akan menengok dua kali jika ada orang berjalan tergesa-gesa hingga mungkin nyaris berlari di sepanjang koridor rumah sakit?

Okay, itu boleh jadi pemandangan biasa. Banyak orang berburu dengan waktu apalagi di penghujung akhir jam besuk. Pun, mereka mungkin akan mudah mengabaikannya andai orang itu berlari seorang diri. Tapi, bagaimana kalau dia berlari dengan membopong tubuh seseorang di bahunya bersama wajah yang seolah siap menerkam siapa saja yang berani menghalangi jalannya?

Hish!

Meski dalam situasi normal Prisha paling tidak suka menarik perhatian. Namun, semenjak Paradikta hadir lagi dalam hidupnya apakah semua hal pernah berjalan sesuai dengan yang Prisha inginkan?

Ingat lagi bagaimana pria itu mengacau di kampungnya hingga mereka dipanggil oleh Pak RT dan jadi bahan gunjingan berhari-hari setelahnya. Pun, rentetan hal-hal nyeleneh lainnya yang pria itu buat entah secara sengaja atau tidak, dan berakhir dengan menyulitkan Prisha.

Paradikta mungkin tak masalah, tapi Prisha yang biasa hidup tanpa terdengar maupun terlihat tentu merasa tercekik dengan semua hal-hal itu.

Omong-omong soal tercekik, dada Prisha rasanya tak nyaman. Di sana begitu sesak. Entah itu gara-gara dia terjengking dalam gendongan Paradikta atau karena hal-hal yang baru saja dia dengar di ruang rawat inap ibu.

Semenjak berkebun serta menanam ribuan mawar di ladang Prisha sudah ratusan kali tertusuk duri di jarinya. Luka yang dihasilkannya begitu kecil, tapi sering kali ngilunya tak hilang dalam sehari. Dan, saat ini dia seolah merasakan rasa yang sama di hatinya. Tusukan itu tak meninggalkan darah, tapi justru karena itulah karena tak ada setetes pun darah yang keluar sehingga membuat bagian itu memar sekaligus terasa jauh lebih menyakitkan.

Prisha bahkan tak lagi punya kesadaran untuk menarik diri dari setiap usaha nyeleneh yang kerap Paradikta lakukan untuk menjadikan mereka sebagai pusat perhatian. Tak hanya itu, Prisha bahkan tak tahu di mana tepatnya Paradikta menurunkannya dari bopongan. Yang Prisha sadari setelah tangisnya sedikit mereda hanya tak ada siapa pun di sekitar mereka dalam ruangan luas yang mirip auditorium tersebut.

Entah bagaimana Paradikta bisa semudah itu masuk, dan entah apa yang sudah dia usahakan  sampai-sampai dia bisa menyusul Prisha di saat seharusnya dia menjaga Naga. Lidah Prisha yang mestinya segera menanyakannya entah mengapa tidak bisa dia gerakan. Mungkin karena nyatanya air matanya masih sibuk berjatuhan hingga membuatnya tergugu-gugu dan lidahnya kelu?

Yah.

Melalui matanya yang buram Prisha cuma mampu melihat Paradikta mendudukan dirinya di tepian meja terdekat sewaktu tangannya pelan-pelan melepas Prisha yang sudah dapat berdiri tanpa oleng untuk lantas mendengar pria itu berbisik, "I told you before. Taruh bunganya dan kembali. Sesulit itu kah buat nurut? Ingat lagi apa yang selalu terjadi kalau kamu mengabaikan kata-kata saya?"

Hah, apakah ini waktu yang tepat untuknya bersikap sinis dan menyombongkan diri?

Okay, walau apa yang Paradikta katakan memang selalu benar sejauh ini. Tetapi, sungguh, Prisha berharap pria itu juga bisa salah terlebih mengenai ibu.

Lagi pula, bagaimana Paradikta bisa tahu? Ah, tidak. Itu bukan pertanyaan yang pantas ditanyakan sebetulnya. Raden Paradikta Djati Danendra memang selalu beberapa langkah di depannya. Masalah soal ibu ini hanyalah contoh kecilnya.

Yah, kendati sudah tahu begitu dan meski dia sudah jauh-jauh hari memikirkan tentang potensi akan keakuratan info yang dibeberkan oleh pria itu toh tetap saja itu sama sekali tak lantas mengentaskan kesedihan Prisha kala akhirnya mengetahuinya.

Jangan Ada Air MataCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang