Ch.40 - Ketahuan

1.4K 108 10
                                        

Katakanlah ini insting, tapi sungguh, perasaan Wooyoung tidak begitu baik akhir-akhir ini.

Memang benar Wooyoung belum mendapatkan terror apapun setelah yang terakhir kali, tapi justru itulah yang membuatnya semakin khawatir. Seperti sesuatu yang jauh lebih besar akan terjadi sebentar lagi. Atau mungkin, sesuatu yang lebih berbahaya.

Terhitung sudah hampir satu bulan Wooyoung tinggal bersama San. Tidak ada banyak hal yang berubah diantara mereka, San masih sama, pria itu memperlakukannya dengan sama. Keduanya hanya menghabiskan waktu seperti pasangan kekasih pada umumnya. Tidur bersama, makan bersama, dan tentu saja, jangan lewatkan kegiatan panas di atar ranjang. Wooyoung bahagia saat bersama San, tapi ia tidak dapat menepis kekhawatiran dalam dirinya dengan mudah setelah apa yang terjadi.

Dan disinilah Wooyoung sekarang. Memutuskan untuk kembali lagi ke rumah sewanya, sendirian.

Wooyoung berbohong pada San. Wooyoung berkata pada pria itu kalau kelas terakhirnya akan selesai pukul lima sore, padahal ia sudah keluar tiga jam lebih cepat sebelum itu. Wooyoung tahu San pasti akan melarangnya untuk kembali ke rumah. Oleh sebab itu juga ia lebih memilih untuk berbohong dan melakukannya sendirian tanpa San.

Takut ? Tentu saja. Wooyoung ketakutan setengah mati, butuh waktu yang panjang untuk Wooyoung mengumpulkan keberanian. Wooyoung hanya butuh jawaban. Ia tidak bisa diam saja. Ia tidak bisa terus membiarkan rasa takut dan penasaran menghantui hari-harinya. Wooyoung harus tahu.

Apakah 'dia' memang benar-benar sudah kembali ?

Tangan kecil Wooyoung membeku digagang pintu. Tarikan dan helaan nafas panjang Wooyoung ulang berkali-kali. Bohong kalau Wooyoung bilang ia tidak gugup. Tubuhnya bergetar, bahkan kedua tungkainya terasa lemas, namun ia memutuskan tetap membuka pintu rumahnya dengan berani.

Gelap menjadi satu kata pertama yang paling bisa mendeskripsikan suasana. Wooyoung terburu-buru mencari saklar lampu untuk menerangkan ruangan. Seluruh barang masih terletak di tempat yang sama, tidak ada tanda-tanda seseorang baru membobol rumah atau sebagainya. Jari telunjuk Wooyoung menyapu rak disamping kiri, ada jejak debu kotor ditangannya. Wajar saja, sudah hampir satu bulan rumah ini tidak dibersihkan. Wooyoung yakin ada banyak debu dibalik kaki-kaki kursi.

Pemuda itu melirik jam tangan di pergelangan tangan yang baru menunjukkan pukul tiga kurang lima belas menit. Ia masih punya cukup banyak waktu untuk sedikit merapikan rumah sebelum San datang dan menjemputnya di sekolah nanti.

"Harusnya kalau hanya sedikit merapikan barang-barang tidak akan memakan waktu," gumamnya.

Wooyoung berjalan menuju bilik kecil dibalik dapur dimana ia menyimpan penyedot debunya. Sungguh, semua benar-benar terjadi secepat kedipan mata. Tepat disaat Wooyoung baru saja menggenggam penyedot debu ditangan kanannya, lampu ruangan mendadak padam begitu saja.

Buruk. Wooyoung mencoba untuk berpikir positif, namun detak jantungnya tidak bisa berbohong kalau sungguh ia mulai ketakutan. Sinar cahaya matahari dari luar masih bisa menembus jendela, tidak terlalu gelap, namun bukan itu masalahnya. Dentingan notifikasi dari balik saku celana yang membuat tubuh Wooyoung menegang. Tangan bergetarnya meraih ponsel dari saku, membuka satu pesan dari nomor tidak dikenal yang muncul di popup layar. Dan—BRUG—ia menjatuhkan ponsel hitamnya ke lantai sangking terkejutnya.

+82xxxxxxxxxx

Hai, babe. Miss me ?

Desire | WOOSAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang