San menggenggam selembar foto ditangan kirinya dengan ekspresi marah. Sorot matanya melirik Wooyoung yang masih nampak duduk lemas di sofa. Pemuda itu tertunduk dalam, dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Tanpa perlu dijelaskan San sedikitnya mampu menebak apa yang sedang terjadi sekarang, namun sungguh, ia juga ingin mendengar sedikit penjelasan dari pemuda itu.
Jujur, San sudah mengetahui ini sejak lama, ia tahu ada sesuatu yang Wooyoung simpan darinya. Berkali-kali sudah San mencoba untuk membahas tentang ini, berkali-kali juga Wooyoung berusaha menghindar. San hanya berusaha menghargai setiap keputusan Wooyoung untuk tetap diam, tapi kalau sudah sampai sejauh ini, rasanya ia tetap akan meminta penjelasan meskipun harus dengan cara memaksa. San juga berhak tahu. Iya kan ?
"Young-ah," San duduk disamping Wooyoung, ia mengaitkan jemarinya pada pemuda itu, memaksa untuk bersitatap mata. "Aku kekasihmu, dan kita saling mencintai, iya kan ? Bukankah seharusnya aku juga punya hak untuk tahu apa yang sedang terjadi padamu ? Kalau kau diam saja, aku tidak akan bisa mengerti. Sayang, katakan sesuatu."
"San-ah, aku ... "
"Apa kau percaya padaku ?"
Wooyoung menganggukkan kepala sebagai jawaban. Wooyoung tidak akan berjalan sejauh ini kalau ia tidak percaya pada pria itu sejak awal.
"Kalau begitu, bisa kau ceritakan tentang ini ?" San menunjukkan foto yang sedari tadi ada padanya. "Siapa dia, dan apa hubungannya denganmu. Apa yang dia lakukan sampai membuatmu seperti ini ?"
Wooyoung terdiam, namun San bisa merasakan getaran tremor dalam genggamannya. Wooyoung ketakutan, setiap saat San menunjukkan wajah pria yang ada dalam foto, pemuda itu membuang wajah seakan enggan melihatnya. Tentu saja hal seperti ini semakin menimbulkan banyak tanda tanya dalam kepala San. Apa yang sedang terjadi ?
"Sayang, coba lihat aku aku." Pria itu mengusap punggung tangan Wooyoung, menenangkannya. "Tarik nafas yang dalam, dan ceritakan padaku pelan-pelan. Tidak perlu pikirkan hal lain, tidak ada yang bisa menyakitimu selama aku ada disini."
Wooyoung mengikuti arahan San, ia menarik nafas sebanyak mungkin lalu menghembuskannya secara pelan. Jantungnya yang sedari tadi memompa dengan cepat perlahan kembali berdetak normal. San tidak pernah sedetik pun melepaskan kaitan tangannya, itu semakin membuat Wooyoung yakin kalau ia akan baik-baik saja. Sedikit demi sedikit Wooyoung mencoba menggali kembali memori masa lalu, bibirnya bergetar gugup setiap kali ia hendak mengucapkan kalimat pertama, namun San dengan sangat hati-hati membimbingnya.
"Pelan-pelan, tidak apa," ucap pria itu.
"D–dia, dia ... mantan kekasihku. Seo Changbin."
Oke, nama itu jelas terdengar asing ditelinga San. Sejauh San mengamati wajah pria bernama Seo Changbin itu, ia belum menemukan keanehan apa-apa. Changbin dan Wooyoung bahkan tersenyum lebar dalam foto, layaknya pasangan yang bahagia. Sangat berbanding terbalik dengan ekspresi wajah ketakutan Wooyoung yang San lihat sekarang.
"A–aku, aku tidak tahu," Wooyoung menggigit bibir bawahnya. "Aku tidak tahu apa yang salah, hubungan kita baik-baik saja, aku bahagia saat bersamanya dan dia juga bahagia bersamaku. Setidaknya sejauh ini, itu yang aku percaya. Tapi, ... tapi tiba-tiba saja dia berubah. Aku tidak tahu."
"Wooyoung-ah, pelan-pelan saja." Pria itu khawatir dengan Wooyoung yang berubah panik dan gelisah ditempatnya. Pemuda itu kembali tersesak dalam setiap pelafalan kata-katanya.
"Aku hanya pergi makan malam dengan temanku saat itu, ... dan, d–dan tiba-tiba saja dia berubah menjadi monster mengerikan saat aku pulang. Dia bilang aku akan meninggalkannya, dia menuduhku berselingkuh, dia bilang aku tidur dengan pria lain dibelakangnya. Aku sama sekali tidak mengerti. Aku akui dia memang posesif dan temperamental selama kita berkencan, tapi aku kira semua hanya sebatas itu. Aku juga tidak tahu alasan kenapa dia bisa berubah, aku benar-benar tidak tahu San-ah."
![Desire | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/356043060-64-k87004.jpg)