"Hey, hey, tunggu sebentar !"
Pergelangan Wooyoung di tarik paksa.
Dihempasnya kasar cengkraman pria itu, Choi San.
Wooyoung sengaja memasang ekspresi wajah tidak bersahabat dengan harapan pria di hadapannya ini menyerah dan pergi, tapi San cukup muka tembok.
"Kita bertemu lagi," sapa San dengan senyum lebar yang sangat menjengkelkannya di mata Wooyoung.
Bola mata Wooyoung berotasi malas.
Ia hanya ingin pulang, tapi San terus menahannya dengan sengaja menghadangi jalan di hadapannya.
"Kau ingat aku, kan ?" tanya San.
"Tidak. Menyingkir dari hadapanku."
Saat Wooyoung mengambil jalan kiri, pria itu akan ikut bergerak ke arah yang sama sengaja. Lalu, saat Wooyoung mengambil arah kanan, pria itu lagi-lagi mengikutinya. San menundukkan wajahnya sedikit untuk melihat Wooyoung lebih dekat, yang di balas dengan sorot mata tajam mematikan milik si Jung.
"Ck, kau juga tidak mengerti bahasa manusia ?"
San tersenyum tipis. "Kau baru saja menjawabku."
"Lalu ?"
"Itu artinya kita bicara dengan bahasa yang sama ? Iya kan, Tu—ahh ! Bagaimana aku memanggilmu ? Kau harus mengatakan siapa namamu, supaya aku bisa memanggilmu dengan benar. Jadi, namamu ?"
"Dasar gila."
"Gila ? Siapa ? Aku ?" San tertawa renyah. "Ayolah, tidakkah panggilan itu terlalu kasar untuk aku yang baru saja menolongmu ? Kau lupa, apa yang terjadi di dalam ? Kalau aku tidak datang kau sudah pa— "
"Aku tidak meminta bantuanmu."
Ketus sekali, pikir San sekilas.
"Setidaknya katakan terima kasih. Bagaimana pun juga kita bukan orang asing, ya kan ? Dan aku juga sudah menolongmu dari masalah, kita juga pernah pernah menghabiskan malam bersama. Bukankah, paling tidak kita sudah bisa disebut, hmm teman ?"
"Teman ? Kita ?"
San mengangguk. "Ya teman, dan karena sekarang kita sudah berteman bagaimana kalau tukar nomor telepon ? Tidak ada salahnya kan menambah nama baru di kontakmu. Siapa tahu kita bisa, lebih dekat dari sekedar teman. Atau kalau kau tertarik kita— "
Wooyoung menatap lurus pria di hadapannya itu.
Kelereng tajamnya menelisik San dari atas, lalu ke bawah, dan kembali lagi ke atas. Senyuman miring mengejek Wooyoung tertarik didua ujung bibirnya.
"Teruslah bermimpi."
Desahan kecewa San terdengar. "Kenapa ? Anggap saja ucapan terima kasih. Aku sudah menolongmu, kau bisa terluka kalau aku tidak ada disana, lupa ?"
"Lebih baik begitu. Setelah aku pikir-pikir lagi, kau tidak ada bedanya dengan pria itu. Sama bajingan."
"Kau menyamakanku dengan pria seperti itu ? Aku tersinggung. Asalkan kau tahu, aku tidak memukul orang sembarangan, apalagi orang itu adalah, kau."
Wooyoung tertegun sesaat.
Selama sepersekian detik, jantung Wooyoung terus berdetak cepat tanpa alasan. Apa maksud pria ini ?
"Kalian sama saja ! Sama-sama bajingan kelebihan hormon yang isi otaknya hanya sex. Hah, aku tidak percaya. Bahkan nama kalian juga hampir sama ?!"
Rasanya kalimat barusan sudah cukup pedas.
Ekspresi pria itu pun berubah kontras. Membisu.
Wooyoung sudah siap kalau pria itu bisa memukul atau memakinya seperti kejadian di dalam tadi. Itu mungkin lebih baik di banding harus menjatuhkan harga dirinya untuk pria seperti San di dalam sana, atau untuk San yang ada di depannya sekarang ini.
![Desire | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/356043060-64-k87004.jpg)