🔞🔞🔞
"Kau yakin bisa tidur disini ?"
Kamar berukuran kecil yang mereka datangi sangat meragukan. Yunho sudah seharian menemani sang kekasih berkeliling di daerah sekitar untuk mencari tempat penginapan yang bagus dan layak, tapi pria itu malah lebih banyak menolak karena alasan jauh dari rumah Yunho. Lebih aneh lagi, dari banyaknya tempat yang lebih nyaman, pria itu justru memilih motel sepi pengunjung yang memang tidak terlalu jauh, hanya beberapa belokan dari rumah Yunho.
Ukuran kamar yang Mingi pilih juga tidak sampai setengah dari luas kamar pria itu sebenarnya. Ia tidak yakin Mingi bisa tidur nyenyak malam ini.
Jujur, Yunho sendiri saja kurang nyaman.
"Aku tahu kau tidak bawa baju ganti, jadi aku akan kembali ke rumah untuk mengambil beberapa baju yang bisa kau pakai. Kau bisa bersih-bersih dahulu, aku akan kembali lagi secepatnya," celetuk Yunho.
Belum sempat pemuda itu berbalik, pergerakannya terhenti sebab Mingi yang tiba-tiba menariknya ke dalam pelukan, merapatkan tubuh keduanya tanpa jarak dengan kedua lengan kokoh yang melingkar erat tepat di pinggang ramping milik pemuda itu.
Oh, ayolah, mereka sedang berada di kamar motel sekarang. Kalau saja orang lain sampai melihat ini, mereka akan mulai berpikir yang macam-macam.
Sialnya, senyuman nakal di bibir Mingi nampak sangat menyebalkan sekaligus menggemaskan.
"Yunho-ya, bisa tidak kau menginap disini malam ini ?" tanya Mingi dengan nada memelas. Pria itu menyenderkan kepala di pundak kiri sang kekasih, menikmati aroma tubuh yang menenangkan dari pemuda manis yang sangat ia rindukan sekarang.
Yunho tidak bisa berhenti tersenyum seperti orang bodoh. Nyawanya di buat melayang dengan Mingi yang bersikap manja padanya. Kalau Yunho harus mengingat kembali kejadian yang sudah berlalu, ia jadi bertanya-tanya bagaimana bisa kalimat 'putus' keluar begitu saja dari keduanya. Apa yang sedang Yunho pikirkan saat itu ? Ia benar-benar menyesal.
"Sayang, temani aku malam ini ya ? Aku sangat merindukanmu." Mingi mengendus leher jenjang Yunho, ia menggesekkan helai rambutnya disana membuat pemuda itu tertawa menahan rasa geli.
Yunho menepuk dada kekasihnya. "Hentikan, geli."
Pria itu menjauhkan dirinya untuk menatap manik indah Yunho yang sedang berbinar karena tertawa. Terlalu cantik, sampai Mingi pun menyesal pernah membuat pemuda itu menangisinya sebelum ini.
"Tidur disini bersamaku ya malam ini ? Ya ? Ya ? Aku tidak akan melakukan apa-apa, ... aku janji."
Yunho kembali terkekeh. "Aku mau, tapi kau tahu Ayahku akan mengamuk kalau dia sampai tahu."
Kalimat terakhir menampar Mingi pada kenyataan. Pria itu menghembuskan nafas berat setelahnya.
"Oh iya, aku lupa. Baiklah." Wajah merengut Mingi tidak bisa berbohong. "Kalau begitu ayo, aku akan mengantarmu pulang sampai ke rumah, ini sudah larut malam," ujarnya. Tentu saja karena terpaksa.
Yunho menahan pergelangan Mingi, mencegahnya mengambil kunci mobil. Yunho tahu pria itu pasti kecewa dan ia ingin mencoba menenangkannya.
Yunho sadar situasi mereka sedang sulit, ia jelas tahu Mingi sangat mengkhawatirkan itu. Yunho hanya ingin pria itu percaya kalau mereka akan baik-baik saja. Yunho harap Mingi bisa mengerti apapun yang terjadi ia akan tetap mencintainya.
Disaat pria itu memberikan ekspresi tanda tanya pada Yunho, ia membalas dengan sebuah ciuman tiba-tiba. Yunho mengalungkan tangan pada leher Mingi, menarik pria itu lebih dekat agar kembali bisa merengkuh tubuhnya dengan erat seperti tadi.
![Desire | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/356043060-64-k87004.jpg)