Sisi Lain Paradikta.

10.4K 1K 70
                                        

"Ahh ...."

Prisha lekas menggelengkan kepalanya begitu memorinya seperti memutar ulang suara berat napas Paradikta yang begitu dekat dengan telinganya.

"Lho, Ibu kenapa? Demam ya, Bu? Wajah Ibu itu ... agak merah loh, Bu!" Nur Ami yang entah bagaimana sudah tiba di dapur dan ikut berdiri menyejajari Prisha—lagi-lagi perempuan itu ditolak secara halus oleh Mbok buat bantuin masak pagi ini sehingga pada akhirnya dia hanya sempat bikin sandwich telur dadar sosis yang rasanya bakal bikin Naga bosan nggak sih, sebab Prisha terus saja memasakannya sesuatu dari telur—di mana kini dia sedang menatanya ke dalam wadah bekal milik Naga bersama dengan menu yang juga telah Mbok masak lebih dulu.

Well, kembali ke Nur Ami, padahal tadi gadis itu pamit buat ngajakin Naga ke depan demi melihat bonsai delima yang katanya beberapa bulan lalu diboyong oleh Damaja sebagai hadiah ulang tahun Naga, dan tadi Nur Ami sudah heboh mengabari pada anak itu kalau bonsai miliknya telah ada muncul tanda-tanda bahwa pohon delima itu akan segera berbuah! Naga tentu kegirangan. Dia bahkan langsung ngacir lari tanpa lebih dulu bersepatu. Nyaris sepuluh menit mereka menghilang ke kawasan teras, tapi sekarang Nur Ami justru kembali seorang diri.

"Jangan di luar kemaleman makanya, Bu." Tanpa disangka dia lanjut menasihati. "Semalam aja pas Ami beres nemenin Den Aga tidur, Ami masih lihat Ibu loh di kebun belakang sendirian sampai Bapak—" Bagai orang keceplosan Nur Ami langsung menggigit lidahnya sehingga Prisha tak mampu mendengar suara apa-apa lagi darinya, yang lantas mematik perempuan itu untuk refleks mendongak sembari memicing dengan curiga.

"Bapak kenapa?" kulik Prisha kaku.

Well, ingatannya nggak hilang meski Prisha sungguh-sungguh berharap bahwa segala ingatannya tentang semalam mendadak lenyap seperti hari-hari tiap kali dia menghadapi masalah berat. Namun, nyatanya bukan hanya hidungnya yang seperti awet tertempeli oleh bau khas tubuh Paradikta, tapi otaknya pun seperti semangat empat lima untuk mengulang-ngulang apa yang terjadi di antara mereka semalam khususnya terhadap kenyataan bahwa Prisha diam-diam menyukai sensasi rasa hangat yang tersalurkan di kulitnya yang dingin tiap kali kulit Paradikta dengan sengaja menyentuhnya. Hish!

"Anu ...."

Prisha dengan sabar menunggu dan melihat Nur Ami yang kapan hari sudah dapat teguran keras dari Paradikta tampak ragu-ragu. Tangan gadis itu bahkan secara intens memilin-milin pinggiran kain seragamnya yang berwarna abu-abu. Satu bukti bahwa dia cemas kan?

"Kamu dimarahi?" tebak Prisha kemudian begitu tak ada intensi bahwa Nur Ami berani menanggapi, serta karena tabiat Paradikta yang sekarang kan memang begitu. Hobi marah-marah. Betapa pun dia memperlakukan Prisha dengan lembut semalam, tetapi ya kali sedrastis itu dia bisa langsung berubah?

Namun, Nur Ami lantas menggelenginya cepat. "Enggak sih, Bu."

"Lalu?" kejar Prisha, berusaha menjaga suaranya untuk tidak terlampau terdengar menuntut, tentu saja.

"Anu itu ... Ami anu itu, Bu, lihat itu ...."

Lihat apa?

Kulit di sekitar dahi Prisha sudah mulai terlipat. Wait, nggak mungkin kan yang gadis ini maksud itu sesuatu yang terjadi di kamar semalam? Paradikta nggak mungkin dengan gegabahnya nggak menutup pintu kan?

Bak tertular cemasnya Nur Ami, Prisha yang entah mengapa sedikit mulai waswas tiba-tiba merasa salivanya pahit kala menelannya bersamaan dengan mencetus tanya, "Lihat apa?"

Nur Ami mendesahkan napasnya berat. Menunduk dalam-dalam dia sontak bicara dengan kecepatan yang sudah kayak laju kereta, "Lihat Bapak anu ... itu em, sempat pelukin Ibu lama-lama di taman. Tapi, bukan Ami aja kok, Bu. Sungguh! Dan bukan bermaksud ngintip, Bu. Sumpah! Ami barengan sama Mbok kebetulan lihat, dan kami bersyukur Bapak sama Ibu akhirnya ... akur!" Bak baru usai berlari Nur Ami sampai terengah-engah kendati dia bahkan tidak mendiktekan penjelasannya dalam satu tarikan napas.

Jangan Ada Air MataCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang