Paradikta sudah bolak-balik mengangkat lengan kirinya demi melirik arloji yang rasanya kok gerakan putaran jarumnya lambat sekali ya? Apa rusak? Tapi, ya kali dia pakai barang rusak sih? Tadi saat dia berangkat memacu Audinya dari lokasi meeting terakhirnya di Gambir saja that Breguet classique muternya masih waras loh ya. Pukul 5 teng dia sudah bisa keluar dari area resto tempatnya berdiskusi bersama salah satu orang utusan dari Ditjen PDN.
Oh, come on! Pria itu selalu berburu dengan waktu, tapi tidak pernah menjadi orang yang menunggu waktu. Justru waktu lah yang ada di sana untuk selalu menunggu Paradikta. Ya, begitulah biasanya segalanya bekerja, sayangnya tidak dengan malam ini!
Empat puluh menit lebih yang dia butuh demi bisa sampai Tebet nyatanya bahkan tidaklah terasa selama ini bila dibandingkan dengan sepuluh menitnya belakangan yang cuma habis dia pakai buat duduk lemas sambil memukul-mukul ringan stir kemudi dalam kondisi mesin yang telah mati.
Hish! Saking lamanya waktu berjalan bagi Paradikta sampai-sampai entah sudah berapa kali pria itu harus bertingkah macam setrikaan yang hilir-mudik keluar-masuk mobil cuma demi memanjangkan leher ke arah sebuah bangunan super-chic berdinding kaca—well, typically just like Paris shops that tend to be smaller and more intimate, so it creates a sense of personal connection—di seberang jalan sana di mana pada salah satu sudutnya pastilah sedang menyembunyikan sosok yang dia cari-cari.
Okay, berbicara soal orang yang dia cari, Paradikta yang hampir kering dikekang bosan akhirnya memutuskan untuk menyenderkan sejenak pinggulnya di kap mobil. Sementara matanya terus ia arahkan untuk mengawasi, jari-jarinya yang seharian didera pegal dan kesemutan gara-gara mesti menandatangani bertumpuk-tumpuk berkas yang diboyong ke sana-kemari mengikutinya oleh sang Asisten pun sontak sibuk menggulung lengan kemejanya hingga ke siku.
Well, bukan saatnya denial sih malam ini dia memang berantakan. Lagian, gimana tampilannya nggak lecek coba?
Setelah pertemuannya bareng Akhyar, Paradikta juga harus menghadiri tiga kasual meeting di tiga tempat berbeda. Terakhir, ya itu yang di Gambir. Sama sekali belum berkesempatan makan dengan proper apalagi istirahat. Paradikta ingat bahwa tadi dia mungkin baru mengambil sekitar dua atau tiga sesapan air kopi, dan langsung ngacir keluar dari restoran betawi setelah business partner-nya mengucap satu kata yang memang telah dia tunggu-tunggu sejak detik pertama mereka saling bersalaman.
Ya, apalagi lah yang dinanti-nanti setiap partner dalam pertemuan bertajuk kolaborasi kalau bukan mantra berlabel 'setuju' kan? Tentu! Untuk memburu kata tersebut pria itu bahkan sampai bela-belain datang sendiri kendati Direktur Jendral PDN yang kemarin sempat memohon-mohon padanya guna meluangkan waktu untuk bertemu toh malah tak jadi datang. Tapi, ya bodo amatlah mau siapa pun yang datang kek paling penting kan hasilnya baik untuk Cévo yang memang tengah dalam ambisi agar dapat melangkahi VER di dua sisa kuartal tahun ini.
Lalu ya, menolak diantar oleh sopir maupun Asisten Pribadinya yang pada akhirnya dia tinggalkan begitu saja di resto, Paradikta lebih memilih menyetir sendiri di peak hours-nya kota Jakarta. Namun ya terima kasih untuk masa mudanya yang dulu sesekali sempat dia isi dengan kebut-kebutan di jalanan kendati setelahnya selalu berakhir dengan ditempeleng hingga luka-luka oleh tongkat saktinya Eyang. Setidaknya berkat pengalaman itu Paradikta toh jadi tahu dengan pasti caranya menyalip-nyalip meski dengan itu dia mesti merelakan body gagah Audi-nya tentu akan ada yang berbaret-baret lecet. Tapi ya kali dia peduli? Mobil bisa diperbaiki, tapi datang tepat waktu setelah tiba-tiba dikirimi pesan singkat oleh Prisha saat dia sendiri sempat dibuat berlama-lama melamun, sembari menggigiti sedotan kopinya di jok belakang mobil setiap kali berpindah menuju tiap-tiap lokasi meeting gara-gara terlalu bingung harus memakai modus macam apa lagi untuk mengajak perempuan itu keluar eh, tahu-tahu justru Prisha lah yang mengiriminya pesan begini:
KAMU SEDANG MEMBACA
Jangan Ada Air Mata
Ficción GeneralPrisha nyaris menghabiskan dua windu hidupnya untuk mencintai seorang saja pria. Terjabak friendzone sedari remaja, Prisha tidak pernah menyangka jika patah hatinya gara-gara Paradikta menikah dapat membuatnya hampir mati konyol. Dia baru saja bebas...
