Ch.61 - Please, Come Back To Me

1.4K 122 10
                                        

Air menetes setitik demi setitik dari surai hitam Wooyoung. Pakaian basahnya kini sudah terganti dengan yang baru. Wooyoung sedang duduk ditepi ranjang dengan kaki pendek tergantung di udara ia biarkan mengayun-ayun bosan. Mata Wooyoung jatuh ke bawah, memperhatikan bekas perban yang melilit telapak kakinya kini sudah tidak beraturan dengan bercak noda darah dan terlihat sudah dekil.

Awalnya Wooyoung tidak merasakan sakit, tapi perlahan ia mulai merasa seperti ada jarum-jarum kecil yang menusuk-nusuk kulit kakinya—perih.

Oh, mungkin setelah ini Wooyoung akan meminta seorang suster untuk mengganti bekas perbannya.

Seret pintu terbuka yang berbunyi mengalihkan perhatian Wooyoung. Dirinya kembali mematung ketika melihat seorang pria berjalan mendekatinya.

Itu dia—Choi San.

Pria itu datang setelah berganti pakaian. Sebuah handuk kecil masih tersampir dilehernya. Rambut San juga basah total setelah mandi hujan bersama Wooyoung tadi. Kedua netra hitam mereka sempat bertemu, hanya untuk beberapa detik saja, karena Wooyoung lebih dulu memalingkan wajah sengaja menghindarnya. Setelah apa yang terjadi diantara mereka beberapa menit lalu, Wooyoung merasa dirinya terlalu gugup berhadapan dengan pria itu. Rasanya seperti sudah sangat lama ia tidak melihat San dari jarak yang dekat dan ini sedikit canggung.

"Kenapa kau tidak mengeringkan rambutmu ?"

Suara lembut itu menyapa indera pendengaran Wooyoung, San sedang berdiri tepat dihadapannya sekarang. Kedua lutut mereka saling bersentuhan dan Wooyoung bisa merasakan hawa hangat San yang berada dekat dengannya. Pria itu tidak terlalu banyak bicara, Wooyoung juga tidak mengangkat wajah untuk bersitatap mata. Perlahan Wooyoung merasakan sesuatu yang mengacak-acak puncak kepalanya, San mengeringkan rambut basahnya.

Wooyoung menggigit bibir bawahnya untuk tidak berteriak. Kedua tangan Wooyoung meremas erat ujung bajunya. Bohong kalau Wooyoung bilang ia tidak menyukai afeksi dari San. Jujur saja, jantung Wooyoung masih berdetak dengan cepat saat pria itu menyentuhnya. Sama ketika San memeluknya tadi, desiran aneh yang membuat Wooyoung tidak karuan karena berdebar masih sama seperti dulu.

Dan Wooyoung merindukan itu.

Wooyoung tidak tahu reaksi seperti apa yang harus ia tunjukkan saat ini. Moment ketika Wooyoung menangis didalam dekapan San beberapa saat lalu adalah sesuatu yang tidak akan pernah ia lupakan sepanjang hidupnya. Pada detik itu Wooyoung sadar betapa ia sangat mencintai San. Pada detik itu kenyataan yang pahit bahwa Wooyoung sangat membutuhkan San menamparnya dengan keras.

Wooyoung ingin mengakhiri hidupnya.

Itu benar.

Wooyoung berniat menerjunkan dirinya dari lantai teratas rumah sakit kalau San tidak segera datang menyelamatkannya. Percayalah, Wooyoung benar-benar berpikir itu adalah keputusan terbaik yang bisa ia lakukan untuk meluapkan seluruh seluruh rasa sakitnya. Wooyoung hanya lelah, sangat lelah.

Wooyoung tidak bisa berpikir jernih. Setiap saat Wooyoung ingin mengistirahatkan pikirannya, hanya bayang-bayang bajingan itu yang ada dalam benaknya. Wooyoung tidak ingin mengakui ini, tapi setiap saat, setiap detik, ia membenci dirinya sendiri karena itu. Wooyoung tidak tahan lagi.

Tapi ketika San datang.

Disaat pria itu berlari memeluknya, sesuatu yang Wooyoung tahan meluap begitu saja. Wooyoung hanya ingin menangis dan melampiaskan seluruh rasa sesaknya pada pria itu. Saat San mendekapnya dengan erat, Wooyoung baru bisa merasakan yang namanya ketenangan. Segala ketakutan Wooyoung yang menghantuinya setiap waktu perlahan hilang sedikit demi sedikit saat San berada didekatnya.

Seperti sekarang.

Wooyoung akui. Tidak peduli seberapa keras ia mencoba menjauhi San, hatinya tidak akan pernah bisa berbohong kalau ia masih sangat mencintai pria itu. Tidak peduli seberapa keras Wooyoung berusaha untuk menutup dirinya untuk tidak lagi berhubungan dengan siapapun, ia masih ingin dan membutuhkan kehadiran San ada disampingnya.

Desire | WOOSAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang