Tertangkap Basah.

10.6K 1K 112
                                        

"Ada yang aneh."

Paradikta sudah meninggalkan ranjang yang belum lama ini dia tiduri. Di mana kini di atasnya justru tampak Naga yang kelewat nyenyak tertidur satu kaki mungilnya yang jarah sukses menumpangi pinggang Prisha. Hish, ada apa dengan bocah itu? Biasanya kalau tidur sendiri di kamarnya dia anteng sekali. Kenapa malam ini lain?

Menghela panjang napasnya entah untuk merespons tingah nyeleneh sang putra atau suara yang baru saja didengarnya dari seberang sambungan telepon, tepat di bawah temaramnya sorot lampu tidur Paradikta yang sengaja mengambil jarak untuk berdiri di sisi jendela sontak melemparkan pandangannya keluar. Mencoba mengabsen tiap detail gelapnya dini hari berselimut sepi yang berhasil mengaburkan pemandangan berisi bunga-bunga hasil berkebun Naga dan Prisha belakangan di taman depan.

"Elaborate," Paradikta lantas menitah singkat.

"Gue rasa harus laporkan soal ini secara langsung."

Mengetuk-ngetukkan jarinya secara konstan pada kusen meski dengan nir suara, Paradikta kemudian membisikan tanya antisipatif, "Ada yang menarik?" Mengingat seseorang yang tengah berbincang bersamanya adalah orang yang beberapa waktu belakangan dia beri tugas untuk menyelidiki kebenaran tentang kasus di masa lalu yang melibatkan Prisha. "Lo masih ingat apa yang gue bilang terakhir kali? Jangan berani-beraninya datang ke hadapan gue tanpa sesuatu yang baru. Karena, gue masih nggak akan percaya kecuali lo bawa satu aja bukti yang sulit gue bantah. Dan, ini hampir jam satu pagi. Gue harap lo nggak membangunkan gue hanya untuk mendengar hal yang remeh."

Lalu, bukannya memberi apa yang Paradikta butuh, sebab sumpah lelaki itu merasa cukup terganggu—oh yah jelas dong, tadi Paradikta sedang hangat-hangatnya loh ya merangkul Naga sekaligus ya em, Bundanya, tapi satu getar ponselnya langsung menyudahi tidur nyamannya—orang dalam sambungan itu yang agaknya gagal menangkap tanda-tanda kekinya malah balik melempar bola, "Boleh gue tanya sesuatu?"

Paradikta mendecih pelan. Well, kurang terus terang kah permintaannya sampai-sampai lawannya malah meng-counter begitu?

Namun, seperti halnya Paradikta yang kekeuh ingin segera dapat laporan, orang itu pun boleh jadi tetap ingin menyimpannya sampai mereka bertemu muka sehingga Paradikta hanya dapat menekan emosinya dalam-dalam dengan refleks makin mengecilkan volume suranya ketika sekelebat dia tahu-tahu menangkap pergerakkan Naga di ranjang, yang kini tangannya justru menambah-nambahi beban dengan mengalung di pinggang Prisha.

Astaga! Kenapa coba anak itu memeluknya erat-erat kayak gitu? Prisha mungkin sudah merasa berat ditumpanginya kaki eh, ini malah tangannya ikut-ikutan beraksi! Oh come on, Naga nggak pernah begini. Atau, pernah? Memangnya sebelum malam ini Paradikta ada sekali saja sempat menemani tidur anak itu? Rasanya sih dia bahkan tak ingat. Tetapi ya tetap saja, gimana coba kalau perempuan itu engap dia dempeti macam selai di atas roti tangkup? Hadeh!

Tak mengerti mengapa mendadak dirinya merasa bagai tak rela melihat Prisha kesulitan dan menderita, Paradikta hanya mampu dari jauh memerhatikan setiap gerak-gerik sang putra untuk memastikan bahwa tak ada pergerakkan lainnya yang kiranya bisa mengganggu pulasnya tidur Prisha kala dia akhirnya melontarkan ucapan dengan nadanya yang penuh sarkastik, "Ternyata bener. Gue pikir awalnya Miko mengada-ngada, tapi lo nih memang suka melewati batas ya?"

"Gue nggak pernah punya niat buat ikut campur sedikit pun. Gue cuma ingin tahu," belanya. Andai Miko yang kapan hari merekomendasikan nama orang ini tak dengan meyakinkannya memuji betapa orang ini amat berjasa dalam menuntaskan masalah pria itu yang sebelas-dua belas rumitnya dengan masalahnya, dan andai Gustiraja yang hobi main di bawah tangan itu tak mengenal banyak penyedia layanan Private Investigator di pihaknya, Paradikta mungkin akan berpikir ulang sih untuk bekerja sama dengan orang yang gaya berkerjanya justru seperti menganggapnya sebagai teman dan bukannya kolega. Please, dengar saja caranya dia bicara pada Paradikta dari tadi. Gue-elo? Lalu, apa? Terkadang entah dia berniat begitu atau tidak, tapi Akhyar bahkan seolah sengaja mengulik tentang perasaan pribadinya. Oh come on, hal tersebut sungguh aneh dan merepotkan sekali untuk dihadapi kan? Namun ya, cuma Akhyar yang Paradikta tahu tidak mungkin bisa dijangkau oleh Eyangnya. Bukan karena mustahil bagi Eyang guna mencari serta menemukannya, tapi lebih karena kata Miko, Paradikta bisa memercayainya. Dan, kepercayaan adalah sesuatu yang jelas tak mungkin Paradikta tawar lebih-lebih indahkan. Maka, betapa pun ini menyebalkan, nyatanya Paradikta memang sedang mengangandalkan Akhyar.

Jangan Ada Air MataCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang