Ch.35 - Lean On You

1.6K 131 11
                                        

Wooyoung tidak pernah terlihat se bahagia ini sebelumnya. Untuk pertama kalinya pemuda itu tersenyum ramah, menyapa murid serta rekan kerjanya yang lain tanpa alasan. Orang-orang mulai menganggap hal ini aneh, tidak terkecuali Hyunjin sekalipun. Wanita itu terheran-heran dengan wajah ceria Wooyoung yang tidak terlihat seperti biasanya. Jelas sesuatu telah terjadi, dan hanya Wooyoung sendiri yang tahu penyebabnya.

"Kabar baik apa yang kau punya hari ini ?" Hyunjin berdiri di samping meja pemuda itu penasaran.

Wooyoung menoleh dengan cengiran lebar di wajah. "Tidak ada, kenapa ?" jawabnya singkat.

"Padahal aku selalu berusaha membuatmu tertawa, tapi baru sekarang aku melihatmu sebahagia ini."

"Bukan begitu, kau juga menyenangkan. Hari-hariku mengajar banyak terhibur karenamu."

Jelas sudah dari jawaban Wooyoung kalau ia tidak menganggap Hyunjin lebih dari sekedar teman seperti yang wanita itu harapkan. Bohong kalau Hyunjin tidak kecewa, tapi entah mengapa rasanya tidak sesakit diawal. Mungkin karena jauh didalam lubuk hati Hyunjin, ia juga sudah tahu alasannya.

Bisa menjadi teman dekat Wooyoung saja sudah menjadi kesempatan tersendiri untuk wanita itu.

"Well, aku tersanjung kalau kau terhibur." Hyunjin mengangkat bahu mencoba acuh. Ia meletakkan sebuah amplop kecil putih kehadapan Wooyoung, namun kali ini ekspresi wajahnya sedikit berubah. "Sebenarnya aku tidak bermaksud untuk merusak hari bahagiamu, tapi aku rasa kau juga harus lihat ini. Aku baru dapat informasi dari Jung-ssaem, dan kau pantas tahu karena aku yakin disini, kau salah satu guru, atau mungkin satu-satunya guru yang benar-benar peduli pada Jung Kyungmin." 

Mendengar nama familiar itu sontak merubah raut wajah Wooyoung. Senyumnya luntur. Benar juga, tentang Kyungmin. Bagaimana kabar bocah itu. Wooyoung terlalu tenggelam dalam masalahnya pribadinya sendiri sampai lupa hal penting ini.

"Surat apa ini ?" Wooyoung mengeluarkan secarik kertas putih dengan tulisan tangan berantakan dari dalam amplop. "Ada apa dengan Kyungmin ?"

"Kau tidak akan senang mendengarnya, tapi ini surat dropout. Dari Ayahnya Kyungmin sendiri."

Jantung Wooyoung berdetak kencang selanjutnya. Wooyoung belum bercerita pada siapapun tentang apa yang ia dengar saat berkunjung kerumah bocah itu, termasuk pada Hyunjin. Kalau wanita itu tidak membuka suara mungkin Wooyoung benar-benar akan melupakan kejadian hari itu. Wooyoung jadi merasa bersalah karena ia sempat merasakan yang namanya bahagia disaat bocah sekecil Kyungmin sedang menangis ketakutan dan tersiksa sendirian.

"Jadi, maksudmu, Ayahnya hanya meninggalkan sepucuk surat ini ke sekolah ?" tanya Wooyoung.

"Ya, Jung-ssaem sempat mencoba membujuknya. Aku tidak tahu apa saja yang mereka bahas, tapi yang jelas Ayahnya tetap kekeh agar Kyungmin berhenti dari sekolah. Alasan finansial, katanya."

"Apa ?!" teriak Wooyoung. "Ini tidak masuk akal !"

"Ya, ya, aku tahu. Semua orang juga berpikir begitu, tapi mau bagaimana lagi ? Dia Ayahnya. Mungkin ini juga alasan kenapa Kyungmin lebih banyak absen dari kelas selama satu bulan ini."

"Tetap saja. Apapun itu alasannya, Kyungmin tidak seharusnya sampai berhenti sekolah seperti ini."

Wooyoung berdiri dari duduknya lantang. Suara kursi yang terdorong kebelakang berhasil menarik perhatian beberapa orang disekitar. Pemuda itu terlalu emosional sekarang. Sorot matanya penuh dengan amarah, frustasi, dan juga ketakutan yang bercampur menjadi satu. Sekelibat memori akan kejadian di rumah Kyungmin menghantuinya.

"Semua itu bohong. Alasan finansial atau apapun yang lelaki itu katakan, semuanya tidak benar. Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya, tapi kau harus percaya. Kyungmin dalam bahaya, kita harus melakukan sesuatu untuk menolongnya."

Desire | WOOSAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang