"Jung Wooyoung ! Ya !!"
Pemuda manis yang sedang tertidur dengan posisi meringkuk itu mulai menggeliat tak tenang. Suara bel rumahnya terus berbunyi tanpa henti, seorang tamu gila baru menekannya secara membabi buta.
Ditambah lagi dengan teriakan melengking tajam yang menusuk telinga. Orang yang mendengar itu pasti juga akan ikut terbawa emosi. Seperti dirinya.
"Buka pintunya, Jung Wooyoung !!!"
Pemuda itu berdecak, ia terbangun, duduk tegap dengan posisi mata setengah terbuka dan sembab.
Pandangan Wooyoung berputar untuk beberapa waktu dan ia meringis saat denyutan menjalar di puncak kepala. Efek dari alkohol. Lebih aneh lagi, Wooyoung tidak bisa mengingat apapun, ia tidak ingat bagaimana caranya ia pulang dengan aman kerumah. Memori terakhir Wooyoung terpotong diwaktu ia dan Kim-ssaem saling berpelukan dan masih bernyanyi di ruangan karaoke. Aish, sialan.
Wooyoung benci mabuk.
DRTT DRTT
Ponsel Wooyoung berada dibawah lantai. Lagi dan lagi Wooyoung bertanya pada dirinya sendiri soal ini, bagaimana bisa ? Tapi cepat-cepat ia hiraukan setelah membaca nama Jung Yunho di layarnya.
Oke, setelah ini Yunho pasti akan mengoceh.
"Ha— "
'BUKA PINTUNYAA !!!'
Wooyoung refleks menjauhkan ponselnya dari telinga demi menjaga indera pendengarannya.
Jujur, semakin lama tingkat kesabaran seorang pemuda bernama Jung Yunho semakin menipis.
Entah karena Yunho terlalu banyak mendapatkan pengaruh negatif dari kekasihnya Mingi atau ada alasan lain. Sahabatnya itu jadi sering mengomel tidak jelas dan ia terus menjadi sasaran utamanya.
Tungkai Wooyoung berjalan malas ke arah pintu, sudah bisa ia bayangkan bagaimana wajah Yunho diluar sana, pasti sedang menahan emosi. Ketika Wooyoung membuka pintu rumah, pemuda tinggi itu langsung berlari memeluknya sampai ia kaget, dan netranya tidak sengaja bertemu dengan Mingi.
Apa ini ? Apa yang terjadi ?
"Kenapa kau tidak angkat telponku dari kemarin ? Kau tahu aku sangat khawatir sekali," lirih Yunho.
"A—aku ... memangnya aku tidak bilang padamu kalau aku tidak akan mampir kemarin malam ?"
Pemuda tinggi itu menggelengkan kepala. "Kalau aku tahu, apa menurutmu aku akan sepanik ini ?"
Aneh, mengapa Wooyoung merasa seperti ia sudah mengatakan pada Yunho soal ini ? Atau itu hanya ada dalam ingatan pendeknya saja ? Entahlah, isi kepala Wooyoung terasa panas ketika ia mencoba mengingat kembali memori dari kemarin malam.
"Syukurlah kau masih hidup." Mingi melenggang masuk, ia melewati Yunho dan Wooyoung tanpa merasa bersalah dengan kata-katanya. Wooyoung sudah maklum, Mingi memang seperti itu padanya.
"Kau mabuk ? Bajumu bau alkohol."
"Ya, aku rasa, mungkin ? Kemarin aku ada janji makan malam bersama guru-guru di sekolah."
Yunho mendekati Mingi yang kini sudah duduk di sofa memainkan ponselnya, sambilan Wooyoung berjalan ke arah dapur mengambilkan dua kaleng minuman untuk tamu yang tidak diundangnya itu.
Kepanikan Yunho mereda tergantikan raut muka khawatir saat melihat kondisi Wooyoung pagi ini. Sebenarnya Wooyoung terlihat baik-baik saja dari luar, namun aura gelap seakan terus menyelimuti sekitarnya tidak peduli seberapa besar usaha dari pemuda Jung itu mencoba menyembunyikannya.
Wooyoung seperti seseorang yang menjalani sisa hidupnya monoton tanpa arah dan juga tujuan.
"Kau ada kelas hari ini ?" tanya Yunho.
![Desire | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/356043060-64-k87004.jpg)