Ch.64 - Putus ? (2)

1.3K 95 10
                                        

"Dimana San ?" Yunho menoleh bingung karena tidak menemukan sosok Choi San yang ia cari. Di bangku panjang di depan kamar Wooyoung, hanya ada Mingi seorang diri. "Kau tahu dia kemana ?"

Pria itu menggelengkan kepala. "Saat aku kembali dari kamar mandi dia sudah tidak ada. Aku justru mengira dia sedang ada di dalam bersamamu. Apa dia pergi sebentar untuk menenangkan diri ? Raut wajahnya memang tidak terlihat baik saja setelah  Wooyoung mengusirnya tadi. Lebih baik biarkan saja dia sendiri lebih dulu, dia pasti akan kembali." 

Yunho menganggukkan kepala tanda mengerti.

Tidak ada lagi perbincangan di antara mereka, suasana menjadi begitu canggung setelahnya.

Sejak malam pertama dimana mereka menemukan Wooyoung, Yunho dan Mingi belum punya waktu untuk berbicara—berdua. Ya, kalau pun ada, bahan obrolan mereka hanya berulang seputar Wooyoung dan San, Wooyoung dan San. Tidak ada waktu bagi mereka saling bertukar pikiran tentang hubungan mereka. Pemuda itu selalu sibuk mengkhawatirkan bagaimana perkembangan keadaan sahabatnya itu, Jung Wooyoung dan mengabaikan kondisi Mingi.

Disatu sisi, Mingi pun melakukan hal sama, ia juga tidak ingin mencoba menggapai Yunho lebih dulu atau sekedar mengajaknya berbicara empat mata.

Keduanya tidak sedang saling menghindar, hanya saja insting mereka secara alami memilih untuk tidak saling memulai percakapan satu sama lain.

Keduanya bertingkah bodoh, seolah tidak ada yang terjadi. Padahal sebenarnya, Yunho dan Mingi juga sama-sama sudah tahu, kalau mereka, berantakan.

"Eh, k–kau sudah makan ?" tanya Mingi. Ia berdiri salah tingkah ditempatnya. "Bagaimana kalau kita turun ke bawah sebentar untuk membeli kopi dan sarapan ? Diseberang rumah sakit ada coffee shop."

Yunho tahu, Mingi sedang berusaha memperbaiki hubungan mereka, hanya saja ia belum siap untuk obrolan tiba-tiba seperti ini. Yunho belum sempat menyusun kalimat yang tepat, ia takut terlalu larut dalam emosi nanti akan membuatnya mengatakan sesuatu yang sebenarnya bukan keinginannya. Dan Yunho tidak ingin menyesali itu, jadi ia menolak.

"Tidak sekarang, Wooyoung sedang sendirian, aku harus menemaninya disini sampai San kembali."

Tidak sepenuhnya berbohong juga karena Yunho memang benar-benar khawatir kalau membiarkan Wooyoung sendirian, tapi dari raut wajah Mingi, pria itu nampak kecewa mendengar jawabannya.

"Hanya sebentar, Wooyoung akan baik-baik saja."

Pemuda tinggi itu menggelengkan kepala, menolak dengan pasti. "Tidak, Wooyoung itu tidak boleh di tinggal sendirian, meskipun hanya sebentar saja."

Yunho hendak berbalik kembali masuk ke ruangan Wooyoung, tapi cengkraman dipergelangan tangan menghentikannya. Bukan cengkraman kasar yang membuat Yunho merintih kesakitan, tapi ia mulai merasakan amarah Mingi dari sentuhan pria itu.

Rahang Mingi mengeras, sorot matanya berubah tajam seolah menuntut Yunho untuk tetap tinggal. Ia bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Aku harap kau tidak lupa kalau masih ada hal penting yang harus kita bahas ?" hardik Mingi.

"Aku tidak lupa, tapi aku rasa sekarang bukan waktu yang tepat. Wooyoung membutuhkanku."

"Wooyoung ? Lalu bagaimana denganku ? Aku juga membutuhkanmu. Kalau bukan sekarang, kapan ?"

Yunho menepis cengkraman Mingi kesal. "Jangan menyamakan kondisimu dengannya, kalian berdua jelas berbeda. Apa kau tidak berpikir kata-katamu barusan terlalu kekanak-kanakkan ? Aku kecewa."

"Kau jelas tahu bukan seperti itu maksudku." Pria itu menggeram rendah. "Aku hanya ingin kau bisa berhenti menggunakan Wooyoung sebagai alasan untuk menghindar. Sampai kapan aku harus terus sabar menunggu ? Aku tahu Wooyoung itu penting untukmu, tapi apa aku sama sekali tidak punya hak untuk meminta waktu, meskipun hanya sebentar ?"

Desire | WOOSAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang