Ch.44 - Psycho (2)

1.3K 102 18
                                        

Sabtu pagi ketika San terbangun dari tidurnya, ia tidak menemukan Wooyoung disamping ranjang. Pemuda itu meninggalkan San dalam balutan selimut yang menutupi tubuh telanjangnya setelah semalaman menghabiskan malam panas bersama. San panik, entah mengapa setiap saat Wooyoung tidak berada dalam jarak pandangnya ia akan menggila dan gelisah sendirian. San ketakutan.

San mengenakan pakaiannya asal, mengambil ponsel disamping nakas dan berjalan menuruni tangga dengan langkah terburu-buru. Ia menekan angka satu pada ponselnya untuk tersambung pada Wooyoung namun—tunggu. Suara dering ponsel Wooyoung terdengar tidak jauh dari tempatnya.

Bahkan sangat dekat.

Dalam radius beberapa meter didepan, Wooyoung sedang berdiri didepan balkon—lagi—sendirian. San bernafas lega setelahnya. Demi Tuhan, San hampir saja kehilangan akal sehatnya barusan.

"Kenapa kau tidak membangunkanku ?"

Wooyoung yang sedang tenggelam dalam lamunan menoleh begitu merasakan pelukan seseorang dibagian pinggang. Secangkir coklat panas dalam genggaman tangannya hampir terjatuh karena terkejut akan eksistensi San yang terlalu tiba-tiba.

"Oh ! Sudah bangun ? Kau mengagetkanku."

"Aku kira kau menghilang," keluh San sembari memberikan kecupan manja di bahu Wooyoung yang sedikit tersingkap karena piyama longgar pemuda itu. "Lain kali bangunkan aku juga."

"Aku sengaja. Kau terlihat lelah beberapa hari ini, jadi aku hanya ingin kau istirahat lebih lama."

Pria itu mengangkat kepalanya. "Tunggu dulu. Bukankah harusnya aku yang mengatakan itu padamu ? Kemarin malam kau terlihat san— "

"Tsk, hentikan, aku tidak mau mendengarnya."

Wooyoung menyunggingkan senyuman tipis malu-malu, ia mengerti kemana arah pembicaraan San dan sungguh ia tidak ingin mendengarnya. San hanya akan membuat Wooyoung mulai kembali membayangkan tubuh berotot pria itu dalam otak kotornya dan sungguh hal itu sangat memalukan.

"Oke, tapi kau juga butuh istirahat," ucap San mencoba meyakinkan. "Aku tidak melihatmu tidur dengan nyenyak akhir-akhir ini, dan juga, kau selalu bangun terlalu pagi. Bagaimana kalau nanti kau jatuh sakit karena kurang istirahat ? Selagi hari ini libur, manfaatkan waktu tidurmu lebih lama."

"Hmm, aku lebih suka menikmati hari liburku seperti ini." Pemuda itu bersandar nyaman didada sang kekasih. "Bermesraan denganmu, berdua."

San tersipu dengan kalimat Wooyoung barusan. Pemuda itu perlahan mulai bisa menunjukkan sisi romantisnya, dan San suka itu. Membayangkan bagaimana San yang berusaha meluluhkan hati Wooyoung dulu, penuh dengan perjuangan. Kini jerih payahnya mulai membuahkan hasil, San mendapatkan perhatian dari pemuda itu seperti yang selama ini ia inginkan. Benar-benar sebuah keajaiban yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

"Ada apa denganmu, kenapa dari kemarin kau jadi romantis seperti ini ?" Pria itu menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Wooyoung gemas. "Aku jadi malu. Aku suka, tapi aku belum bisa terbiasa."

"Hentikan, geli." Keluh Wooyoung ketika Choi San mengendus lehernya seperti seekor anjing.

"Kau lapar ? Mau kubuatkan sesuatu ?"

Pemuda itu mendelik ragu. "Apa tidak terbalik ? Harusnya aku yang bertanya padamu, memangnya kau bisa masak ? Paling hanya ramyeon, kan ?"

San terkekeh. "Tidak, tapi aku bisa pesan makanan dan menatanya di meja. Kau mau makan apa ?"

Wooyoung mendengus mendengarnya. "Sudah kuduga." Pemuda itu melepaskan pelukan pada pinggangnya. "Aku akan lihat bahan makanan apa yang masih ada di kulkas. Bagaimana kalau nasi goreng sederhana ? Atau bibimmyeon ? Aku ingat masih ada beberapa bungkus mie di lemari atas."

Desire | WOOSAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang