Ch.25 - Trauma

2K 148 12
                                        

Wooyoung kecil meringkuk takut di bawah kasur usangnya. Memeluk kedua kaki, dengan aliran air mata tiada henti. Wooyoung berusaha menutup kedua telinganya dengan tangan terus bergetar. Kamar dengan ukuran kecil berdinding tipis miliknya membuat suara teriakan dari ruangan sebelah terdengar begitu jelas hingga ke indera pendengarannya. Jeritan histeris dari seseorang disebelah terdengar begitu pilu dan menyakitkan.

Ini bukan yang pertama kalinya, tapi tetap saja Wooyoung tidak pernah terbiasa mendengarnya.

Suasana senyap untuk beberapa detik setelahnya. Wooyoung tahu tanda itu, si iblis sudah puas dengan siksaannya. Wooyoung mendongak untuk melihat jam yang tertempel di dinding kotornya, pukul 17.14 sore. Seharusnya Wooyoung keluar dari rumah lebih cepat, ia harusnya berada di taman bermain menaiki ayunan favoritnya. Andai Wooyoung bertindak sedikit lebih cepat maka ia tidak perlu berada disituasi seperti ini.

Tungkai pendek Wooyoung melangkah perlahan, mengintip dari balik pintu kayunya sebelum ia memberanikan diri keluar dari persembunyian. Wooyoung bisa melihat betapa berantakannya flat kecil mereka. Tumpukan piring kotor ada diwastafel, menimbulkan bau tak sedap. Flatnya persis kapal pecah, jauh dari kata layak. Tidak ada lampu yang menerangi ruangan. Rumah sepetak yang berada dibawah tanah membuat cahaya matahari tidak dapat masuk kedalam.

Wooyoung terjinjit, bergerak perlahan agar tidak membangunkan singa kelaparan yang akan siap menerkam apabila merasa terganggu. Beberapa langkah dari kamar kecilnya, Wooyoung melirik kearah ruangan dengan pintu sedikit terbuka disebelahnya. Itu adalah neraka, tempat sang iblis menyiksa korbannya. Wooyoung enggan mendekat, namun celah tipis dari pintu membuat insting penasarannya terus meronta penasaran.

Wooyoung bersembunyi di balik dinding, bola coklatnya mengintip dengan hati-hati kedalam ruangan gelap itu. Wooyoung tidak menemukan keberadaan si iblis, tapi ia melihat dengan jelas hal lain yang sontak membuatnya terkejut dan hampir menjerit. Wooyoung membekap mulutnya dengan kedua tangan, buliran cairan bening ia biarkan kembali mengalir membasahi pipinya. Wooyoung terisak tanpa suara. Kedua bahunya bergerak naik turun hampir tersesak kehilangan pasokan oksigen. Wooyoung melihatnya jelas, ia menyaksikan sesuatu yang tidak ingin ia lihat.

Seorang anak laki-laki sedang terbaring tidak berdaya dibawah lantai dingin dalam keadaan tidak berbusana. Wooyoung melihat bagaimana tubuh anak laki-laki itu bergetar lemah dengan bercak darah dilantai. Wooyoung tidak ingin menjelaskan lebih detail apa yang ia lihat, ini terlalu menakutkan untuknya. Tapi yang lebih mengejutkan lagi, Wooyoung bahkan kenal siapa anak laki-laki itu. Sangat mengenalnya malah.

"Beomgyu-ah ..."

Wooyoung merintih perih dari balik dekapan mulutnya. Wooyoung menangis, membayangkan jeritan kesakitan yang sedari tadi ia dengar adalah milik teman sekelasnya membuat ia shock berat. Wooyoung memang masih terlalu kecil untuk mengerti urusan orang dewasa, tapi ia jelas tahu apa yang sudah terjadi didalam sana.

Iblis itu sudah 'menyentuh' temannya.

Wooyoung merasakan kesakitan dibagian dada. Tungkainya berjalan mundur dengan perlahan ingin segera melarikan dari neraka ini, namun netranya tidak sengaja bertemu dengan milik Beomgyu. Bocah itu menatapnya dengan air mata yang mengalir deras lewat ekor mata.

Wooyoung mematung ditempat ketika bibir kering Beomgyu terbuka perlahan, bocah itu menggumamkan sesuatu yang sayangnya tidak bisa ia dengar. Wooyoung begitu frustasi dengan dirinya sendiri ketika telapak kecil Beomgyu terangkat keudara berusaha menggapainya.

Kaki Wooyoung terpaku, ia tidak bisa melarikan diri meskipun hatinya sudah berteriak untuk pergi. Beomgyu, teman kecilnya mengucapkan sesuatu lewat bibirnya, bocah itu benar-benar sudah terlihat seperti mayat hidup dengan kondisi menyedihkan. Wooyoung berusaha menajamkan penglihatan, membaca gerakan bibir Beomgyu dengan seksama sampai akhirnya ia sadar apa yang bocah itu berusaha sampaikan padanya.




Desire | WOOSAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang