"Ibu ada yang perlu di-packing lagi?" Melempar tanya, Mbok yang sama jarang bicaranya dengan Prisha berdiri di ambang pintu.
Tadi begitu Prisha pulang di kamarnya memang sudah ada satu koper terkemas rapi di dekat pintu. Mbok bilang Paradikta lah yang memintanya untuk mempersiapkan keperluan Prisha. Meski dia tak terus terang bertanya, tapi agaknya pria itu memang telah bercerita bahwa Prisha akan segera meninggalkan Jakarta.
Bagaimana pun bila operasinya berjalan lancar ibunya butuh tinggal beberapa minggu untuk recovery. Sekretaris Paradikta bahkan berkata kalau di sana untuk sementara Prisha akan tinggal di penthouse milik sang atasan karena setidaknya dengan jadwal check-up, dan lain sebagainya minimal mereka harus bolak-balik rumah sakit dalam durasi di atas satu bulan. Owh, lupakan tentang penthouse yang terdengar sungguh berlebihan itu! Bukannya mau terus mengungkit soal masa lalu, tapi andai hal ini terjadi lebih awal Prisha rasa kendati bersedia membiayai perawatan ibunya pria itu akan lebih memilih membiarkannya luntang-lantung di emperan. Entah benar keajaiban atau justru direncanakan dalam tempo satu bulan kebersamaan pria kejam itu berubah haluan. Well, memanglah mengherankan. Bahkan, bilapun Prisha masih punya sisa rasa curiga itu wajar sih. Sebab, semakin banyak kebaikan yang coba Paradikta beri maka semakin Prisha merasa sedang ditunggu oleh balas budi.
Kemudian, walau tengah sangat terburu-buru tadi Prisha sudah menyempatkan menghubungi Mang Asep untuk lagi-lagi menitipkan kebunnya. Dia juga menyempatkan menghubungi Mona terkait penjualan mawar-mawarnya.
Lalu ....
Ya, sudah.
Bak didorong jatuh dari awan, Prisha seolah kembali diingatkan kalau tak ada siapa-siapa lagi yang akan kehilangannya meski dia tak ada. Nyaris tiga puluh tahun dia hidup, tapi ternyata pergaulannya betul-betul cuma selingakaran tempurung kumang.
Dengan kondisi macam itu, bayangkan jika sekali pun dia mati akankah ada yang datang ke pemakamannya? Jangankan repot menangis, menebar bunga, atau mendoakannya. Orang-orang yang mendengar namanya disiarkan dalam berita kematian pun agaknya akan bertanya-tanya siapa sih itu Prisha? Kematiannya tak akan menimbulkan duka-cita. Hitungan menit saja dia mungkin akan langsung dilupakan atau bahkan tak dianggap pernah ada presensinya. Kendati terkesan payah sekaligus menyedihkan realitasnya memang sungguh seremeh itulah eksistensinya.
Namun, begitulah jika dia selalu melihat keluar. Akan ada orang yang jauh lebih bahagia darinya, akan ada orang yang jauh lebih disukai darinya, akan ada orang yang jauh lebih diperhatikan darinya, dan seribu kelebihan lainnya yang membuatnya kecil. Tetapi, bila sekali saja dia melihat ulang hidupnya yang sekarang, Prisha tentu tahu bahwa dia tidaklah sendiri. Walau belum sepenuhnya diterima—rasanya, kalau Paradikta tak menakuti atau mengancam ibu, wanita tua itu mungkin sampai mati tetap tak mau melihat batang hidung Prisha juga bersinggungan dengannya—dia akan menemani ibunya. Setelah sekian lama Prisha yang lama merindu akan bisa tinggal lagi bersama ibu biar pun itu di rumah sakit. Kemudian, satu yang tak boleh lupa untuk Prisha syukuri saban hari bahwa dia juga kini punya ... Naga yang berharga.
Ah, ya Naga.
Siapa sangka kalau dalam waktu satu bulan saja alasan bertahan hidup Prisha yang semula hanya berkutat pada mawar-mawarnya sekarang mulai merambah untuk dapat mendengar suara lembut Naga yang memanggil-memanggil namanya, atau melihat senyumannya yang tulus nan menghangatkan, atau ... sejujurnya apa pun terkait Naga pada dasarnya membuatnya semangat bangun pagi meski itu hanya untuk membuatkannya sarapan, mengantarkannya pergi ke sekolah, maupun menungguinya pulang. Ini saja baru semalam mereka tak bersua, tapi Prisha merasa ada yang seolah hilang dari dunianya. Sesuatu yang bikin hatinya praktis seperti mencelus. Sesuatu yang cepat dia sadari bahwa hal itu tidaklah ... disukainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jangan Ada Air Mata
Ficción GeneralPrisha nyaris menghabiskan dua windu hidupnya untuk mencintai seorang saja pria. Terjabak friendzone sedari remaja, Prisha tidak pernah menyangka jika patah hatinya gara-gara Paradikta menikah dapat membuatnya hampir mati konyol. Dia baru saja bebas...
