"Kamu ... mau apa?"
Mendengar tanya sarat kebingungan yang Prisha layangkan, Paradikta sontak berdecak gemas. Jelas sekali bahwa dia tidak suka atau bahkan kecewa sebab Prisha tak langsung menangkap apa maksudnya di percobaan pertamanya bicara, tapi detik berselang toh pria itu tetap mengulang kendati dengan nada yang tak ikhlas, "I need to switch out my underwear."
Prisha yang semula sedang membantu menata sarapan milik pria itu yang barusan saja diantar oleh petugas lantas bergeleng kepala. "Iya. Tapi, tadi kamu mau saya melakukan apa?"
Paradikta mengedikkan pundaknya santai. Tampangnya yang sejenak lalu cemberut kini sudah tampak dirambati oleh segaris senyum tipis yang begitu mencurigakan ketika dia secara to the point lalu berkata, "Lepas baju saya. Kamu memang dengarnya apa?"
Prisha tidak tahu kenapa wajahnya mendadak panas padahal tidak sedang membayangkan apa-apa. "K-kenapa harus saya lepaskan?" Dan, sialannya suaranya malah jadi gagap!
Paradikta—dengan jarak terbentang di antara mereka semoga saja sih tidak menyadari reaksi Prisha, sebab wanita itu toh masih sok sibuk menuang air mineral ke dalam gelas di dekat sofa—tahu-tahu justru menunjukan tangannya yang di-gips.
Tak berhenti di sana Paradikta pun merepet, "Terus, kamu pikir gimana caranya underwear baru saya bisa kepasang tanpa lepas baju? Kamu pikir saya Superman yang pakai underwear di luar?! Yang terluka itu tangan bukan otak saya! Dan, meski saya adalah manusia mandiri yang serba bisa dan nyaris sempurna. Tapi, ya kali kamu mau saya lepas baju sendiri dalam kondisi saya yang sedang kayak begini?"
Dia memang terluka, tapi Prisha semalam bahkan sempat melihatnya masih leluasa memainkan tablet beserta laptop dengan tangan itu. Jadi, sekadar buka kancing atau melorotin celana harusnya nggak akan semenyusahkan itu.
"Ada perawat," timpal Prisha singkat kalau-kalau Paradikta memang berkeras ingin dilayani.
"Kamu ...." Paradikta ternganga sampai seperti kehabisan kata-kata. "Jadi, kamu lebih rela ada tangan milik perempuan lain yang grape-grape badan saya dan lihat saya telanjang?"
Grape-grape apa sih? Orang cuma bantu lepas kancing paling. Kenapa juga reaksi Paradikta heboh begitu? Lagian, kalau pun Prisha yang bantu memangnya dia bakal enggak malu? Okelah, dia mungkin memang nggak punya urat malu, tapi Prisha? Seumur hidup dia bahkan baru sekali lihat kulit laki-laki yang umumnya tersembunyi di balik pakaian mereka—tempo hari, dan itu juga badan Paradikta—serta, setelahnya Prisha bahkan tidak bisa memandang mata pria itu tanpa rasa kikuk. Ya kali Prisha mesti ngalamin lagi sih?
"Bisa minta dicarikan perawat laki-laki kalau kamu tidak nyaman," Prisha mengusulkan.
"Saya apa? Enggak nyaman?" Paradikta mendengkus dan tampak menyugar surainya yang padahal telah kusut-masai persis rambutnya Naga kalau anak itu baru bangun tidur sehingga membuatnya tampak lebih imut. Well, itu Naga ya kalau Paradikta tak peduli seberapa keren mukanya dia tetaplah Si Brengsek Keparat! Kalau bukan dia pasti tak akan menyombong begini kemudian, "Seratus wanita pun berjejer mau nontonin saya telanjang saya nggak peduli. Tapi, apa gunanya memang keberadaan mereka saat saya punya istri? Kamu juga termasuk perawat pribadi saya kan? Makanya kamu berdiri di sana sekarang untuk sibuk siapin saya makan, hm?"
Padahal Prisha hanya niat membantu saat tadi terang-terangan Paradikta menyuruh petugas gegas pergi setelah meletakan jatah makannya di atas nakas. Namun, pria itu memang doyan menafsirkan seenak-enak udelnya kan?
Bertepatan dengan berhasil terselesaikannya tataan menu sarapan berisi kimbab, roti, salad, smoothies buah naga, sekaligus air putih dalam satu nampan wanita itu bicara, "Saya harus segera pulang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Jangan Ada Air Mata
Fiction généralePrisha nyaris menghabiskan dua windu hidupnya untuk mencintai seorang saja pria. Terjabak friendzone sedari remaja, Prisha tidak pernah menyangka jika patah hatinya gara-gara Paradikta menikah dapat membuatnya hampir mati konyol. Dia baru saja bebas...
