"Kamu serius?"
Prisha sedang di dapur. Tangannya yang erat-erat memegangi gagang sendok berupaya selambat mungkin mengaduk susu yang rutin Naga minum sebelum tidur. Well, sebetulnya dia sudah susah payah menahan pertanyaan tersebut di mulutnya semenjak Paradikta pulang tadi sore-ya, tak seperti biasanya, bak kekurangan kesibukan pria itu bahkan balik tenggo.
Prisha ingat bagaimana Nur Ami, Mbok, sampai Naga yang ikut membantunya menyirami tanaman di halaman depan dibuat kompak melongo-longo begitu melihat sepatu Paradikta yang mengkilat melangkah keluar dari jok belakang Audi hitam yang lumrahnya tidak akan terparkir di carport jika belum menjelang tengah malam. Oh please, setidaknya itulah yang biasanya terjadi di satu bulan belakangan selama Prisha tinggal di sana, dan menimbang reaksi terheran-heran para penghuni rumah lainnya maka, agaknya Paradikta juga memang terbiasa untuk melakukannya sejak sebelum-sebelumnya.
Lalu, di rumah tumben sekali loh dia tak sibuk memainkan ponsel, tablet, hingga laptopnya! Paradikta yang hari-harinya diisi oleh berjilid-jilid meeting sampai kadang Prisha amazed terhadap keahliannya dalam melakoni penguasaan serta transisi dari materi satu ke materi lain dalam durasi yang realtif singkat. Malam ini, layaknya tak ada harga saham yang perlu dia jaga, seolah gosip yang ramai beredar mengenai salah satu anak perushaan Cévo yang secara khusus dikomandoinya sedang terpincang itu sekadar selentingan, Paradikta justru tampak begitu tanpa beban anteng duduk di stool dalam kondisi sudah berpiyama lengkap. Rambutnya yang ketika makan malam masih terlihat setengah basah kini pun sudah sepenuhnya mengering. Serta, hanya jika Prisha tak salah dengar dalam bentangan jarak mereka yang bahkan tidak sampai lima meter maka, pria itu juga sedang asyik bersenandung pelan bersama tangannya yang terus aktif mencomoti jeruk di atas piring, yang tadi sengaja Prisha kupaskan untuk kudapan Naga mengemil.
See? Katakanlah Prisha terlalu skeptis, tapi kesantaian yang ditunjukkannya dengan kelewat tiba-tiba ini masa sih betulan cuma demi Naga?
"Kenapa? Kamu takut?" Setelah beres mengunyah jeruknya pria itu balas bertanya. Nadanya biasa saja, tapi entah mengapa tetap terkesan menyebalkan. Mungkin karena Prisha tahu bahwa pria itu penuh dengan rencana sehingga tanpa sadar dia telah meragukan ketulusan niatnya terhadap Naga.
Ya, siapa tahu kan? Yang sedang dibicarakan di sini adalah Raden Mas Paradikta Djati Danendra, dan dia jelas lebih dari sanggup guna menghalalkan segala cara untuk melakukan apa saja.
Mendapati Prisha yang hanya diam sambil lurus-lurus mentapnya tanpa ekspresi berarti Paradikta refleks tertawa. Tidak seperti siang tadi, tawanya kali ini jauh terdengar lebih manusiawi nan sopan sekali sesaat sebelum dia lantas berkata tanpa saringan, "Prisha ... kita memang sudah ciuman."
"Radi!" Prisha menegur dengan gigi menggemelutuk. Secara otomatis netranya pun buru-buru memindai sekeliling kalau-kalau Nur Ami atau Mbok mendadak melipir ke dapur lalu menangkap basah mereka terlebih di jam-jam yang tergolong masih cukup sore ini.
Ikutan celingak-celingkuk yang Prisha yakini dia hanya mau meledek sebab pria itu manalah sudi untuk repot-repot peduli sekali pun ada yang mendengar omongannya. Please, Paradikta selalunya seperti itu! He doesn't give a damn about what others think! Huh, ya never!
Tak ayal berikutnya dengan keapatisan super-tinggi pria itu sontak mengedikkan bahu sembari terang-terangan mengujar, "Saya tidak akan berpura-pura lupa ingatan tentang apa saja yang sudah kita lakukan."
"Kita tidak melakukan apa-apa," kontra Prisha dengan nada mengeja.
Reaksi yang bikin Paradikta spontan mendengkus bak kerbau haus. "Okay, kalau kamu memang semalu itu buat mengaku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Jangan Ada Air Mata
General FictionPrisha nyaris menghabiskan dua windu hidupnya untuk mencintai seorang saja pria. Terjabak friendzone sedari remaja, Prisha tidak pernah menyangka jika patah hatinya gara-gara Paradikta menikah dapat membuatnya hampir mati konyol. Dia baru saja bebas...
