Ch.23 - Song Mingi

1.8K 142 7
                                        

Ini sudah ketiga kalinya Hyunjin menghampiri Wooyoung yang sedang duduk sendirian di kantin sekolah. Setelah makan malam canggung tempo hari lalu keduanya menjadi dekat, lebih tepatnya Hyunjin yang mendekatkan diri dulu. Wooyoung sempat khawatir wanita itu tersinggung dengan kata-katanya, tapi ternyata tidak. Semua berjalan biasa saja seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Wooyoung mencoba bersikap lebih ramah pada Hyunjin, wanita itu terlalu baik untuk diabaikan. Meskipun Wooyoung risih disaat seseorang masuk ke wilayah pribadinya, tapi ia mencoba menerima Hyunjin dan juga menganggap wanita itu sebagai seorang teman. Seperti sekarang ini, Wooyoung mendengarkan Hyunjin yang sedang asik bercerita tentang pengalaman mengajarnya di kelas hari ini.

"Anak jaman sekarang itu sangat sulit di nasihati, terkadang mereka bahkan bisa jauh lebih pintar daripada guru. Bertengkar, saling berteriak seolah aku tidak ada disana. Ouhh, sangat tidak mudah."

Hyunjin merengutkan wajah. Wanita itu nampak kelelahan. Anak-anak bertengkar didalam kelas dan ia tidak punya pilihan lain selain ikut turun tangan. Padahal biasanya hal seperti ini jarang pernah terjadi, tapi anehnya anak-anak terlihat begitu sensitif dan mudah tersinggung hari ini.

"Baru beberapa hari yang lalu kau bilang kau suka anak-anak," sindir Wooyoung. Ia sedang berusaha menikmati menu makan siang hari ini yang sayang, sama sekali tidak menggugah selera makannya.

"Ya, aku memang suka anak-anak, tapi terkadang kau tahu, mereka bisa bertingkah jauh lebih licik dan menakutkan daripada iblis. Mengerikan."

Wooyoung mendengus pelan. "Seburuk itu ?"

"Entahlah, aku rasa ada yang salah dengan udara hari ini, mereka begitu sensitif, bahkan terhadap hal-hal kecil seperti meminjam buku tulis. Kau tidak akan percaya, tapi aku dengar mereka bahkan berani mengumpat dengan kata kasar." Hyunjin meletakkan sumpitnya keatas meja. "Wooyoung-ah, kau pernah berada di posisi seperti ini ? Apa yang akan kau lakukan kalau kau disana jadi aku ?"

"Membiarkan mereka bertengkar, mungkin."

Wanita itu menjauh. "Tidak melerai ?"

"Melerai tidak selalu menyelesaikan masalah. Kita harus sadar, mereka hanya anak-anak yang sedang dalam tahap pengenalan diri. Meluapkan emosi dan perasaan hal yang wajar, setidaknya lebih baik daripada sama sekali tidak mengekspresikan diri."

"Ya, ada benarnya juga. Jadi, apa itu sebabnya kau selalu memperhatian anak bernama Kyungmin ?"

Pemuda itu mengangkat wajah. "Kyungmin-ie ?"

"Hmm anak pemalu yang tidak banyak bicara itu, kau sering melihat report nilai dan dokumen latar belakangnya dimejamu. Ada masalah dengannya ? Apa dia mulai membuatmu khawatir ? Aku seorang observan yang lihai, asal kau tahu. Dan yah, aku juga mengajar di kelas Kyungmin dan aku tahu."

Ya, beberapa minggu terakhir Wooyoung memang sedikit menaruh perhatian lebih untuk bocah kecil itu. Tingkah Kyungmin yang semakin hari semakin pendiam setelah percakapan mereka membuatnya khawatir. Kalau biasa Kyungmin masih bermain sendirian saat kelas olahraga, beberapa hari ini bocah itu hanya duduk diam dipojok lapangan.

Wooyoung tidak menegur, sepertinya bocah itu juga tidak ingin didekati. Saat jam istirahat tiba Kyungmin akan menghilang, bersembunyi disuatu tempat sampai bel kembali berbunyi. Entah apa yang ada diisi pikiran bocah itu, Wooyoung mulai merasa tak tenang memikirkannya. Ia khawatir.

"Anak itu memang sedikit ... misterius. Dia lebih sering melamun dan melihat keluar jendela. Aku sudah menegurnya beberapa kali, tapi aku rasa itu tidak berhasil. Apa karena itu ?" tanya Hyunjin.

Ternyata bukan hanya Wooyoung sendiri saja yang merasakannya. Jelas ada yang aneh dengan Jung Kyungmin. Sulit mengungkapkan perasaan dan tidak mau mengungkapkan perasaan adalah dua hal yang berbeda. Kyungmin jelas berada di opsi yang kedua dan itu menimbulkan banyak sekali pertanyaan dikepala Wooyoung. Apa yang terjadi ?

Desire | WOOSAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang