Jam besuk salah satu rumah sakit terbesar di Jakarta Selatan itu akan berakhir kurang dari sejam lagi. Jujur, Prisha tidak terlalu yakin sih apakah ibu bakal menerima kesinggahan mereka yang tergolong begitu tiba-tiba ini? Kendati tentu Prisha sudah sempat mengabari ibu bahwa dia akan menjenguk. Sesuatu yang tidak cukup lazim sebetulnya. Sebab, biasanya kalaupun Prisha mampir ke rumah sakit jam segini dia paling cuma bakal mengintip ibu melalui viewing window pada pintu tanpa berani unjuk diri untuk melihat wanita yang rambutnya telah memutih itu tertidur dengan pundak bergerak naik-turun secara teratur—menandakan jika jantungnya masih normal bekerja yang seketika membuat Prisha merasa lega—di balik selimut sambil memunggunginya.
Namun, apa kira-kira responsnya nanti saat melihat ternyata malam ini Prisha tak datang sendiri?
Atau, kalau boleh lebih spesifik bagaimana reaksi ibu saat nanti beliau melihat seseorang yang tampak sangat dekat dengannya di foto tiba-tiba ada di sini?
Well, Prisha bukannya tidak menyadari gurat tak nyaman di mata Paradikta yang tadi mewanti-wantinya untuk segera kembali.
Prisha juga bukan berarti tidak tahu kalau bisa saja apa yang berhari-hari lalu laki-laki itu singgung terkait status ibu benar akan menjadi kenyataan yang tidak bisa lagi dia elakan.
Dalam diamnya, Prisha ... tentu punya sedikit rasa curiga. Rasa curiga yang pasti bakal dia pilih untuk telan bulat-bulat bila dia tidak pernah datang ke tampat Gustiraja. Serius, jika memang tidak banyak pilihan tersisa baginya Prisha tentu lebih baik sampai mati dicaci oleh ibu daripada harus membuka satu probabilitas di mana bisa jadi dia memang tidaklah berhak memanggil wanita itu sebagai ibunya. Sebuah asumsi yang ... mengerikan. Sebuah asumsi yang sesungguhnya ingin dia abaikan. Namun ....
Kenapa perempuan yang tampak kenal dekat dengan ibu tiba-tiba bisa ada di rumah Gustiraja? Mereka sejatinya tidaklah pernah bertemu sebelumnya, tapi insting-nya kok berkata sebaliknya?
Pertemuan mereka yang tampak jelas sengaja diinisiasi oleh pria tua itu tentulah punya maksud tertentu.
Dan, Prisha tahu jika waktunya tidaklah tersisa banyak untuk berpikir. Ada kemungkinan bahwa dia benar-benar harus segera menyingkir dari hidup Paradikta juga Naga. Pun, memang dia terus dibebat ragu-ragu bahkan di detik ini ketika dia sudah dalam perjalanan buat menyamperi ibu.
Prisha ragu apakah dia benar sudah siap jikalau dia mesti mendengar sesuatu yang sebenarnya selalu bisa dia pilih untuk abaikan? Dia sesungguhnya tidaklah perlu penjelasan untuk semua perlakuan kasar ibu. Selama ini toh dia tahan-tahan saja hidup dengan tanpa mempertanyakan seluruh hal-hal itu.
Tidak peduli seberapa baik ibu milik anak-anak lain di luar sana, perlakuan ibu padanya tak lantas menjadikannya otomatis bukan ibu Prisha.
Tidak semua ibu tabiatnya sama. Bukan hanya satu-dua ibu kok yang melahirkan anaknya lalu tega menjualnya. Tidak satu-dua ibu kok yang melahirkan anaknya kemudian tega untuk melenyapkannya. Tidak selalu ibu yang toksik adalah ibu yang tidak pernah melahirkan anak-anaknya.
Benar.
Jadi, mempertemukan wanita yang sepertinya memang sengaja Gustiraja tunjukan sebagai senjata ini dengan ibu secepatnya mungkin bisa membantunya guna memperoleh jawabannya—atau, untuk Prisha itu hanya demi melenyapkan suara-suara sumbang bernada provokasi dan sangsi yang riuh timbul di benaknya belakangan. Biarpun jawaban itu bisa jadi adalah kenyataan yang amat dia takutkan.
Dan, ketakutan itu benar-benar telah ada di depan mata Prisha saat pintu ruang rawat ibu yang berada di pojok menjadi satu-satunya pintu di lorong ini yang belum mereka lewati.
Mengambil napasnya dalam-dalam hingga berikutnya hidungnya kontan mampu menghidu aroma manis nan menyegarkan dari buket mawar di pelukannya, yang seolah mampu sedikit meringankan beban di pundak Prisha ketika akhirnya lengannya dengan berani mengetuk beberapa kali pintu ruang rawat yang berhasil ibu tempati berkat janji yang terlanjur Prisha beri pada Paradikta—well, kesannya memang seperti dia jual diri sih, tapi bukannya ibu memang sering menuduhnya begitu, dan katanya ibu adalah tangan kanan Tuhan, maka tak heran jika doanya mungkin telah dikabulkan, hal yang seolah makin menegaskan kalau ibu memang benar ibunya kan—serta, lantas mendorongnya pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jangan Ada Air Mata
General FictionPrisha nyaris menghabiskan dua windu hidupnya untuk mencintai seorang saja pria. Terjabak friendzone sedari remaja, Prisha tidak pernah menyangka jika patah hatinya gara-gara Paradikta menikah dapat membuatnya hampir mati konyol. Dia baru saja bebas...
