Entah sudah berapa kali Wooyoung menghela dari tadi. Pria yang tengah duduk di seberangnya masih memasang tampang mesum. Kerlingan mata nakal pria itu seolah ingat menggoda Wooyoung. Dan itu menyebalkan. Dari sekian banyaknya pria di dunia yang pernah Wooyoung temui, pria ini adalah yang teraneh dan paling membuatnya frustasi. Sungguh.
"Aku dengar, Jane bilang kau mencariku. Jadi, apa aku mengenalmu ? Apa kita punya urusan ? Sejauh ingatanku, aku tidak berhutang apa-apa padamu ?"
Wooyoung melipat kedua tangan di depan dada, ia angkat tinggi dagunya, memasang ekspresi arogan.
"Choi San, kau tahu namaku tapi kenapa kau terus berpura-pura tidak ingat ? Membuatku sedih saja."
"Karena itu tidak penting."
"Aku hanya ingin berkenalan, bisakah kau bersikap lebih ramah padaku, eoh ? Sedikitt saja," pinta San.
"Tidak mau."
"Ayolah, apa aku melakukan kesalahan padamu ?"
"Ya, eksistensimu adalah kesalahan. Aku terganggu karena kau terus mencari tahu informasi tentangku dari orang-orang di sekitarku, kau seperti stalker !"
"Oh, apa karena itu kau menghindar ?"
Wooyoung mendengus. "Menghindar ? Dari siapa ? Darimu ? Yang benar saja, memangnya kau siapa ? Aku tidak takut, dan aku tidak punya alasan untuk menghindar darimu. Hanya saja kau mengganggu."
Entah mengapa San menyukai fakta bahwa mereka sedang berdebat sekarang. Meski Wooyoung masih memasang ekspresi garangnya, tapi di mata San itu sama sekali tidak membuatnya menyerah. Semakin si Jung menolaknya, semakin besar San penasaran.
"Jadi kau mengaku kalau aku mengusik pikiranmu akhir-akhir ini ? Kau memikirkanku juga, ya kan ?"
Wooyoung mengernyit. "Apa ?"
Lama-lama kesabaran Wooyoung akan habis kalau terus berhadapan dengan pria seperti San. Apa San tidak bisa membedakan mana arti sarkas dan mana yang tulus memuji ? Pria itu hanya pura-pura kan ?
San hanya ingin mempermainkannya.
"Apa yang kau inginkan dariku ? Jangan bilang ini masih karena malam itu ?" Si Jung mendesah. "Itu hanya sex. Kenapa kau terus bertingkah seolah aku berhutang sesuatu ? Jelaskan, apa yang kau mau ?"
Wooyoung tidak pernah terlihat frustasi seperti ini sebelumnya. Ia hanya tidak mengerti apa yang pria itu harapkan darinya. Wooyoung ingin ketenangan.
Baginya, one night stand bukan hal yang penting.
Seperti yang sudah ia katakan, itu hanya sex.
Semua sudah berlalu. Keduanya sama-sama sudah mendapatkan kepuasannya dan tidak ada lagi yang perlu di bahas di antara mereka, tapi mengapa San terus menghantui Wooyoung seperti ini ? Kenapa ?
"Kau berhutang padaku, ... nama."
"A–apa ?"
"Nama, kau tidak memberitahuku siapa namamu."
"Aku tidak merasa aku harus memperkenalkan diri padamu, lagipula kita tidak akan berhubungan lagi setelah itu kan ? Kau hanya orang asing bagiku dan selamanya akan terus seperti itu," balas Wooyoung.
"Siapa yang tahu apa yang akan terjadi besok ? Kau mungkin akan membutuhkanku. Atau bisa jadi kita akan punya hubungan lebih dari sekedar ... teman."
Lebih dari teman katanya ?
Sampai dunia jungkir balik pun Wooyoung tak sudi menjalin hubungan lebih dengan San. Tidak akan !
"Kau mabuk ya ?"
![Desire | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/356043060-64-k87004.jpg)