Ch.46 - Menghilang

1.4K 106 6
                                        

Bau-bau obatan begitu menyengat. Dinginnya udara disekitar membuat San menggigil, ia bisa mendengar suara mesin yang berdetak disebelah telinganya dengan nyaring. Dua kelopak mata San berusaha terbuka, ia masih mencoba membiasakan diri dengan sinar cahaya ruangan yang tiba-tiba menembus pandangannya. Kening San berkerut samar ketika pusing menyerang puncak kepalanya, ruangan putih itu serasa seperti berputar-putar.

Begitu sulit untuk fokus pada situasi yang sedang terjadi, sampai San sudah mendapati dua perawat wanita dan seorang dokter dengan alat stetoskop menggantung di leher sedang berdiri didepannya.

San hanya terdiam, bingung di saat dokter itu mengarahkan senter pada kedua bola matanya secara bergantian, kiri lalu pindah ke kanan.

"Choi San-ssi, apa anda bisa mendengar saya ?"

San menganggukkan kepala sebagai jawaban. Jelas ia bisa mendengar, ia tidak tuli. Dan juga, dokter itu berbicara dengan suara lantang dalam jarak sedekat ini. Konyol kalau San tidak mendengarnya.

"Pasien sudah siuman." Dokter itu menjelaskan kondisi San pada seseorang di belakangnya.

"San-ah ? Kau sadar ?"

"Hey, dude, katakan kalau kau masih ingat aku."

Dahi San kembali tertekuk. Butuh waktu beberapa detik sampai San bisa mengenali sosok dua pria yang kini berdiri disamping tempat tidurnya. Yang berambut hitam dengan mata sipit itu, Song Mingi. Dan berambut coklat terbagi tengah dengan tindik hitam di telinga kanannya itu, Choi Yeonjun.

"Kenapa dia diam saja ?" Yeonjun menoleh pada sang dokter. "Tolong lakukan sesuatu, temanku tidak bisa bicara. Apa dia jadi bisu sekarang ? Apa, jangan-jangan ... dia tidak mengenaliku lagi ?"

Terlalu hiperbola.

Choi Yeonjun terlalu banyak drama, dan anehnya Mingi juga sepakat dengan pria itu. Keduanya terlihat bodoh disaat mereka terus mendesak dokter dan suster melakukan sesuatu pada San.

"Choi San-ssi, tolong katakan apa ada sesuatu yang membuat anda merasa tidak nyaman sekarang ?"

Kepala San terasa sangat berat seakan ada ribuan jarum yang menusuk dibalik rambutnya. Jujur, San belum bisa mengingat apa-apa. San tidak ingat bagaimana ia bisa berakhir di rumah sakit dan terbaring tidak berdaya seperti ini. San mencoba untuk memutar memorinya tapi tetap tidak bisa.

Isi otak San kosong, tapi ia yakin ia tidak hilang ingatan. Buktinya San masih mengenal Mingi dan Yeonjun, dua orang sahabatnya, dengan baik.

"B–bagaimana ... ?" Bibir kering San berusaha bergumam dengan suara pelan yang serak.

Satu kata itu berhasil membuat Mingi dan Yeonjun kembali berteriak heboh. Mungkin mereka sangat antusias dengan fakta bahwa San tidak jadi bisu. Entahlah, San tidak terlalu peduli dengan reaksi mereka. Ia masih terlalu sibuk mencerna situasi.

"Anda dirawat dirumah sakit setelah jatuh pingsan. Ada luka dikepala anda, tidak terlalu besar, namun cukup untuk membahayakan nyawa kalau saja anda tidak segera dibawa kesini," jelas sang dokter.

San kembali mengangguk paham—atau lebih tepatnya berpura-pura paham. Ia masih berusaha mengolah setiap kalimat penjelasan itu dengan baik dikepalanya. Pingsan, luka, dan rumah sakit adalah kata yang terdengar begitu asing untuk San.

Maksudnya, bagaimana bisa ?

Kenapa San tidak bisa mengingat apapun saat ini ?

"Sepertinya anda masih shock pasca kejadian, saya sarankan untuk beristirahat dan jangan bergerak terlebih dahulu untuk satu hari ini. Anda masih harus dirawat selama beberapa hari agar kami bisa terus memantau perkembangan kondisi anda."

Desire | WOOSAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang