"Sudah merasa lebih baik ?"
San melirik Wooyoung yang diam sedari tadi.
Keduanya sedang berjalan berdampingan.
"Maaf, aku lupa mengatakan padamu kalau daerah di sekitar sini memang selalu sepi saat malam hari. Banyak rumah yang sudah di tinggal kosong. Jalan yang tadi kau lewati gelap dan tertutup bangunan."
Wooyoung mendengarnya, tapi tidak bereaksi.
Isi pikiran Wooyoung tidak terfokus pada hal yang San jelaskan. Ia sedang sibuk dengan sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu mengutuk dirinya sendiri.
Jung Wooyoung, apa yang sudah kau lakukan ?
Kenapa kau memeluknya tadi ?
Kenapa kau menangis di depannya ?
Ada apa denganmu ?!
Kau baru saja mempermalukan dirimu sendiri !'
Wooyoung merasa sangat amat bodoh sekarang, ia bahkan tidak berani menatap si Choi. Pria itu pasti ingin mentertawakannya. Ia pasti terlihat cengeng.
Sialan.
Jujur, Wooyoung tidak pernah menebak kalau San akan menemuinya lagi. Wooyoung pikir malam itu adalah yang terakhir dan San pasti bosan padanya.
Tapi apa ini ?
Pria itu malah ada disampingnya sekarang.
Setelah meninggalkan Wooyoung sehabis bercinta, menghilang berhari-hari, lalu datang lagi di waktu yang tidak tepat. Saat si Jung lemah, dan terpuruk.
"Hey, Jung Wooyoung, kau dengar aku tidak ?"
"E–eoh ?" Ia menoleh tidak sengaja.
"Aku bertanya, apa kau sudah merasa lebih baik ?"
San berhenti mengikuti Wooyoung yang mendadak mematung. Pintu gerbang rumah Wooyoung sudah terlihat dari posisi mereka berdiri namun yang San temukan justru si Jung yang menghela napas berat.
Mata tajamnya menoleh pada San.
Di bawah cahaya rembulan, Wooyoung mengamati wajah polos San. Ada yang berbeda. Rambut hitam natural San yang menutupi kening. Biasa San akan menata rambutnya rapi ke atas. Well, pria itu lebih tampan dengan style barunya. Hanya pujian, tidak berarti apa-apa. Ia masih membenci San. Sungguh.
"Kenapa kau ada disini ?" tanya Wooyoung ketus.
"Untuk menemuimu."
"Kenapa ? Aku tidak punya urusan denganmu."
"Apa harus ada urusan dulu baru boleh bertemu ?"
"Apa jalang yang kau bayar tidak memuaskanmu ?"
"Jalang ?"
Wooyoung mendengus tidak percaya. Jadi, pria itu ingin pura-pura bodoh ? San pikir Wooyoung tidak mengerti maksud dari kedatangannya. Sudah pasti karena San menginginkan sex. Tidak ada yang lain.
"Pulanglah. Aku tidak akan melakukannya lagi."
Pria itu mengernyit. "Kenapa kau bisa berpikir aku datang untuk itu ? Well, aku tidak akan berbohong, aku menginginkannya. Aku menyukai malam yang kemarin dan juga sebelumnya. Tapi di banding sex yang kita lakukan, aku lebih menyukaimu. Hari ini aku datang bukan untuk itu, aku datang untukmu." Ia melangkah lebih dekat, mempertipis jarak. "Aku datang untuk lebih mengenalmu, Jung Wooyoung."
Detakan jantung Wooyoung begitu kencang.
San serius ? Pria itu tidak terlihat sedang bercanda dengan kata-katanya. Untuk seseorang yang sudah Wooyoung anggap bajingan, kalimat-kalimat yang keluar dari mulut San barusan membuatnya heran.
![Desire | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/356043060-64-k87004.jpg)