Warning :
Bagian ini mengandung unsur dewasa yang mungkin bisa membuat sebagian orang merasa tidak nyaman. Silahkan tinggalkan chapter ini kalau kalian masih dibawah 21 tahun.
Tolong lebih bijak saat memilih bacaan ya 😊
🔞🔞🔞
Sesak, dada Wooyoung bergerak naik turun dengan cepat. Nafasnya berpacu dengan sesuatu yang ia sendiri pun tidak mengerti. Wooyoung benci gelap, namun entah mengapa sejak hari kemarin rasa takut itu seakan tiba-tiba menghilang begitu saja.
Lihatlah bagaimana Wooyoung yang diam saja ketika ia dikurung didalam sebuah kamar kotor tanpa cahaya. Wooyoung tidak lagi menangis, ia juga tidak lagi menjerit putus asa. Mungkin karena memang ia juga sudah tidak lagi mengharapkan keajaiban apapun. Lebih tepatnya sudah pasrah.
Wooyoung tidak merasa asing dengan situasi ini karena toh ia sudah pernah mengalami hal yang sama dulu. Kenangan masa lalu yang berusaha Wooyoung kubur jauh-jauh perlahan kembali terulang seolah semua hak ini memang sudah di takdirkan mutlak menjadi jalan hidupnya. Betapa bodohnya Wooyoung yang selalu berusaha lari, lihatlah dirinya sekarang. Ia kembali lagi pada bajingan itu. Ingat, dengan kedua kakinya sendiri.
Tubuh kurus Wooyoung meringkuk di bawah tempat tidur, memeluk kedua lututnya, melamun dengan pandangan kosong. Entahlah, Wooyoung juga tidak tahu lagi apa yang sedang ia pikirkan.
Tubuh Wooyoung terdapat beberapa lebam bekas pukul dan jejak menjijikkan hasil perbuatan pria bajingan bernama Seo Changbin. Tidak terlalu terkejut, karena Wooyoung sendiri bahkan sudah menebak ini diluar kepala sebelum ia memutuskan untuk menyerahkan dirinya kembali pada pria itu.
Bibir Wooyoung bengkak dan terdapat luka sobek dibagian sudutnya, tentu saja karena itu ulah Changbin juga. Seluruh tubuhnya sudah ditandai oleh bajingan itu hanya dalam semalam. Kata 'pelacur' yang berusaha Wooyoung tepis jauh kini sudah pantas bersanding dibelakang namanya.
Jung 'pelacur' Wooyoung.
Changbin berhasil, pria itu sudah berhasil meraih semua keinginannya. Changbin berhasil membalas dendamnya pada Wooyoung. Changbin berhasil menghancurkan hidup Wooyoung untuk yang kedua kalinya—berkali-kali lipat lebih hancur.
Berulang kali Wooyoung hanya bisa tertawa getir seperti orang gila. Ia sedang mentertawakan hidup dan jalan takdirnya yang terdengar begitu ironis.
Penyesalan ? Wooyoung tidak mengerti arta kata itu. Marah ? Wooyoung juga tidak tahu. Sedih ? Wooyoung merasa bola matanya sudah terlalu kering untuk menangis. Wooyoung benar-benar sudah belajar untuk menerima seluruh takdir kehidupannya dengan lapang dada—mungkin.
Wooyoung sudah lelah untuk melarikan diri. Terlalu lelah juga untuk meratapi dirinya sendiri. Kalau Wooyoung bisa belajar menerima kenyataan, mungkin Tuhan akan sedikit berbaik hati untuk mencabut nyawanya jauh lebih cepat. Iya kan ?
Ya. Wooyoung ingin mati. Kalau bisa, ia ingin segera menghilang dari dunia ini, secepatnya.
Jangan bilang Wooyoung tidak mencoba. Ia sudah mengancam akan membunuh dirinya sendiri di depan Changbin, namun pria itu sama sekali tidak termakan aksinya. Pria itu melemahkannya begitu mudah, menerjangnya, lalu melecehkan dirinya berkali-kali sampai rasanya Wooyoung sudah mati rasa. Ia tidak merasakan kesakitan apapun saat Changbin menghujam tubuhnya dengan kasar, menamparnya, mencekik lehernya. Bajingan itu selalu punya fantasi aneh dan ia selalu suka saat Wooyoung yang terus memohon ampun padanya.
Sayang sekali, Wooyoung bahkan sudah tidak tahu lagi bagaimana cara memohon yang benar.
Changbin memperkosa Wooyoung sampai ia kehilangan kesadarannya. Saat terbangun, hari sudah berganti, dan dirinya terkunci di dalam ruangan sempit menyesakkan ini. Jujur saja, Wooyoung sudah menantikan sebuah rantai besi panjang untuk mengikat kedua kakinya, namun mungkin bajingan gila itu sedang sedikit berbaik hati dengan hanya mengurungnya di kamar.
![Desire | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/356043060-64-k87004.jpg)