Ch.78 - Rahasia

1.4K 83 11
                                        

Wooyoung keluar dari kamar dengan wajah panik, pasalnya ia tidak menemukan Choi San disamping ranjangnya saat ia terbangun. Padahal biasa pasti San akan menunggu sampai Wooyoung membuka mata, tapi pagi ini pria itu meninggalkannya. San juga meninggalkan ponselnya di atas meja nakas.

"San-ie ?" panggilnya.

Netra Wooyoung menyusuri area ruang tamu lalu dapur tapi San tidak ada disana. Kosong, rumah benar-benar rasanya seperti tidak berpenghuni.

Percayalah Wooyoung khawatir.

Bagaimana kalau sesuatu terjadi ?

Ya, pikiran konyol seperti itu kembali menghantui Wooyoung. Terakhir kali San menghilang, pria itu berakhir dalam bahaya. Wooyoung sungguh masih trauma berat kalau harus mengingat kejadian itu.

Wooyoung memakai sandal rumah dengan cepat, hendak berlari keluar mencari keberadaan sang kekasih meskipun sebenarnya ia juga tidak tahu kemana kiranya pria itu pergi pagi-pagi buta tadi.

Belum sempat Wooyoung meraih gagangnya, pintu sudah lebih dahulu di buka dari luar, menunjukkan sosok San yang baru saja kembali sambil membawa setenteng kantung kresek di tangan kiri. Wooyoung dan San sama-sama mematung di tempat. Pria itu berdiri di depan pintu dengan ekspresi kaget ketika mendapati Wooyoung yang seperti akan menangis.

Wooyoung langsung berhambur ke dalam pelukan San, membuat pria itu kebingungan melihatnya.

"Kau pergi kemana ?! Kenapa kau tidak membawa ponselmu ?! Kenapa tidak bilang padaku dulu ?!"

"A–aku... " Pria itu terbata. "Aku ... hanya keluar sebentar untuk membeli sarapan di depan gang."

San menuntun Wooyoung untuk masuk ke dalam rumah. Pemuda itu enggan melepaskan San meski sang kekasih tengah kesusahan melepas sandalnya. Wooyoung menempel dan mengamati kekasihnya itu, menantikan sebuah penjelasan lebih dari pria itu. Ya, mungkin Wooyoung terdengar berlebihan, tapi percayalah ia benar-benar sangat ketakutan.

"Aku hanya keluar untuk membeli sarapan," ulang San lagi. Setelah meletakkan belanjaan bawaannya keatas meja pantry, pria itu menarik Wooyoung ke dalam pelukannya. "Maaf, belakangan ini aku lihat kau kurang tidur. Kau terlihat kelelahan, aku tidak  tega membangunkanmu. Maaf ya, ... lain kali aku pasti akan mengabarimu dulu sebelum aku pergi."

"Lain kali bangunkan aku. Jangan pergi tiba-tiba. Kau tidak tahu apa yang aku rasakan saat aku tidak bisa menemukan disampingku, ... aku khawatir."

"Baiklah, aku mengerti, maafkan aku."

San melepas pelukannya, memberikan kecupan di dahi Wooyoung lalu turun ke bibir pemuda itu.

"Aku membeli soft tofu dan kimchijiggae, kau mau sarapan dulu sebelum mandi ?" tanyanya lembut.

Wooyoung menganggukkan kepalanya, ia duduk dengan manis di kursi makan sembari menunggu San menyiapkan menu sarapan mereka di meja.

Setelah selesai menghangatkan nasi, pria itu ikut duduk di samping Wooyoung. Menit demi menit berlalu, waktu sarapan mereka lebih banyak dilalui dengan keheningan. Sesekali San meletakkan lauk diatas sendok makan Wooyoung lalu pria itu akan kembali menaruh fokus pada makanannya sendiri.

Entahlah, Wooyoung merasa seperti ada yang aneh dengan San pagi ini. Sikap pria itu sedikit berbeda.

"San-ah ?" panggil Wooyoung.

Pria itu hanya berdeham sebagai jawaban tanpa menoleh pada Wooyoung. Tidak seperti biasanya.

"Boleh tidak aku kembali bekerja minggu depan ?"

San menyuapkan sesendok nasi putih sebelum ia membalas, "Kau yakin ? Apa tidak terlalu cepat ?"

"Itu, aku sudah mengambil jatah cuti terlalu lama. Ya, meskipun mereka tahu aku masih dalam masa pemulihan, tapi tetap saja. Aku beruntung karena pihak sekolah belum mengeluarkan surat untukku, kau juga tahu itu kan ?" ujar Wooyoung sekali lagi.

Desire | WOOSAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang