Ch.34 - Thankyou

2.1K 134 7
                                        

San bersandar pada meja pantry, netra hitamnya mengikuti setiap gerak gerik Wooyoung dalam diam. Tidak ada yang aneh memang, hanya saja kejadian kemarin malam masih meninggalkan misteri untuknya. Wooyoung terlihat baik-baik saja, bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Pemuda itu bangun lebih awal dari San, dan kini sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Pertanyaan demi pertanyaan tertahan diujung kerongkongan San. Mereka akan pergi berkencan hari ini, ia tidak ingin merusak suasana.

"Dimana kau meletakkan piring-piring kecil ?"

San yang sedang melamun tersontak kaget pada tempatnya. "Hah ? Apa ? Maaf, aku tidak dengar."

Wajah cerah Wooyoung tersenyum manis melihat reaksi kekasihnya itu. "Kau melamun. Aku tanya dimana kau meletakkan piring-piring kecil ? Aku ingin membuat saus untuk bibimmyeon-nya."

"Oh itu, ada dilemari atas."

San mengambilnya, dua piring putih berukuran kecil yang hampir tidak pernah ia sentuh selama ini. San berdiri tepat dibelakang Wooyoung, masih memperhatikan punggung pemuda itu yang fokus pada berbagai macam bumbu dapur dimeja. Entah mengapa ia selalu ingin merengkuhnya setiap saat.

Pemuda itu terlihat begitu—rapuh ?

"Tunggu sebentar, setelah ini sarapannya selesai."

Wooyoung berucap pada San yang melingkarkan pelukan dipinggangnya. Pria itu bersandar pada bahu Wooyoung, mengendus lehernya seperti anak kucing sembari meninggalkan kecupan-kecupan kecil diperpotongan tengkuknya dengan manja.

"Young-ah," panggil San.

"Hmm ?"

"Kau tahu aku mencintaimu kan ?"

"Tsk, apapun itu, jawabannya tetap tidak boleh. Kita akan pergi kepantai hari ini, kau sudah janji padaku." Wooyoung memang tidak tahu apa yang San inginkan, tapi setidaknya ia bisa menerka apa yang pria itu pikirkan. "Kita sudah melakukan itu kemarin malam, aku tidak ingin hari liburku hanya dihabiskan dengan tidur seharian di atas ranjang."

Pria itu tersenyum mesum dibelakang Wooyoung. "Tidak, bukan tentang itu. Yah, meskipun aku juga sempat memikirkannya, tapi bukan itu yang aku inginkan. Kenapa kau selalu menuduh seolah isi otakku hanya hal-hal kotor seperti itu, Young-ah."

"Karena kau memang begitu."

San berdecak tidak terima, ia memutar tubuh mungil pemuda itu untuk menghadapnya.

"Sayang, dengar. Aku benar-benar mencintaimu, bahkan kalau kau tidak ingin aku menyentuhmu aku juga tidak akan melakukannya. Jadi tolong jangan berpikir kalau aku sengaja mendekatimu hanya karena sesuatu seperti hubungan badan."

"Ah, kau ... marah ? Maaf, tapi maksudku bukan begitu, aku hanya bercanda," sesal Wooyoung.

San menghela nafas, wajahnya tertunduk lemas membuat Wooyoung khawatir kalau pria itu benar-benar marah padanya. Berbagai macam pikiran kemungkinan terburuk menghantui Wooyoung, kekhawatirannya memuncak. Bagaimana kalau San tiba-tiba berubah seperti bajingan itu ?

"Tidak sayang, aku tidak marah. Aku tidak akan bisa marah padamu," ucap San, netra sendunya menelisik wajah Wooyoung. "Aku, ... aku hanya ingin kau percaya dan lebih terbuka padaku."

"A–aku percaya padamu."

Pria itu menggeleng. "Aku tahu kau masih ragu akan sesuatu. Meskipun aku juga tidak tahu pasti itu apa, tapi aku bisa merasakannya dari sikapmu."

"San-ah, aku— "

"Sebenarnya aku tidak ingin menanyakan ini, tapi aku rasa aku harus mengatakannya karena kau mulai membuatku khawatir," San menangkup pipi pemuda itu untuk bersitatap mata. "Young-ah, apa ada sesuatu yang tidak aku tahu terjadi padamu ?"

Desire | WOOSAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang