Keluarga Cemara, Sebutnya.

9.2K 1.1K 125
                                        

"Emm, Papa?"

Paradikta masih mengucek-ngucek bagian matanya yang terasa lengket.

Uh, ingat kan? Dia punya masalah tidur? Tetapi, belakangan dia justru selalu tidur kayak mayat. Well, Paradikta berat mengakuinya, cuma ya tidurnya di beberapa minggu ini memang cukup nyenyak. Dia bahkan tak lagi ingat pernahkah dia memiliki tidur yang berkualitas semenjak mendapati perselingkuhan Saniya?

Oh, come on! Hingga hari Saniya meninggal, pria itu bahkan masihlah merasa kasur sangatlah menjijikan. Terlebih kasur di kamar tidur utama rumahnya yang pernah menjadi saksi di mana tanpa hati sang istri begitu berani menyelewenginya dengan berbagi kemesraan bersama pria lain—yang kini tentu sudah dia bakar jadi abu. Sampai mati pun Paradikta kira dia tak akan mungkin melupakannya. Dia pikir suatu hari dia bahkan bisa saja menyusul mati karena terus-menerus mengalami kekurangan tidur kronis!

Paradikta ingat betapa dia tak pernah sudi untuk berlama-lama tinggal di kamar utama yang kental menguarkan aroma Saniya, tentu berikut dengan pengkhianatannya. Tetapi, semenjak menempatinya bersama Prisha, jijik itu anehnya perlahan-lahan tersisihkan. Bukannya hilang sama sekali, tapi dia rasanya tak punya cukup waktu untuk memikirkan masa lalunya yang kelam saat dia punya banyak hal yang lebih penting untuk dipikirkan. Misalnya, tentang rencana yang ingin dia lakukan bersama Prisha untuk bikin berang Gustiraja? Atau, soal adegan berbau keakraban apalagi kira-kira yang akan Prisha lakoni bareng Naga? Atau, kapan kiranya raut wajah Prisha yang keruh dan lempeng itu pergi, lalu berganti dengan ekspresi bersahabat yang dulu Paradikta familiari?

Intinya, pemikiran-pemikiran seru semacam itu akan mengantarkannya untuk tidur di setiap malam dengan mudah, dan ya ... lama. Setidaknya, saat Paradikta tahu kalau yang seranjang dengannya adalah Prisha, dan bukannya lagi Saniya. Oh, sial, Prisha bahkan sepertinya lebih manjur dari obat tidur yang hampir tiga tahun Paradikta dapatkan tanpa seizin Psikiater.

Lalu, kembali lagi pada suara cicitan Naga yang barusan terdengar ragu-ragu memanggilnya dari bilik kamar mandi Prisha, yang dua kali Paradikta singgah rasanya dia tetap sulit percaya sih kalau ruangan kecil dengan toilet jongkok, dan lantai yang cuma disiram semen hingga teksturnya super-gradakan ini bisa disebut sebagai kamar mandi? Well, kamar mandi kambing mungkin masih masuk akal sih!

"Kenapa? Aga nggak bisa keluar pee-nya?" Wajar sih, kali pertama Paradikta di dalam sana saja andai dia punya pilihan lain di luar usulan kelewat serius Prisha agar dia kencing di balik semak-semak yang mungkin saja ada ularnya, dan andai menahan kencing tak mengundang penyakit, dia mungkin akan memaksa menahan kencingnya sampai tiba kembali di Jakarta. "Mau Papa antar pee di toilet hotel aja?" Sebuah pertanyaan penghiburan sebetulnya. Please lah hotel berbintang paling dekat dari sana saja mungkin butuh nyaris tiga puluh menit perjalanan, bisa-bisa Naga malah keburu kencing di celana!

"Enggak kok, Papa," balas Naga segera yang memang tidak pernah seribet Paradikta.

"Terus apa masalahnya?"

"Ini ... eum, Aganya enggak tahu Papa siram-siramnya pakainya apa sih?"

"Hah? Gimana?" Mata Paradikta yang semula lengket sudah lebar-lebar melotot.

"Embernya penuh sama airnya. Aga coba angkat enggak mau geser-geser, Papa," adu anak itu dengan suaranya yang sedikit menggema.

"Benda yang warna hijau nggak ada?" tanya Paradikta.

"Benda ijo itu apa, Papa?"

Terakhir Paradikta memakai sebuah gayung bentuk love warna hijau. Tapi, seumur-umur Naga mungkin tidak pernah lihat benda seperti itu. Jadi, kalau pun dia sebutkan gayung anak itu toh nggak bakalan paham juga.

Jangan Ada Air MataCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang