Percayalah.

8.8K 844 96
                                        

“Dia pasti nggak dengar kan?”

“Siap saya dengar, Pak!”

Paradikta yang duduk di jok belakang langsung mencampakan tablet berisi suguhan data metrics terkait efficiency ratios Cévo khususnya lini fashion yang dia komando dalam pangkuannya di mana sejak dia meninggalkan pelataran parkir gedung Cévo Group pun sebenarnya tak pernah dengan serius dia perhatikan.

Kemudian, mungkin karena Asisten Pribadinya yang siang ini menempati kursi di balik kemudi melihat Paradikta mulai melipat bibirnya dari spion tengah sehingga laki-laki yang usianya boleh jadi baru seperempat abad di mana sehari-hari dia kerap tampil sama rapinya dengan Paradikta itu sontak meresponsnya sebagai suatu tanda bahaya sampai dia lekas menjelaskan, “Bapak sudah menanyakan hal tersebut lebih dari lima kali sejak kita parkir di sini, dan saya juga sudah menjawab dengan jawaban yang sama sebanyak lima kali, Pak.”

Ah.

Kadang Paradikta bingung kenapa dulu dari seabrek yang hadir selama proses perekrutan karyawan baru dia justru memilih meng-hire orang ini? Dia bahkan baru lulus kuliah dari kampus antah berantah dan tak berpengalaman. Namun ya apa pun bentuk keanehan tersebut jelas yang lebih mengherankannya lagi adalah itu bahkan sudah lewat nyaris tiga tahun. Berarti dia betah dong diasisteni oleh manusia yang macam robot satu ini?

Well, betah tidak betah sih. Paling penting Paradikta yakin bahwa Asistennya tak akan dengan mudah berpihak pada Gustiraja.
Okay, katakanlah dia bisa saja diintimidasi satu-dua kali tetapi, melalui laporannya Paradikta akan menjadi orang pertama yang tahu. Setidaknya, selama ini selalu begitu. Dia tidak pernah lalai memperlakukan Paradikta sebagai satu-satunya atasannya. Sesuatu yang belum tentu bisa ditawarkan oleh kandidat pemilik CV mentereng lainnya.

“Hanya saja … saya sedikit kurang mengerti dengan apa sebenarnya yang Bapak maksudkan?”

Okay, harap ingatkan Paradikta bahwa Asistennya ini adalah golongan robot yang selalu mau tahu. Tetapi, biar pun begitu atau meski sahutan-sahutannya memang kerap terdenger sangat template nan nir emosi setidaknya terkadang ada insight-nya yang cukup masuk akal dan berguna.

Oleh sebab itu setelah berdeham pelan, Paradikta mengatur suaranya supaya kayak butuh nggak butuh untuk bertanya, “Kamu bilang kamu punya pacar kan?”

“Siap benar, Pak.”

“Masih perempuan kan?”

“Siap, tentu saja, Pak.”

Hm, ada loh ya orang lain yang betah sampai-sampai mau jadi pacarnya? Gimana coba sejauh ini cara mereka ngobrolnya? Prisha beserta tabiat kanebo keringnya bahkan terdengar lebih mending dari Asistennya ini!

Namun, biarpun batinnya terus menggerundel, mulut Paradikta toh tetap bergerak demi mengujar, “Kalau mereka diam saja itu bukan berarti mereka nggak dengar apa yang kita katakan kan?”

“Siap, bagaimana, Pak?"

Paradikta langsung mendelik ketika Asistennya yang seperti Prisha versi laki-laki—maksudnya, dia juga minim sekali ekspresi, paling banter kalau tertawa pun ya tertawa karir—memasang tampang datar yang sama sekali tidak merepresentasikan sahutan bercita rasa kebingungannya itu. Dih, dasar!

"Jadi, begini, ada teman saya dia cerita em, apa ya?" Paradikta menggaruk ujung hidungnya yang tak gatal. Agak dilema sebetulnya. Sebab, seberapa pun dominan sikap robotnya, toh bukan berarti Asistennya ini dongo. Dia bisa saja dengan mudah membaca maksud Paradikta yang tentu tak ingin ketahuan bahwa semua masalah ini adalah tentangnya! Maka, berikutnya sambil berusaha keras menenggelamkan kegamangannya pria itu menyambung sok acuh tak acuh, "Baru-baru ini dia ada mengatakan sesuatu yang dia pikir harusnya hanya perlu dia dengar sendiri. Tapi, ada kecurigaan kalau pasangannya ini ternyata sudah mendengar semuanya. Walau pun perempuan itu nggak mau mengaku dan dia terus-terusan diam saja. Menurut kamu nih ya pasangannya itu benar dengar atau nggak kira-kira soal apa yang sudah teman saya katakan? Lalu, kalau nggak dengar tapi kenapa dia mendadak jadi lebih diam?"

Jangan Ada Air MataCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang